Ketika Umat Diajarkan Hidup Sederhana dan Tidak Mengejar Dunia, Dihadapkan dengan Biaya Pendidikan di Pesantren Ternyata Tidak Murah

Oleh: Riki Rahmat, S. I. Kom
datariau.com
101 view
Ketika Umat Diajarkan Hidup Sederhana dan Tidak Mengejar Dunia, Dihadapkan dengan Biaya Pendidikan di Pesantren Ternyata Tidak Murah

DATARIAU.COM - Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.

Di berbagai majelis ilmu, kaum muslimin sering mendengar nasihat yang sangat indah. "Jangan jadikan dunia sebagai tujuan. Hiduplah sederhana. Qana'ah adalah kekayaan sejati. Jangan berlomba mengejar kemewahan."

Nasihat-nasihat ini benar. Bahkan ia merupakan bagian dari ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan agar seorang muslim tidak diperbudak oleh dunia. Namun di sisi lain, muncul sebuah ironi yang layak menjadi bahan muhasabah bersama.

Ketika umat telah berusaha mengamalkan hidup sederhana, justru mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk pendidikan anak di masa kini membutuhkan biaya yang sangat tinggi jika ingin menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang berkualitas, terlebih di sekolah yang dikelola oleh sebagian ustadz yang selama ini namanya sudah tersohor.

Baca juga:10 Pilihan Pesantren Sunnah di Kota Pekanbaru


Sebagian sekolah yang sangat menerapkan sunnah bermanhaj salaf, mematok biaya pendidikan yang sangat tinggi. Uang pangkal puluhan juta rupiah, SPP jutaan rupiah setiap bulan, biaya buku ratusan bahkan hampir sejutaan, membuat sebagian orang tua yang selama ini menjaga hidup sederhana mulai goyah.

Tidak sedikit kaum muslimin yang memilih hidup sederhana karena ingin menjaga agamanya. Mereka tidak mengejar jabatan. Tidak mengejar kekayaan. Tidak mencari pekerjaan yang syubhat meskipun bergaji besar.

Sebagian rela berdagang kecil-kecilan, menjadi guru honorer, petani, nelayan, atau pekerja dengan penghasilan yang pas-pasan demi mencari rezeki yang halal. Mereka menerima nasihat para ustaz agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.

Namun ketika tiba saatnya menyekolahkan anak ke sekolah Islam, mereka justru tidak mampu membayar biaya yang ditetapkan.

Baca juga:Santri Ponpes Al Ishlah Kampar Praktik Langsung Penyelenggaraan Jenazah Sesuai Sunnah Bersama Yayasan Syirkah Taawuniyah Pekanbaru


Akhirnya muncul pertanyaan yang mengusik hati. Kalau umat diajarkan hidup sederhana, mengapa biaya pendidikan Islam justru dirancang seolah hanya untuk kalangan berada?

Bahkan sempat terpikir, dari beberapa kajian ustadz mereka berkisah bahwa mereka dulu bersekolah hingga ke Madinah dengan biaya pendidikan gratis, mereka begitu senang, bahkan mereka mendapatkan uang saku dari pemerintah tempat mereka menuntut ilmu.

Semua itu merupakan karunia Allah melalui bantuan kaum muslimin, lembaga sosial, atau pemerintah. Lalu setelah kembali ke tanah air dan mendirikan sekolah Islam, mengapa akses pendidikan justru terasa semakin berat bagi umat?

Bukankah nikmat ilmu yang dahulu diterima dengan kemudahan semestinya mendorong lahirnya kemudahan bagi generasi berikutnya?

Tulisan ini bukan untuk mengatakan bahwa guru agama haram menerima gaji. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak kalian ambil upah darinya adalah Kitabullah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi dalil bahwa mengajar Al-Qur'an dan ilmu agama boleh diberi imbalan. Guru berhak memperoleh penghasilan yang layak. Sekolah memiliki biaya operasional. Gedung harus dirawat. Guru harus disejahterakan. Semua itu adalah kenyataan.

Namun yang menjadi persoalan bukan boleh atau tidaknya mengambil biaya, melainkan apakah biaya tersebut masih mencerminkan semangat memudahkan umat atau justru menjadi penghalang bagi mereka.

Seorang ustaz dapat menyampaikan ceramah tentang zuhud selama satu jam. Namun kebijakan sekolah yang dipimpinnya akan berbicara setiap hari. Jika umat hanya mendengar ajakan hidup sederhana, tetapi tidak menemukan kemudahan untuk mendapatkan pendidikan Islam, maka nasihat tersebut bisa terasa berat untuk diterima.

Karena masyarakat akan bertanya, "Kami sudah berusaha tidak mengejar dunia. Kami memilih hidup sederhana. Mengapa anak kami tetap sulit belajar di sekolah Islam karena alasan biaya?"

Sekolah bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah bagian dari dakwah. Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak hanya banyaknya bangunan yang megah atau fasilitas yang lengkap. Tetapi juga sejauh mana ia membuka pintu bagi anak-anak kaum muslimin mengenyam pendidikan.

Alangkah indah jika setiap sekolah Islam memiliki program beasiswa yang besar. Subsidi silang yang nyata. Keringanan bagi keluarga kurang mampu. Dana wakaf pendidikan. Program orang tua asuh. Zakat dan infak yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para penuntut ilmu.

Dengan demikian, anak seorang pedagang kecil, buruh, petani, atau guru honorer tetap memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan Islam yang baik.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan seluruh sekolah Islam. Masih banyak lembaga pendidikan yang berjuang menjaga biaya tetap terjangkau meskipun dengan segala keterbatasannya.

Namun fenomena mahalnya sebagian sekolah Islam layak menjadi bahan renungan. Jangan sampai umat diajarkan agar tidak mencintai dunia, tetapi akses menuju pendidikan Islam justru bergantung pada kemampuan ekonomi.

Jangan sampai dakwah tentang kesederhanaan hanya terdengar di mimbar, sementara praktik pendidikan justru sulit dijangkau oleh mereka yang benar-benar memilih hidup sederhana.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada para pengelola lembaga pendidikan Islam agar senantiasa menyeimbangkan profesionalisme dengan kasih sayang kepada umat, serta menjadikan setiap sekolah Islam sebagai tempat yang memudahkan lahirnya generasi berilmu dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan finansial. Wallahu a'lam bish-shawab.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)