DATARIAU.COM - Islam adalah agama yang realistis. Ia tidak pernah melarang pemeluknya untuk menjadi kaya, berprestasi, atau menduduki jabatan tinggi. Sebaliknya, ayat-ayat Al-Qur'an seperti Surah Al-A'raf ayat 32 dan Surah Al-Mulk ayat 15 justru memotivasi kita untuk aktif bergerak, bekerja keras, dan menikmati rezeki yang baik (halalan toyyiban) di muka bumi.
Namun, garis pemisah antara "mencari nafkah yang mulia" dengan "terjebak dalam ketamakan" sangatlah tipis. Dalam sebuah hadits shahih yang dibahas oleh Ustadz Khalid Basalamah, Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat tajam:
"Tidaklah dua serigala lapar yang dibiarkan di kandang kambing lebih merusak baginya, daripada tamaknya seseorang atas harta dan kemuliaan (jabatan) yang merusak agamanya." (HR. Tirmidzi).
Baca juga:Ujian Kekayaan Jauh Lebih Berat Dibanding Ujian Kemiskinan
Bayangkan betapa hancurnya kawanan kambing yang dikurung bersama dua ekor serigala yang kelaparan. Seperti itulah gambaran rusaknya kualitas iman dan agama seseorang ketika hatinya sudah dikuasai oleh ambisi buta terhadap materi dan kedudukan.
Lantas, bagaimana kita mengenali tanda-tanda ketamakan ini pada diri sendiri atau lingkungan sekitar? Berdasarkan syarah hadits tersebut, berikut adalah ciri-ciri utama manusia yang tamak terhadap harta dan jabatan:
1. Menghalalkan Segala Cara Demi Targetnya (Merusak Aturan Agama)
Ciri paling mencolok dari orang yang tamak adalah hilangnya kompas halal-haram dalam hidupnya. Fokus utamanya bukan lagi keberkahan, melainkan hasil akhir.
Baca juga:Semua Orang Bisa Kaya Raya, Namun Hanya Orang Pilihan yang Bisa Mendapatkan Hidayah
* Dalam hal jabatan: Ia tidak ragu untuk melakukan politik "sikut sana sikut sini", menjatuhkan rekan kerja, memanipulasi data, menyuap, hingga menggunakan cara-cara yang zalim demi naik takhta.
* Dalam hal harta: Ia tega menipu, melakukan korupsi, atau mengambil hak orang lain di tempat kerja. Ia merasa bahwa kepintarannya adalah alat untuk mengelabui aturan demi memperkaya diri sendiri.
2. Menjadikan Dunia Sebagai Target Utama, Bukan Investasi Akhirat
Seorang mukmin yang sehat memandang harta dan jabatan sebagai alat atau kendaraan untuk mengumpulkan pahala di akhirat (misalnya: membangun masjid, membantu fakir miskin, atau menegakkan keadilan lewat wewenang jabatannya). Sebaliknya, orang yang tamak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Pikiran dan tenaganya habis 24 jam hanya untuk memikirkan akumulasi materi dan pengakuan manusia, hingga melalaikan kewajiban ibadah dan persiapan menghadapi kematian.
Baca juga:Sedekah
dan Umrah Tidak Akan Membersihkan Hartamu Hasil Merampas Hak Orang
Lain, Ada Doa dan Tangisan Keluarga yang Kehilangan Penghasilan
3. Mengorbankan Ridha Allah Demi Mengejar Ridha Manusia
Orang yang tamak akan jabatan sangat haus akan pujian, kehormatan, dan pengakuan sosial. Ciri khas mereka adalah rela melanggar syariat atau berkompromi dengan kemaksiatan asal orang-orang atau atasan di sekitarnya merasa senang (ridha). Mereka lupa pada peringatan Nabi ﷺ bahwa siapa saja yang mencari ridha manusia dengan cara memicu murka Allah, maka Allah akan menyerahkan nasib orang tersebut sepenuhnya kepada manusia (menjadi budak dunia).
4. Tidak Pernah Merasa Cukup dan Selalu Gelisah
Ketamakan selalu melahirkan sifat enggan berbagi (bakhil) dan ketakutan yang berlebihan akan kekurangan. Hatinya tidak pernah tenang karena selalu membandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain secara negatif (hasad yang haram). Ia kehilangan esensi kebahagiaan sejati, yaitu rasa syukur atas kecukupan hari ini, sehat badan, tempat tinggal yang aman, dan adanya makanan untuk hari itu, yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai "seolah-olah dunia telah dikumpulkan kepadanya."
Penutup: Menjaga Keseimbangan Hidup
Dunia ini ibarat lautan luas, dan harta atau jabatan hanyalah setetes air yang menempel di jari ketika dicelupkan ke dalamnya. Sangat tidak sepadan jika kita mengorbankan lautan akhirat yang abadi demi setetes air yang menipu.
Baca juga:
Pesan Penting Untukmu yang Menipu Orang Untuk Mendapatkan Uang: Dosa ke Manusia Tidak Cukup Dihapus dengan Tobat!
Mari kita terus berprestasi, bekerja keras, dan jadilah muslim yang mandiri serta kaya raya agar bisa memberi manfaat bagi umat. Namun, pastikan semua itu diraih dengan cara yang bersih. Jangan biarkan "serigala lapar" berupa ketamakan menyelinap ke dalam hati kita dan mencabik-cabik tenun keimanan yang telah kita bangun. Wallahu a'lam bish-shawab.***
Materi dirangkum dari kajian kitab Dosa-Dosa Besar oleh Ustadz Khalid Basalamah. Selengkapnya bisa ditonton pada video berikut: