Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung, PDIP Sampaikan Kritik Keras

datariau.com
154 view
Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung, PDIP Sampaikan Kritik Keras

JAKARTA, datariau.com - Momen Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menginjak kepala kerbau saat menerima gelar adat di Lampung menjadi perbincangan luas di media sosial. Potongan video dan foto prosesi tersebut memunculkan berbagai spekulasi, termasuk narasi yang mengaitkannya dengan simbol Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berlambang kepala banteng.

Menanggapi viralnya peristiwa itu, politikus PDIP Guntur Romli menyampaikan kritik keras. Ia menilai tindakan menginjak kepala hewan tersebut tidak pantas dan menyebutnya sebagai bentuk kesombongan. Menurutnya, dalam berbagai tradisi Nusantara, hewan yang dijadikan kurban umumnya diperlakukan dengan penuh penghormatan, bukan diinjak. Ia juga menegaskan bahwa lambang PDIP adalah banteng, bukan kerbau, sehingga tidak tepat jika prosesi adat tersebut secara langsung dikaitkan dengan simbol partainya.

Di sisi lain, sejumlah pihak mengingatkan agar prosesi adat tersebut tidak dipahami secara terpisah dari konteks budaya Lampung. Tokoh adat dan penyelenggara menjelaskan bahwa ritual menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari rangkaian penganugerahan gelar adat yang telah berlangsung turun-temurun dan memiliki makna filosofis, bukan simbol politik.

Baca juga:Safari Politik Jokowi Dinilai Berpotensi Ganggu Stabilitas Politik dan Ekonomi Nasional


Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (27/6/2026) di Kedaton Keagungan Lampung saat Jokowi menjalani safari politik sekaligus menghadiri sejumlah agenda budaya dan kemasyarakatan di Provinsi Lampung.

Dalam acara tersebut, Jokowi menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" dari para penyimbang adat Lampung. Sebelum gelar disematkan secara resmi, Jokowi mengikuti seluruh tahapan prosesi adat yang telah dipersiapkan panitia.

Salah satu tahapan prosesi adalah menginjak kepala kerbau yang sebelumnya telah disembelih sebagai bagian dari ritual adat. Setelah menjalankan prosesi tersebut, Jokowi kemudian menerima penyematan gelar adat, doa adat, serta penghormatan dari para tokoh adat yang hadir. Seluruh rangkaian berlangsung di hadapan tamu undangan, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum yang menyaksikan acara tersebut.

Baca juga:Roy Suryo dan dr Tifa Tidak Ditahan Kejaksaan, Begini Respons Jokowi


Namun, potongan video yang hanya menampilkan adegan Jokowi menginjak kepala kerbau kemudian beredar luas di media sosial. Sebagian warganet menilai bentuk kepala kerbau tersebut sekilas menyerupai banteng sehingga muncul berbagai tafsir politik yang menghubungkannya dengan hubungan Jokowi dan PDIP yang selama beberapa waktu terakhir diketahui memburuk.

Narasi yang berkembang di media sosial menyebut kepala kerbau yang diinjak Jokowi tampak menyerupai kepala banteng, simbol PDIP. Dari situ muncul spekulasi bahwa prosesi tersebut merupakan sindiran politik terhadap partai yang pernah mengusung Jokowi hingga menjadi Presiden.

Namun hingga kini tidak ada pernyataan dari pihak penyelenggara adat maupun tokoh adat Lampung yang menyebut prosesi tersebut memiliki kaitan dengan simbol partai politik tertentu. Prosesi itu dijelaskan murni sebagai bagian dari tata cara pemberian gelar adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca juga:Projo dan PSI Disebut Berebut Pengaruh Jokowi, Begini Faktanya


Dalam tradisi masyarakat adat Lampung Pepadun, kerbau memiliki nilai simbolik yang tinggi. Penyembelihan kerbau merupakan lambang pengorbanan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap tamu agung.

Ritual menginjak kepala kerbau menjadi penanda bahwa seseorang telah sah menerima kedudukan atau gelar adat tertentu. Prosesi tersebut juga dikaitkan dengan nilai Piil Pesenggiri, falsafah hidup masyarakat Lampung yang menekankan kehormatan, tanggung jawab, penghargaan terhadap tamu, dan persaudaraan.

Karena itu, para tokoh adat menegaskan bahwa tahapan tersebut merupakan simbol budaya dan tidak dimaksudkan sebagai pesan politik kepada pihak mana pun.

Baca juga:Kambing Jokowi Mulai Dikeluarkan dari Istana

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)