DATARIAU.COM - Di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat, harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, serta berbagai ketidakpastian hidup, banyak orang dilanda rasa cemas dan takut akan masa depan. Tidak sedikit yang bertanya-tanya, apakah rezeki masih cukup untuk menghidupi keluarga, membayar kebutuhan sehari-hari, dan memenuhi berbagai kewajiban hidup.
Namun bagi seorang Muslim, ada satu fondasi yang harus tetap kokoh di tengah badai kehidupan, yaitu tauhid. Ketika ekonomi sulit, yang pertama kali harus diperbaiki bukan hanya strategi keuangan, melainkan keyakinan kepada Allah Ta'ala sebagai Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya." (QS. Hud: 6).
Ayat ini merupakan pengingat yang sangat kuat bahwa seluruh makhluk yang hidup di muka bumi telah mendapatkan jaminan rezeki dari Allah. Burung yang terbang di langit, ikan yang berenang di lautan, hingga manusia yang berjalan di muka bumi, semuanya berada dalam pengaturan Allah Ta'ala.
Baca juga:Pesan Penting Untukmu yang Menipu Orang Untuk Mendapatkan Uang: Dosa ke Manusia Tidak Cukup Dihapus dengan Tobat!
Seorang Muslim harus meyakini bahwa rezeki setiap manusia bahkan setiap makhluk telah dijamin dan ditakdirkan oleh Allah. Tidak ada satu pun rezeki yang akan tertukar atau diambil oleh orang lain.
Keyakinan inilah yang menjadi bagian penting dari tauhid. Ketika seseorang memahami bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki, maka ketakutan berlebihan terhadap kemiskinan akan berkurang.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan bahwa setiap manusia telah ditetapkan rezekinya. Bahkan dalam berbagai hadits disebutkan bahwa seseorang tidak akan meninggal dunia sampai seluruh rezeki yang telah Allah tetapkan untuknya sempurna diterima. Hal ini menjadi prinsip penting dalam akidah seorang Muslim.
Karena itu, ketika melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, atau memiliki usaha yang lebih maju, seorang Muslim tidak perlu iri ataupun putus asa. Rezeki bukan soal siapa yang paling kuat atau paling pintar semata, tetapi siapa yang Allah kehendaki mendapatkan bagian tertentu pada waktu tertentu.
Baca juga:Sesulit Apapun Hidup, Jangan Sampai Meminta-minta kepada Manusia: Tetap Bekerja Sekuat Tenaga
Tauhid Menghilangkan Ketakutan Berlebihan
Banyak orang mengalami stres karena merasa masa depannya sepenuhnya bergantung pada pekerjaan, jabatan, bisnis, atau manusia lainnya. Padahal semua itu hanyalah sebab.
Tauhid mengajarkan bahwa sebab tidak akan bekerja tanpa izin Allah. Seorang karyawan bisa kehilangan pekerjaan, seorang pedagang bisa mengalami kerugian, bahkan perusahaan besar sekalipun bisa bangkrut. Namun Allah tidak pernah kehilangan kekuasaan-Nya untuk memberikan rezeki kepada hamba-Nya.
Ketika keyakinan ini tertanam kuat, hati menjadi lebih tenang. Bukan berarti berhenti bekerja atau pasrah tanpa usaha, tetapi menyadari bahwa hasil akhir berada di tangan Allah.
Memahami bahwa rezeki telah ditetapkan bukan berarti berpangku tangan. Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja dan berusaha.
Baca juga:Bertahan di Tengah Sulitnya Ekonomi: Menjaga Nafkah Keluarga Tetap Halal
Para ulama menjelaskan bahwa tawakal yang benar adalah menggabungkan antara usaha maksimal dan ketergantungan hati kepada Allah. Burung yang dijamin rezekinya pun tetap keluar dari sarangnya setiap pagi untuk mencari makan.
Karena itu, ketika ekonomi sulit, seorang Muslim harus tetap bekerja, berdagang, belajar keterampilan baru, memperluas jaringan, dan mencari peluang yang halal. Namun seluruh usaha tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Al-Qur'an juga mengajarkan bahwa ketakwaan merupakan salah satu sebab datangnya kemudahan rezeki.
Allah berfirman: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Baca juga:Istri Itu Tulang Rusuk yang Harus Dijaga, Bukan Dibiarkan Patah Menanggung Nafkah Keluarga
Di saat banyak orang hanya fokus pada strategi duniawi, seorang Mukmin justru memperbanyak istighfar, memperbaiki salat, menjauhi maksiat, dan meningkatkan ketakwaan. Sebab keberkahan rezeki sering kali datang melalui jalan yang tidak pernah diperkirakan manusia.
Kesulitan ekonomi memang nyata. Namun ketakutan yang berlebihan justru dapat melemahkan hati dan menjauhkan seseorang dari Allah. Di saat kondisi ekonomi semakin sulit, solusi terbesar bukan hanya mencari tambahan penghasilan, tetapi juga memperkuat tauhid.
Yakinlah bahwa Allah telah menetapkan rezeki setiap makhluk yang bernyawa. Tidak ada satu pun rezeki yang akan tertukar. Tugas manusia adalah berikhtiar dengan cara yang halal, memperbanyak doa, bertawakal, dan menjaga ketakwaan.
Jika tauhid kuat, maka hati akan tenang. Jika hati tenang, maka kesulitan hidup akan terasa lebih ringan. Dan jika Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya, mengapa kita harus takut berlebihan terhadap masa depan?
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173).***
Baca juga:Bahaya Sifat Rakus Harta dan Tidak Suka Melihat Orang Lain Mendapatkan Nikmat