Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Ajaran Nabi

Admin
2.409 view
Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Ajaran Nabi
Illustrasi

DATARIAU.COM - Shalat jenazah merupakan shalat fardhu kifayah. Keutamaan menyalatkan mayat sangat besar. Bagaimana tata caranya, berikut kami kupas tuntas sesuai dengan ajaran Nabi.

Pelaksanaan shalat jenazah dilakukan secara berjamaah dan diutamakan shafnya banyak 3 shaf atau lebih.

1. Melakukan takbiratul ihram (takbir pertama).

2. Tanpa perlu membaca istiftah langsung berta’aawudz (أَعُوّْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) dan membaca basmalah.

3. Diikuti dengan bacaan Al-Fatihah.

4. Melakukan takbir kedua dan diikuti dengan ucapan shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam semisal shalawat yang dibaca pada tasyahud akhir dalam shalat fardhu.

5. Melakukan takbir ketiga dan mendoakan si mayit dengan doa-doa yang terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.(*)

6. Selepas berdoa kemudian melakukan takbir terakhir (takbir keempat), boleh membaca do'a (*) atau hanya berhenti sejenak, lalu salam ke arah kanan dengan satu kali salam.

(*) Di antara yang bisa dibaca pada do’a setelah takbir ketiga:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

Allahummaghfirla-hu warham-hu wa ‘aafi-hi wa’fu ‘an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa a’idz-hu min ‘adzabil qobri wa ‘adzabin naar.

“Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963)

Catatan: Do’a di atas berlaku untuk mayit laki-laki. Jika mayit perempuan, maka kata –hu atau –hi diganti dengan –haa. Contoh “Allahummaghfirla-haa warham-haa …”. Do’a di atas dibaca setelah takbir ketiga dari shalat jenazah.

Do’a khusus untuk mayit anak kecil:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا

Allahummaj’ahu lanaa farothon wa salafan wa ajron

“Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”. (HR. Bukhari secara mu’allaq -tanpa sanad- dalam Kitab Al-Janaiz, 65 bab Membaca Fatihatul Kitab Atas Jenazah 2: 113)

(*) Do’a setelah takbir keempat:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّ بَعْدَهُ وَاغْفِرْلَناَ وَلَهُ

Allahumma laa tahrimnaa ajro-hu wa laa taftinnaa ba’da-hu waghfir lanaa wa la-hu

“Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia”.

Untuk mayit perempuan, kata –hu diganti –haa.

Setelah salam, maka usai sudah shalat jenazah, tidak ada lagi doa-doa atau zikir usai shalat jenazah. Segerakan mengangkat jenazah untuk dimakamkan.

Karena membaca doa atau zikir lagi setelah shalat jenazah tidak dijumpai adanya riwayat yang menganjurkan berdoa setelah shalat jenazah. Semua doa yang diberikan kepada mayit, dibaca ketika shalat jenazah, dan setelah dimakamkan.

Jika ingin mendoakan mayit dengan doa yang banyak, hendaknya dilakukan ketika shalat jenazah. Sebagian ulama, seperti Syaikh Abu Umar Usamah al-Utaibi menegaskan bahwa membaca doa setelah shalat jenazah termasuk perbuatan bid’ah.
Beliau mengatakan,

فدعاء الإمَام بَعْدَ صلاة الجنازة بالمأمومين وتأمينهم عَلَى دعائه مِنَ البدع الشنيعة المحرمة، لأَنَّ النَّبِيّ صلى الله عَلَيْهِ وسلم إنما دل أمته عَلَى الدُّعَاء للميت أثناء الصَّلاة عَلَى الجنازة وبعد الفراغ مِنْ دفنه وخير الهدي هدي مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلَّم-

“Doa imam setelah shalat jenazah bersama makmum dan mereka mengaminkannya termasuk perbuatan bid’ah yang banyak tersebar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengajarkan kepada umatnya terkait doa bagi jenazah untuk dilakukan ketika shalat jenazah dan setelah setelah memakamkan mayit. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maka ketika amal ini tidak ada dicontohkan Nabi, meskipun menurut kebanyakan orang ini baik, maka kita tidak boleh mengamalkannya, sebab syarat diterimanya ibadah hanya 2, pertama ikhlas karena Allah Subahanahu wa Ta'ala dan kedua, sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Ketika mayat dimakamkan, maka doakanlah si mayat agar bisa terbebas dari azab kubur dan diberikan Allah kemudahan kepada si mayit untuk menjawab pertanyaan malaikat di kubur. Doa dilakukan masing-masing, bukan diwakilkan kepada seorang dan yang lain hanya mengaminkan.

Baca juga: Cara Lengkap Menyelenggarakan Jenazah Sesuai Sunnah

Penulis
: Abu Hanifa Agusri
Editor
: Ummu SH