DATARIAU.COM - "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)
Wahai engkau yang hari ini diberi jabatan, kekuasaan, pengaruh, dan wewenang. Wahai engkau yang memiliki kemampuan untuk menentukan nasib seseorang. Yang bisa menerima atau menolak sebuah pekerjaan. Yang mampu mempermudah atau mempersulit urusan orang lain hanya dengan satu tanda tangan, satu keputusan, atau bahkan satu kalimat.
Pernahkah engkau membayangkan bahwa di balik keputusan yang engkau buat, ada anak-anak yang menunggu ayahnya pulang membawa nafkah?
Pernahkah engkau berpikir bahwa ketika engkau menahan hak seseorang, mempersulit urusannya, atau menyingkirkannya hanya karena ia tidak mau mengikuti permainan haram yang engkau ciptakan, sesungguhnya bukan hanya dirinya yang menjadi korban?
Ada istri yang menahan tangis, ada anak-anak yang menahan lapar, ada keluarga yang kehilangan harapan.
Mungkin bagimu itu hanya sebuah berkas yang tertahan di meja kerja, mungkin bagimu itu hanya sebuah proyek yang dialihkan kepada orang yang lebih dekat denganmu, mungkin bagimu itu hanya sebuah urusan kecil yang sengaja diperlambat karena seseorang tidak mau memberikan upeti untukmu.
Namun bagi mereka, itu adalah sumber kehidupan, itu adalah biaya sekolah anak-anak mereka, itu adalah uang untuk membeli beras, itu adalah harapan agar dapur tetap mengepul.
Dan ketika semua itu terputus karena kezalimanmu, maka ketahuilah bahwa ada hati-hati yang terluka dan ada doa-doa yang naik ke langit.
Bayangkan seorang ayah yang telah berusaha bekerja dengan jujur, ia mengikuti seluruh prosedur yang berlaku, ia tidak menyuap, ia tidak menjilat, ia tidak mencari jalan haram.
Namun urusannya dipersulit, pekerjaannya ditahan, haknya dihambat, bukan karena ia salah melainkan karena ia tidak mau ikut dalam praktik-praktik yang dimurkai Allah.
Hari demi hari berlalu, tabungan mulai habis, tagihan menumpuk, anak-anak mulai bertanya:
"Ayah, kapan uang sekolahku dibayar? Besok sudah ambil rapor, jika tidak dibayar maka tidak bisa ambil rapor."
"Ayah, kenapa tidak ada makanan di rumah kita?"
"Ayah, kenapa ibu jarang lagi masak?"
Sementara engkau yang menjadi penyebab semua itu mungkin sedang menikmati hidangan mewah, tidur di atas kasur yang empuk, mengendarai kendaraan mahal, tertawa bersama keluarga tanpa pernah memikirkan penderitaan yang engkau sebabkan.
Tetapi ketahuilah, Allah melihat semuanya. Tidak ada satu pun air mata yang jatuh tanpa diketahui-Nya. Tidak ada satu pun rasa lapar yang luput dari pengawasan-Nya. Tidak ada satu pun kezaliman yang akan hilang begitu saja.
Mungkin engkau merasa aman karena memiliki jabatan. Mungkin engkau merasa kuat karena memiliki kekuasaan. Mungkin engkau merasa kebal karena memiliki banyak pendukung.
Namun ada satu hal yang tidak bisa engkau hadapi dengan jabatan dan kekuasaan, yaitu doa orang yang terzalimi.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah." (HR. Al-Bukhari no. 2448 dan Muslim no. 19)
Baca juga:Pesan Penting Untukmu yang Menipu Orang Untuk Mendapatkan Uang: Dosa ke Manusia Tidak Cukup Dihapus dengan Tobat!
Betapa banyak orang yang tidak mampu melawanmu dengan kekuatan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki akses untuk membalas perlakuanmu.
Tetapi mereka memiliki Allah. Pada sepertiga malam terakhir, ketika manusia tertidur lelap, mereka mengangkat kedua tangan dan mengadukan semua kezaliman yang menimpa mereka kepada Rabb semesta alam. Dan Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang terzalimi.
