Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Dalil Shahih, Tidak Ada Doa Bersama

datariau.com
3.231 view
Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Dalil Shahih, Tidak Ada Doa Bersama

DATARIAU.COM - Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah berdasarkan keumuman perintah Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam untuk menyalati jenazah seorang muslim. Dari Abu Hurairah radhiallahuโ€™anhu, ia berkata:


ุฃู†?'ูŽ ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„?'ูŽู…ูŽ ูƒุงู† ูŠูุคุชู‰ ุจุงู„ุฑุฌู„ู ุงู„ู…ูŠุชู ุŒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฏูŠู† . ููŠุณุฃู„ ( ู‡ู„ ุชุฑูƒ ู„ุฏูŽูŠู†ู‡ ู…ู† ู‚ุถุงุกู ุŸ ) ูุฅู† ุญุฏุซ ุฃู†ู‡ ุชุฑูƒ ูˆูุงุกู‹ ุตู„?'ูŽู‰ ุนู„ูŠู‡ . ูˆุฅู„ุง ู‚ุงู„ ( ุตู„?'ููˆุง ุนู„ู‰ ุตุงุญุจููƒู…)


Rasulullah Shallallahu โ€™alaihi Wa sallam pernah didatangkan kepada beliau jenazah seorang lelaki. Lelaki tersebut masih memiliki hutang. Maka beliau bertanya: โ€œApakah ia memiliki harta peninggalan untuk melunasi hutangnya?โ€. Jika ada yang menyampaikan bahwa orang tersebut memilikiharta peninggalan untuk melunasi hutangnya, maka Nabi pun menyalatkannya. Jika tidak ada, maka beliau bersabda: โ€œShalatkanlah saudara kalianโ€ (HR Muslim no. 1619).


Bahkan dianjurkan sebanyak mungkin kaum Muslimin menshalatkan orang yang meninggal, agar ia mendapatkan syafaโ€™at.

Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda:


ู…ูŽุง ู…ูู†?' ู…ูŽูŠ?'ูุชู ุชูุตูŽู„?'ููŠ ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู ุฃูู…?'ูŽุฉูŒ ู…ูู†?' ุงู„?'ู…ูุณ?'ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูŠูŽุจ?'ู„ูุบููˆู†ูŽ ู…ูุงุฆูŽุฉู‹ ูƒูู„?'ูู‡ูู…?' ูŠูŽุด?'ููŽุนููˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฅูู„?'ูŽุง ุดูู?'ูุนููˆุง ูููŠู‡ู


โ€œTidaklah seorang Muslim meninggal,lalu dishalatkan oleh kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seratus orang, semuanya mendoโ€™akan untuknya, niscaya mereka bisa memberikan syafaโ€™at untuk si mayitโ€ (HR. Muslim no. 947).


Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam juga bersabda:


ู…ูŽุง ู…ูู†?' ุฑูŽุฌูู„ู ู…ูุณ?'ู„ูู…ู ูŠูŽู…ููˆุชู ููŽูŠูŽู‚ููˆู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽู†ูŽุงุฒูŽุชูู‡ู ุฃุฑ?'ุจูŽุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงุŒ ู„ุง ูŠูุด?'ุฑููƒููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‡ ุดูŽูŠ?'ุฆุงู‹ ุฅูู„ุง ุดูŽู?'ูŽุนูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ู ูููŠู‡ู


โ€œTidaklah seorang Muslim meninggal, lalu dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, kecuali Allah akan memberikan syafaat kepada jenazah tersebut dengan sebab merekaโ€ (HR. Muslim no. 948).


