Andai Saya Bisa Berjumpa Dengannya

Oleh: Suqyan Rahmat, S.H*
datariau.com
180 view
Andai Saya Bisa Berjumpa Dengannya
Suqyan Rahmat, S.H.

DATARIAU.COM - Ada satu tokoh di masa lalu, yang sangat penting dalam sejarah wilayah provinsi saya, namanya adalah Raja Mohamed. Dia adalah ketua delegasi negara Riau dalam Konferensi Meja Bundar yang diadakan di Belanda pada tahun 1949. Beliau lah orang yang menandatangani penggabungan wilayah Riau ke negara baru yang bernama Republik Indonesia Serikat. Orang Melayu Riau asal Tanjungpinang. Andai saya hidup dalam waktu yang bersamaan dengannya, sebelum dia pergi ke Belanda, saya akan mengusahakan segera berjumpa dengannya pada waktu itu, melakukan kewajiban yang harus saya lakukan sebagai anak watan Riau.

Saat saya berjumpa dengannya, saya akan mengusahakan supaya dia tidak menandatangani penggabungan wilayah Riau ke negara Republik Indonesia Serikat. Saya akan jelaskan kepadanya tentang apa yang terjadi setelah penggabungan itu terjadi. Mulai dari pengkhianatan perjanjian kemerdekaan oleh kelompok Sukarno Hatta, penggabungan paksa wilayah Riau ke provinsi Sumatera Tengah, sampai tak adanya perlindungan hukum terhadap hak-hak kepribumian (native rights) suku Melayu sebagai pribumi di provinsinya. Intinya, banyak mudarat yang didapat pribumi wilayahnya. Dan semua mudarat ini tak dipedulikan pemerintah penjajah di Jakarta.

Baca juga:Subsidi Menurun, Kampus Mahal: Masa Depan Mahasiswa Dipertaruhkan


Wilayah yang dirampas pemerintah penjajah, wilayahnya yang kebanjiran pendatang, hutan-hutan yang dihabiskan untuk bisnis perumahan, lingkungan yang rusak karena pertambangan, pembangunan pendidikan yang tidak merata, native rights pribumi yang tak didapat semua pribumi karena keadaan-keadaan yang tidak adil, dan kekayaan alam yang dijarah pemerintah penjajah (Jakarta), adalah dosa besar negara (pemerintah penjajah) yang saya ceritakan kepadanya. Supaya beliau tak jadi menandatangani perjanjian itu. Saat beliau tahu dengan keadaan yang terjadi setelah Riau bergabung menjadi bagian dari Indonesia, beliau menjadi sedih dan menyesal.

Baca juga:JK Ingatkan Krisis Ekonomi Bisa Berujung Krisis Politik, Soroti Utang Negara hingga Ancaman El Nino


Juga saya jelaskan kepadanya, bila kita merdeka sebagai negara sendiri yang terpisah dari Indonesia. Kita lah yang menentukan nasib bangsa kita, bangsa Riau. Sebab kita lah yang menjalankan pemerintahan tertinggi di wilayah kita. Kita berdaulat dengan tanah kita, dengan budaya kita, dengan kekayaan alam kita, dengan hubungan diplomatik kita, dengan pertahanan kita, dan lain-lain. Kita punya duit (currency) sendiri dan berwenang penuh mengatur perekonomian wilayah kita, berdasarkan kebijaksanaan kita. Hal ini tentu adalah hal terbaik yang memang sudah seharusnya kita alami sejak dulu, tahun 1949. Tapi tak kita alami sampai sekarang.

Demikianlah hal penting yang perlu saya lakukan pada masa-masa genting itu. Supaya tak terjadi kesalahan fatal yang berdampak parah kepada pribumi Riau dan wilayahnya. Meskipun nyatanya, semua dampak penggabungan telah terjadi. Apabila penggabungan itu dulu tak terjadi, pada hari ini wilayah provinsi saya telah menjadi sama berdaulatnya dengan bangsa-bangsa lain di Asia. Lebih berjaya daripada bangsa Malaysia, bangsa Korea, dan bangsa India. Bangsa Riau mempunyai mutu kehidupan yang sama dengan bangsa-bangsa di Scandinavia. Malangnya, semua dampak buruk itu telah terjadi dan tak tau kapan semua ketidakadilan akan berakhir.***

*) Penulis adalah Alumni Universitas Islam Indonesia, tinggal di Batam.

Baca juga:Seandainya Raja Mohamed Tidak Menandatangani: Renungan tentang Jalan Sejarah Riau yang Hilang
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)