Semua Orang Bisa Kaya Raya, Namun Hanya Orang Pilihan yang Bisa Mendapatkan Hidayah

datariau.com
133 view
Semua Orang Bisa Kaya Raya, Namun Hanya Orang Pilihan yang Bisa Mendapatkan Hidayah

DATARIAU.COM - Di tengah kehidupan modern yang serba materialistis, banyak orang mengukur keberhasilan dan kemuliaan seseorang dari jumlah harta yang dimilikinya. Mereka yang kaya dianggap sukses dan mulia, sementara yang hidup dalam keterbatasan sering dipandang rendah dan tidak beruntung. Padahal, Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah tidak pernah ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian)." (QS. Al-Fajr: 15-17)

Ayat ini meluruskan sebuah kesalahan besar yang telah lama bercokol dalam pikiran manusia, yaitu menganggap kekayaan sebagai bukti kemuliaan dan kemiskinan sebagai tanda kehinaan.

Baca juga:7 Tanda Seorang Tertipu dengan Kemewahan Dunia, Nomor 4 Sangat Banyak Terjadi Saat Ini


Pandangan Materialistis yang Menyesatkan


Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan utama hidup mereka. Mereka bekerja siang dan malam demi mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Dalam pandangan mereka, kekayaan adalah simbol kehormatan dan kemuliaan, sedangkan kemiskinan adalah lambang kegagalan dan kehinaan.

Padahal cara pandang seperti ini bukanlah hal baru. Sejak zaman kaum musyrikin Quraisy, manusia telah terjebak dalam ukuran-ukuran material yang keliru. Mereka menilai seseorang berdasarkan isi kantongnya, bukan berdasarkan keimanan dan ketakwaannya.

Karena itulah Allah membantah anggapan tersebut melalui firman-Nya, "Kallā" (Sekali-kali tidak). Artinya, tidak benar bahwa keluasan rezeki menunjukkan kemuliaan seseorang di sisi Allah, dan tidak benar pula bahwa kesempitan rezeki menunjukkan kehinaannya.

Baca juga:Sedekah dan Umrah Tidak Akan Membersihkan Hartamu Hasil Merampas Hak Orang Lain, Ada Doa dan Tangisan Keluarga yang Kehilangan Penghasilan


Kekayaan dan Kemiskinan Sama-sama Ujian


Banyak orang bergembira ketika diberi kelapangan rezeki. Mereka mengira Allah mencintai mereka karena harta yang melimpah. Sebaliknya, ketika mengalami kesulitan ekonomi, mereka merasa Allah tidak lagi memperhatikan mereka. Padahal Allah menjelaskan bahwa harta dan kemiskinan hanyalah ujian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu berarti Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak menyadari." (QS. Al-Mu'minun: 55-56)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "Katakanlah: Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan bagi siapa yang Dia kehendaki, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Saba': 36)

Allah memberikan kekayaan kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Demikian pula Allah menyempitkan rezeki orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Semua itu berlangsung sesuai hikmah dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna. Karena itu, ukuran cinta dan murka Allah tidak bisa dilihat dari jumlah harta yang dimiliki seseorang.

Baca juga:Saat Ekonomi Semakin Sulit, Solusinya Kuatkan Tauhid


Sikap Seorang Mukmin Saat Kaya dan Miskin


Seorang mukmin memahami bahwa segala keadaan adalah ujian dari Allah. Ketika diberi kekayaan, ia tidak sombong dan merasa paling mulia. Ia menyadari bahwa semua itu hanyalah karunia Allah yang harus disyukuri. Ia menggunakan hartanya untuk ketaatan, membantu sesama, menafkahi keluarga, dan memperbanyak amal saleh.

Sebaliknya, ketika diuji dengan kesempitan rezeki, ia tidak berputus asa dan tidak menuduh Allah berlaku zalim kepadanya. Ia bersabar, memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan berharap pahala dari Allah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang menjadi ukuran bukanlah kaya atau miskinnya seseorang, melainkan bagaimana ia bersikap dalam kedua keadaan tersebut. Ketika kaya, apakah ia bersyukur. Ketika miskin, apakah ia bersabar. Inilah hakikat keberhasilan seorang hamba.

Salah satu pelajaran besar dari ayat-ayat ini adalah pentingnya introspeksi diri. Ketika mendapatkan rezeki yang melimpah, hendaknya seorang muslim bertanya kepada dirinya: "Mengapa Allah memberiku nikmat ini? Apa yang Allah kehendaki dariku?" Jawabannya adalah agar ia semakin bersyukur dan semakin taat kepada Allah.

Begitu pula ketika mengalami kesulitan hidup, hendaknya ia bertanya: "Pelajaran apa yang Allah inginkan dariku melalui ujian ini?" Mungkin Allah ingin mengangkat derajatnya dengan kesabaran. Mungkin Allah ingin menghapus dosa-dosanya. Mungkin Allah ingin mengembalikannya kepada jalan yang lurus. Dengan cara pandang seperti ini, seorang mukmin akan terhindar dari sifat jahil dan zalim terhadap dirinya sendiri.

Baca juga: Pesan Penting Untukmu yang Menipu Orang Untuk Mendapatkan Uang: Dosa ke Manusia Tidak Cukup Dihapus dengan Tobat!


Kemuliaan yang Sesungguhnya


Islam mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada saldo rekening, rumah mewah, kendaraan mahal, atau jabatan tinggi. Kemuliaan yang hakiki adalah ketakwaan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Berapa banyak orang kaya yang jauh dari Allah sehingga kekayaannya menjadi sebab kebinasaan. Sebaliknya, berapa banyak orang miskin yang dicintai Allah karena kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaannya.

Oleh karena itu, jangan pernah merasa lebih mulia karena kekayaan, dan jangan pula merasa hina karena kemiskinan. Kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian yang akan berakhir. Adapun yang kekal adalah amal saleh yang akan menjadi bekal ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diuji, dan senantiasa ridha terhadap seluruh ketentuan-Nya. Aamiin. Wallahu a'lam.***

Baca juga:Banyak Anak Sukses di Mata Dunia, Tapi Gagal Membahagiakan Orang Tuanya
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)