Tata Cara Shalat Jenazah


1. Posisi berdiri


Imam berdiri sejajar dengan kepala mayit lelaki dan bila mayitnya wanita, imam berdiri di bagian tengahnya. Makmum berdiri di belakang imam. Sebagaimana dalam hadits Abu Ghalib:


ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ุงุกู ุจู† ุฒูŠุงุฏ: ูŠุง ุฃุจุง ุญู…ุฒุฉูŽุŒ ู‡ูƒุฐุง ูƒุงู†ูŽ ูŠูุนูŽู„ู ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„?'ูŽู…ุ› ูŠูุตู„?'ููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ ูƒุตู„ุงุชููƒุŒ ูŠููƒุจ?'ูุฑ ุนู„ูŠู‡ุง ุฃุฑุจุนู‹ุงุŒ ูˆูŠู‚ูˆู…ู ุนู†ุฏ ุฑุฃุณ ุงู„ุฑ?'ูŽุฌูู„ู ูˆุนุฌูŠุฒุฉู ุงู„ู…ุฑุฃุฉุŸ ู‚ุงู„: ู†ุนู…


โ€œAl โ€˜Ala bin Ziyad mengatakan: wahai Abu Hamzah (Anas bin Malik), apakahpraktek Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam dalam shalat jenazah seperti yang engkau lakukan? Bertakbir 3 kali, berdiri di bagian kepala lelaki dan di bagian tengah wanita? Anas bin Malik menjawab: iyaโ€ (HR. Abu Daud no. 3194, At Tirmidzi no. 1034, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).


2. Jumlah shaf


Sebagian ulama menganjurkan untuk membuat tiga shaf (barisan) walaupun shaf pertama masih longgar. Berdasarkan hadits:


ู…ูŽู†?' ุตูŽู„?'ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ุตููููˆูู ููŽู‚ูŽุฏ?' ุฃูŽูˆ?'ุฌูŽุจูŽ


โ€œBarangsiapa yang menshalatkan jenazah dengan membuat tiga shaf, maka wajib baginya (mendapatkan ampunan)โ€ (HR. Tirmidzi no. 1028).


Ulama khilaf mengenai derajat hadits ini. Pokok permasalahannya adalah pada perawi bernama Muhammad bin Ishaq Al Qurasyi yang merupakan seorang mudallis, dan dalam hadits ini ia melakukan โ€˜anโ€™anah. Ada pembahasan di antara para ulama mengenai โ€˜anโ€™anah Ibnu Ishaq.


Wallahu aโ€™lam, hadits ini lemah karena โ€˜anโ€™anah Ibnu Ishaq. Sebagaimana Syaikh Al Albani dalam Dhaโ€™if Al Jamiโ€˜ (no. 5668) menyatakan hadits ini lemah.


Maka yang menjadi ibrah (hal yang diperhatikan) adalah banyaknya jumlah orang yang menyalati sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim, bukan sekedar jumlah tiga shaf.


3. Jumlah takbir dan mengangkat tangan


Takbir shalat jenazah sebanyak empat kali. Ulama ijma akan hal ini. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahuโ€™anhu:


ุฃู†?'ูŽ ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุตู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„?'ูŽู… ุตู„?'ูŽู‰ ุนู„ู‰ ุฃูŽุต?'ุญู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู†ุฌุงุดูŠ?'ูุŒ ููƒุจ?'ูŽุฑ ุนู„ูŠู‡ ุฃุฑุจุนู‹ุง


โ€œRasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam menshalati Ash-hamah An Najasyi, beliau bertakbir empat kaliโ€ (HR. Bukhari no. 1334, Muslim no. 952).


Ulama ijma mengenai disyariatkannya mengangkat tangan untuk takbir yang pertama. Ibnu Mundzir mengatakan:


ุฃุฌู…ูŽุนูˆุง ุนู„ู‰ ุฃู†?'ูŽ ุงู„ู…ุตู„?'ููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒูŽุฉ ูŠุฑูุน ูŠุฏูŠู‡ ููŠ ุฃูˆ?'ูŽู„ ุชูƒุจูŠุฑุฉ ูŠููƒุจ?'ูุฑู‡ุง


โ€œUlama ijma bahwa orang yang shalat jenazah disyartiatkan mengangkat tangan di takbir yang pertamaโ€ (Al Ijma, 44).


