Ujian Kekayaan Jauh Lebih Berat Dibanding Ujian Kemiskinan

datariau.com
119 view
Ujian Kekayaan Jauh Lebih Berat Dibanding Ujian Kemiskinan

DATARIAU.COM - Ketika melihat orang kaya hidup serba berkecukupan, rumah megah, kendaraan mewah, tabungan melimpah, banyak orang mengira mereka adalah orang-orang yang paling beruntung dan paling mudah menjalani hidup. Sebaliknya, ketika melihat orang miskin yang hidup dalam keterbatasan, sebagian orang menganggap merekalah yang paling berat ujiannya.

Padahal jika ditimbang dengan timbangan syariat, belum tentu demikian. Bahkan dalam banyak keadaan, ujian kekayaan jauh lebih berat daripada ujian kemiskinan.

Allah Ta'ala berfirman "Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)." (QS. Al-Anbiya: 35)

Kemiskinan adalah ujian. Namun kekayaan juga ujian. Bahkan sering kali kekayaan menjadi ujian yang lebih berat karena manusia tidak menyadarinya.

Baca juga:Semua Orang Bisa Kaya Raya, Namun Hanya Orang Pilihan yang Bisa Mendapatkan Hidayah


Orang Kaya Diuji Setiap Saat


Orang yang memiliki banyak harta menghadapi ujian yang tidak ringan. Ia diuji dengan syukur. Setiap makanan yang lezat, kendaraan yang nyaman, rumah yang megah, pakaian yang bagus, kesehatan yang baik, dan berbagai kenikmatan lainnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Masalahnya, betapa banyak manusia yang menikmati nikmat Allah setiap hari tetapi lupa bersyukur kepada-Nya.

Bangun pagi menikmati kasur empuk, makan makanan terbaik, bekerja dengan fasilitas lengkap, pulang ke rumah yang nyaman, namun lisannya hampir tidak pernah mengucapkan hamdalah dengan penuh penghayatan.

Allah mengingatkan "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba': 13)

Belum lagi ujian kesombongan. Betapa sering dalam sehari muncul bisikan: "Aku lebih sukses dari dia, aku lebih kaya, aku lebih pintar, aku lebih terhormat."

Kesombongan adalah penyakit yang sangat halus dan sering tidak disadari. Rasulullah ﷺ bersabda "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim)

Karena itulah banyak orang kaya yang terjatuh bukan karena hartanya, tetapi karena kesombongan yang lahir dari hartanya.

Baca juga:7 Tanda Seorang Tertipu dengan Kemewahan Dunia, Nomor 4 Sangat Banyak Terjadi Saat Ini


Ketika Harta Membuat Lalai


Harta juga sering membuat manusia lalai dari mengingat Allah. Kesibukan mengembangkan usaha, menjaga aset, mengejar keuntungan, memperbanyak investasi dan menambah kekayaan kadang membuat hati semakin jauh dari akhirat.

Allah Ta'ala berfirman "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." (QS. At-Takatsur: 1)

Banyak orang yang awalnya rajin ke masjid ketika masih sederhana. Namun setelah usahanya maju, justru semakin sibuk dan semakin jarang menghadiri majelis ilmu.

Dulu ketika belum memiliki apa-apa, doa-doanya penuh harap kepada Allah. Namun setelah kaya, ia merasa mampu mengatur hidupnya sendiri. Inilah fitnah kekayaan yang sangat berbahaya.

Baca juga:Pesan Penting Untukmu yang Menipu Orang Untuk Mendapatkan Uang: Dosa ke Manusia Tidak Cukup Dihapus dengan Tobat!


Ketakutan Orang Kaya yang Tidak Pernah Selesai


Anehnya, semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, sering kali semakin besar pula rasa takutnya. Takut usahanya bangkrut. Takut kehilangan pelanggan. Takut harga aset turun. Takut investasi gagal. Takut jatuh miskin. Takut kehilangan kedudukan.

Padahal rezeki seluruh makhluk telah ditetapkan oleh Allah. Akibatnya, sebagian manusia justru hidup dalam kegelisahan meskipun hartanya melimpah. Ia memiliki banyak uang, tetapi kehilangan ketenangan.

Ujian Orang Miskin Lebih Sederhana


Adapun orang miskin, ujian utamanya adalah kesabaran. Memang berat, tetapi jalannya lebih jelas. Ia dituntut untuk bersabar terhadap keterbatasan yang Allah takdirkan baginya.

Ia tetap bekerja mencari nafkah yang halal, tetap menjaga akhlak kepada sesama manusia, tetap berbuat baik agar tidak menyakiti orang lain, tetap menjaga kehormatan dirinya meskipun hidup kekurangan.

Rasulullah ﷺ bersabda "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika tertimpa kesusahan ia bersabar maka itu baik baginya." (HR. Muslim)

Orang miskin yang sabar memiliki peluang besar meraih pahala yang sangat besar di sisi Allah.

Baca juga:Sesulit Apapun Hidup, Jangan Sampai Meminta-minta kepada Manusia: Tetap Bekerja Sekuat Tenaga


Hisab Orang Kaya Sangat Panjang


Salah satu hal yang paling menakutkan bagi orang kaya adalah panjangnya hisab pada Hari Kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda "Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia mendapatkannya dan ke mana ia membelanjakannya." (HR. Tirmidzi, shahih)

Bayangkan jika seseorang memiliki miliaran rupiah. Setiap rupiah akan ditanya. Dari mana didapat? Apakah halal? Apakah ada riba? Apakah ada kezaliman? Apakah ada hak orang lain yang belum ditunaikan? Kemudian ke mana dibelanjakan? Untuk ketaatan atau kemaksiatan? Untuk membantu orang lain atau hanya memperturutkan hawa nafsu? Semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Orang Miskin Lebih Dahulu Masuk Surga


Karena sedikitnya hisab yang mereka jalani, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa orang-orang miskin yang beriman akan masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya.

Beliau ﷺ bersabda "Orang-orang miskin masuk surga sebelum orang-orang kaya selama lima ratus tahun (setengah hari akhirat)." (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang-orang miskin mendahului orang kaya masuk surga selama empat puluh tahun. Bukan karena kemiskinan itu sendiri yang membuat mereka mulia. Bukan pula karena Islam memuji kemiskinan.

Tetapi karena mereka memiliki hisab yang lebih ringan dan lebih sedikit perkara dunia yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Baca juga:Sedekah dan Umrah Tidak Akan Membersihkan Hartamu Hasil Merampas Hak Orang Lain, Ada Doa dan Tangisan Keluarga yang Kehilangan Penghasilan


Kaya atau Miskin Sama-sama Ujian


Islam tidak mengajarkan kita meminta miskin, juga tidak melarang menjadi kaya. Banyak sahabat Nabi yang kaya raya, seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Namun yang terpenting bukanlah berapa banyak harta yang dimiliki, terpenting adalah apakah kita lulus dalam ujian tersebut.

Orang kaya yang bersyukur, tawadhu, gemar bersedekah, dan menggunakan hartanya di jalan Allah memiliki kedudukan yang sangat mulia. Sebaliknya, orang miskin yang tidak sabar, suka mengeluh, dengki, dan jauh dari ketaatan juga bisa celaka.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)