Sebagian orang mengira bahwa kekayaan yang terus bertambah adalah tanda bahwa Allah meridhainya. Ia melihat bisnisnya berkembang. Rekeningnya semakin gemuk. Rumahnya semakin megah. Jabatannya semakin tinggi. Lalu ia menyimpulkan bahwa Allah sedang memberkahinya. Padahal belum tentu.
Boleh jadi itu adalah istidraj, yaitu ketika Allah membiarkan seseorang tenggelam dalam kenikmatan sebelum datang azab yang lebih besar.
Allah berfirman: "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba." (QS. Al-An'am: 44)
Jangan sampai engkau mengira dirimu selamat hanya karena hartamu bertambah. Sebab ukuran keberhasilan di sisi Allah bukanlah seberapa banyak yang engkau miliki. Melainkan dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa ia digunakan.
Baca juga:Tetap Kaya dan Bahagia di Dunia Meskipun Banyak Berbuat Dosa, Waspada Istidraj
Harta Haram Tidak Akan Menjadi Bersih dengan Sedekah dan Umrah
Ada orang yang begitu mudah mengambil hak orang lain. Menerima suap. Memainkan proyek. Menyalahgunakan jabatan. Menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi. Lalu setelah itu ia berangkat umrah. Ia bersedekah. Ia berzakat. Ia menyangka semua dosa akan selesai begitu saja.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR. Muslim no. 1015)
Allah tidak membutuhkan harta haram yang disedekahkan. Karena harta yang diperoleh dengan cara zalim tidak akan berubah menjadi suci hanya karena dibagikan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas baginya." (HR. At-Tirmidzi, hasan)
Baca juga:
Begini Cara Harta Merusak Agama Kita, Waspadalah!
Wahai pemilik kekuasaan. Hari ini mungkin engkau bisa menghindari pengadilan manusia. Hari ini mungkin tidak ada yang berani menegurmu. Hari ini mungkin engkau masih disanjung dan dihormati.
Tetapi akan datang satu hari ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah. Tidak ada jabatan. Tidak ada kekuasaan. Tidak ada kekayaan. Tidak ada pengawal. Tidak ada relasi. Tidak ada yang dapat menolong selain amal saleh.
Pada hari itu, semua kezaliman akan ditampakkan. Semua hak akan dikembalikan. Semua air mata akan diperhitungkan. Semua tangisan akan dimintai pertanggungjawaban.
Termasuk tangisan anak-anak yang pernah kelaparan karena engkau merampas hak ayah mereka.
Termasuk air mata seorang ibu yang tidak mampu membeli kebutuhan keluarganya karena urusan suaminya sengaja engkau persulit.
Termasuk kesedihan keluarga yang kehilangan penghasilan karena keserakahanmu.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa mempunyai kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalannya hari ini sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Al-Bukhari no. 2449)
Baca juga:Selesaikan di Dunia Sebelum Dituntut di Akhirat
Jika hari ini engkau masih memiliki kekuasaan, gunakanlah untuk membantu manusia.
Jika hari ini engkau masih memiliki jabatan, gunakanlah untuk menegakkan keadilan.
Jika hari ini engkau masih memiliki kesempatan hidup, gunakanlah untuk memperbaiki kesalahan.
Kembalikan hak-hak yang bukan milikmu. Berikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Hentikan segala bentuk kezaliman.
Mintalah maaf kepada orang-orang yang pernah engkau sakiti. Sebab kematian tidak pernah memberi pemberitahuan. Dan ketika ajal datang, tidak ada kesempatan kedua.
Ingatlah, jabatan akan berakhir. Kekayaan akan ditinggalkan. Nama akan dilupakan. Tetapi setiap kezaliman akan tetap tercatat.
Dan suatu hari nanti, di Padang Mahsyar, tangisan anak yang kelaparan karena kezalimanmu akan berdiri menjadi saksi yang memberatkanmu di hadapan Allah Rabbul 'Alamin.
Semoga Allah menjaga kita dari kezaliman, membersihkan hati kita dari keserakahan, dan menjadikan amanah yang berada di tangan kita sebagai jalan menuju ridha-Nya, bukan sebagai sebab kehancuran di dunia dan akhirat. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.***