Namun mereka khilaf mengenai mengangkat tangan untuk takbir selainnya. Yang rajih, disunnahkan untuk mengangkat tangan dalam setiap takbir dalam shalat jenazah. Berdasarkan riwayat dari Nafiโ€™ tentang Ibnu Umar radhiallahuโ€™anhu, Nafiโ€™ berkata:


ูƒุงู† ูŠุฑูุนู ูŠูŽุฏูŠู‡ู ููŠ ูƒู„?'ู ุชูƒุจูŠุฑุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ


โ€œIbnu Umar radhiallahuโ€™anhu mengangkat tangannya di setiap kali takbir dalam shalat jenazahโ€ (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [11498], dihasankan Syaikh Ibnu Baz dalam Taโ€™liq beliau terhadap Fathul Baari [3/227]).


Juga riwayat dari Ibnu Abbas:


ุฃู†?'ูŽู‡ ูƒุงู† ูŠุฑูุนู ูŠูŽุฏูŠู‡ู ููŠ ุชูƒุจูŠุฑุงุชู ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ


โ€œBahwasanya beliau biasa mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir di shalat jenazahโ€ (dishahihkan Ibnu Hajar dalam Talkhis Al Habir, 2/291).


4. Tempat shalat jenazah


Shalat jenazah lebih utama dilakukan di luar masjid. Sebagaimana yang umum dilakukan di zaman Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam. Dari Abu Hurairah radhiallahuโ€™anhu, ia berkata:


ุฃูŽู†?'ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„?'ูŽู‡ู ุตูŽู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„?'ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„?'ูŽู…ูŽ ู†ูŽุนูŽู‰ ุงู„ู†?'ูŽุฌูŽุงุดููŠ?'ูŽ ูููŠ ุงู„?'ูŠูŽูˆ?'ู…ู ุงู„?'ูŽุฐููŠ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠู‡ู ุŒ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„?'ู…ูุตูŽู„?'ูŽู‰ ููŽุตูŽู?'ูŽ ุจูู‡ูู…?' ุŒ ูˆูŽูƒูŽุจ?'ูŽุฑูŽ ุฃูŽุฑ?'ุจูŽุนู‹ุง


โ€œRasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam mengumumkan kematian An Najasyi di hari ia wafat. Kemudian beliau keluar ke lapangan lalu menyusun shaf untuk shalat, kemudian bertakbir empat kaliโ€ (HR. Bukhari no.1245).


Namun boleh juga dikerjakan di dalam masjid. Dari Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, ia berkata:


ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุง ุตูŽู„?'ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„?'ูŽู‡ู ุตูŽู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„?'ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„?'ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูู‡ูŽูŠ?'ู„ู ุจ?'ู†ู ุจูŽูŠ?'ุถูŽุงุกูŽ ูˆูŽุฃูŽุฎููŠ?'ู‡ู ุฅูู„?'ูŽุง ูููŠ ุงู„?'ู…ูŽุณ?'ุฌูุฏู


โ€œDemi, Allah! Tidaklah Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam menyalatkan jenazah Suhail bin Baidhaโ€™ dan saudaranya (Sahl), kecuali di masjidโ€ (HR Muslim no. 973).


Dibolehkan bagi orang yang belum sempat menshalatkan jenazah sebelum dikuburkan, lalu ia melakukan shalat jenazah di pemakaman. Sebagaimana dalam riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahuโ€™anhuma:


ู…ูŽุงุชูŽ ุฅูู†?'ุณูŽุงู†ูŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„?'ูŽู…ูŽ ูŠูŽุนููˆุฏูู‡ูุŒ ููŽู…ูŽุงุชูŽ ุจูุงู„ู„?'ูŽูŠ?'ู„ู ููŽุฏูŽููŽู†ููˆู‡ู ู„ูŽูŠ?'ู„ู‹ุงุŒ ููŽู„ูŽู…?'ูŽุง ุฃูŽุต?'ุจูŽุญูŽ ุฃูŽุฎ?'ุจูŽุฑููˆู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู…ูŽุง ู…ูŽู†ูŽุนูŽูƒูู…?' ุฃูŽู†?' ุชูุน?'ู„ูู…ููˆู†ููŠุŸยป ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ยซูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„?'ูŽูŠ?'ู„ู ููŽูƒูŽุฑูู‡?'ู†ูŽุง ู€ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽุช?' ุธูู„?'ู…ูŽุฉูŒ ู€ ุฃูŽู†?' ู†ูŽุดูู‚?'ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠ?'ูƒูŽยปุŒ ููŽุฃูŽุชูŽู‰ ู‚ูŽุจ?'ุฑูŽู‡ู ููŽุตูŽู„?'ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู


โ€œSeseorang yang biasa dikunjungi Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam telah meninggal. Ia meninggal di malam hari, maka ia pun dikuburkan di malam hari. Ketika pagi hari tiba, para sahabat mengabarkan hal ini kepada Rasulullah. Beliau pun bersabda: apa yang menghalangi kalian untuk segera memberitahukan aku? Para sahabat menjawab: ketika itu malam hari, kami tidak ingin mengganggumu wahai Rasulullah. Maka beliau pun mendatangi kuburannya dan shalat jenazah di sanaโ€ (HR. Bukhari no. 1247).
Demikian juga dalam riwayat Muslim:


ุงู†?'ุชูŽู‡ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„?'ูŽู…ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูŽุจ?'ุฑู ุฑูŽุท?'ุจูุ› ููŽุตูŽู„?'ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠ?'ู‡ู ูˆูŽุตูŽู?'ููˆุง ุฎูŽู„?'ููŽู‡ู ูˆูŽูƒูŽุจ?'ูŽุฑูŽ ุฃูŽุฑ?'ุจูŽุนู‹ุง


โ€œRasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam pernah berhenti di sebuah kuburan yang masih basah. Ia shalat (jenazah) di sana dan menyusun shaf untuk shalat. Beliau bertakbir empat kaliโ€ (HR. Muslim no. 954).


5. Tata cara shalat


Pertama, niat shalat jenazah. Dan niat adalah amalan hati tidak perlu dilafalkan.
Kedua, takbir yang pertama, membaca taโ€™awwudz kemudian Al Fatihah. Berdasarkan keumuman hadits:


ู„ุง ุตู„ุงุฉูŽ ู„ูู…ูŽู† ู„ู… ูŠู‚ุฑุฃ?' ุจูุงุชุญุฉู ุงู„ูƒุชุงุจู


โ€œTidak ada shalat yang tidak membaca Al Fatihahโ€ (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394).


Kemudian riwayat dari Thalhah bin Abdillah bin Auf, ia berkata:


ุตู„ูŠุชู ุฎู„ููŽ ุงุจู†ู ุนุจ?'ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„?'ูŽู‡ู ุนู†ู‡ู…ุง ุนู„ู‰ ุฌูู†ุงุฒุฉุŒ ูู‚ุฑูŽุฃูŽ ุจูุงุชุญุฉู ุงู„ูƒุชุงุจูุŒ ู‚ุงู„: ู„ููŠูŽุน?'ู„ู…ูˆุง ุฃู†?'ูŽู‡ุง ุณูู†?'ูŽุฉูŒ


โ€œAku shalat bermakmum kepada Ibnu Abbas radhiallahuโ€™anhu dalam shalat jenazah. Beliau membaca Al Fatihah. Beliau lalu berkata: agar mereka tahu bahwa ini adalah sunnah (Nabi)โ€ (HR. Bukhari no. 1335).


Dan tidak perlu membaca doโ€™a istiftah / iftitah sebelum Al Fatihah.


Ketiga, takbir yang kedua, kemudian membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Berdasarkan hadits dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahuโ€™anhu:


ุฃู†?'ูŽ ุงู„ุณ?'ูู†?'ูŽุฉูŽ ููŠ ุงู„ุต?'ูŽู„ุงุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ ุฃู† ูŠููƒุจ?'ูุฑูŽ ุงู„ุฅู…ุงู…ูุŒ ุซู… ูŠู‚ุฑุฃูŽ ุจูุงุชุญุฉู ุงู„ูƒุชุงุจู- ุจุนุฏูŽ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰- ุณูุฑ?'ู‹ุง ููŠ ู†ู?'ุณูู‡ุŒ ุซู… ูŠูุตู„?'ููŠูŽ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ?'ู ุตู„?'ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„?'ูŽู…ุŒ ูˆูŠูุฎู„ูุตูŽ ุงู„ุฏ?'ูุนุงุกูŽ ู„ู„ู…ูŠ?'ูุช ููŠ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑุงุชูุŒ ู„ุง ูŠู‚ุฑุฃู ูู‰ ุดู‰ุกู ู…ู†ู‡ู†?'ูŽุŒ ุซู… ูŠูุณู„?'ูู…


โ€œBahwa sunnah dalam shalat jenazah adalah imam bertakbir kemudian membaca Al Fatihah (setelah takbir pertama) secara sirr (lirih), kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam, kemudian berdoa untuk mayit setelah beberapa takbir. Kemudian setelah itu tidak membaca apa-apa lagi setelah itu. Kemudian salamโ€ (HR. Asy Syafiโ€™i dalam Musnad-nya [no. 588], Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra [7209], dishahihkan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz [155]).


Keempat, takbir yang ketiga, kemudian membaca doa untuk mayit. Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas. Diantara doa yang bisa dibaca adalah:


ุงู„ู„?'ูŽู‡ูู…?'ูŽ ุงุบ?'ููุฑ?' ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุฑ?'ุญูŽู…?'ู‡ู ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู ูˆูŽุงุน?'ูู ุนูŽู†?'ู‡ู ูˆูŽุฃูŽูƒ?'ุฑูู…?' ู†ูุฒูู„ูŽู‡ู ูˆูŽูˆูŽุณ?'ูุน?' ู…ูุฏ?'ุฎูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุบ?'ุณูู„?'ู‡ู ุจูุงู„?'ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุซ?'ูŽู„?'ุฌู ูˆูŽุงู„?'ุจูŽุฑูŽุฏู ูˆูŽู†ูŽู‚?'ูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„?'ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ู†ูŽู‚?'ูŽูŠ?'ุชูŽ ุงู„ุซ?'ูŽูˆ?'ุจูŽ ุงู„?'ุฃูŽุจ?'ูŠูŽุถูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏ?'ูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุฃูŽุจ?'ุฏูู„?'ู‡ู ุฏูŽุงุฑู‹ุง ุฎูŽูŠ?'ุฑู‹ุง ู…ูู†?' ุฏูŽุงุฑูู‡ู ูˆูŽุฃูŽู‡?'ู„ู‹ุง ุฎูŽูŠ?'ุฑู‹ุง ู…ูู†?' ุฃูŽู‡?'ู„ูู‡ู ูˆูŽุฒูŽูˆ?'ุฌู‹ุง ุฎูŽูŠ?'ุฑู‹ุง ู…ูู†?' ุฒูŽูˆ?'ุฌูู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฏ?'ุฎูู„?'ู‡ู ุงู„?'ุฌูŽู†?'ูŽุฉูŽ ูˆูŽุฃูŽุนูุฐ?'ู‡ู ู…ูู†?' ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„?'ู‚ูŽุจ?'ุฑู ูˆูŽู…ูู†?' ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู†?'ูŽุงุฑู


โ€œYa Allah, berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab nerakaโ€ (HR Muslim no. 963).


ุงู„ู„?'ูŽู‡ูู…?'ูŽ ุงุบ?'ููุฑ?' ู„ูุญูŽูŠ?'ูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽูŠ?'ูุชูู†ูŽุง ูˆูŽุดูŽุงู‡ูุฏูู†ูŽุง ูˆูŽุบูŽุงุฆูุจูู†ูŽุง ูˆูŽุตูŽุบููŠุฑูู†ูŽุง ูˆูŽูƒูŽุจููŠุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุฃูู†?'ุซูŽุงู†ูŽุง


โ€œYa Allah, ampunilah orang yang hidup di antara kami dan orang yang telah mati, yang hadir dan yang tidak hadir, (juga) anak kecil dan orang dewasa, lelaki dan wanita di antara kamiโ€ (HR At Tirmidzi no. 1024, ia berkata: โ€œhasan shahihโ€).

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)