DATARIAU.COM - Hidayah sering kali datang dari arah yang paling tidak terduga. Ia bisa mengetuk pintu hati seorang hamba bukan di saat ia sedang berada di tempat sunyi, melainkan di tengah riuhnya urusan duniawi yang melalaikan. Perjalanan spiritual Ustadz Muflih Safitra adalah bukti nyata bagaimana skenario Allah Subhanahu wa Ta'ala bekerja secara presisi, menarik seorang anak muda dari gemerlap panggung musik menuju indahnya jalan menuntut ilmu syar'i.
Siapa sangka, titik balik terbesar yang meruntuhkan egonya sebagai vokalis band justru bermula dari sebuah kajian ilmiah yang membedah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Indonesia: kasus Bom Bali.
1. Ketika Jiwa Muda Terbuai Riuhnya Panggung Musik
Lahir di Balikpapan dari keluarga pendidik yang religius, Muflih Safitra sebenarnya akrab dengan nilai-nilai agama sejak kecil. Sang ayah adalah pimpinan daerah Muhammadiyah sekaligus guru kesenian, sementara ibunya adalah pengajar qariah MTQ. Muflih bahkan sempat mengecap pendidikan di pesantren tingkat MTs.
Namun, masa remaja membawa gejolak yang berbeda. Selepas lulus pesantren, ia memilih melanjutkan sekolah ke SMA umum. Transisi ini laksana membuka jeruji bagi "macan yang lama terkerangkeng". Kebebasan pergaulan remaja umum seketika memikat hatinya. Muflih mulai hanyut dalam subkultur anak muda zaman itu: berpenampilan ala musik gothic, berambut mohawk, memakai celana jeans robek, dan mengenakan berbagai aksesoris peniti serta gelang.
Baca juga:Berawal dari Kesalahan Baca Doa Makan, Maell Lee 'Preman Terkuat di Bumi' Kini Semangat Menuntut Ilmu Agama
Puncaknya, ia memegang mikrofon bukan untuk berdakwah, melainkan sebagai vokalis band. Meski kewajiban salat lima waktu tetap ia jalankan, jiwanya terlanjur terbuai oleh musik dan pergaulan yang melalaikan dari mengingat esensi hidup yang sesungguhnya.
2. Badai Kehidupan yang Menggiring ke Rumah Allah
Allah Maha Baik. Ketika seorang hamba-Nya yang memiliki potensi kebaikan mulai tersesat, Allah bentangkan "jalan pulang" melalui ujian. Saat menempuh kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada tahun 2003, gaya hidup urakan Muflih belum juga hilang. Sampai akhirnya pada semester ketiga, keluarganya tertimpa badai ekonomi yang berat akibat masalah sengketa tanah rumah. Orang tuanya tidak lagi mampu membiayai uang kos bulanan Muflih di Yogyakarta.
Kondisi terjepit ini memaksanya mencari cara untuk bertahan hidup. Pintu pertolongan terbuka saat ia melamar menjadi takmir (penjaga) di Masjid Kampus UII yang menyediakan fasilitas asrama gratis.
Baca juga:Pilihan Masjid Sunnah di Kota Pekanbaru, Nyaman untuk Beribadah dan Menuntut Ilmu
Meski sempat dicurigai oleh pengelola asrama karena penampilannya yang terlalu gaul, kejujurannya dan kemampuan mengajinya yang fasih membuat Muflih akhirnya diterima. Ia pun pindah ke masjid, membawa serta ratusan kaset musik koleksinya. Di rumah Allah inilah, skenario hidayah yang sesungguhnya dimulai.
3. Untaian Dalil Kasus Bom Bali: Hantaman Keras pada Ego Sang Vokalis
Sebagai takmir masjid, Muflih diwajibkan mengikuti berbagai kajian ilmiah. Awalnya, ia merasa sangat berat hati. Aturan-aturan fikih dan syariat terasa mengekang kebebasan berekspresinya, terutama saat membahas hukum musik yang menjadi dunianya.
Namun, sebuah momen krusial terjadi pada sekitar tahun 2005. Muflih menghadiri kajian Ustadz Jafar Umar Thalib rahimahullah yang saat itu secara spesifik membedah dan membantah pemikiran para pelaku pengeboman kasus Bom Bali.
Dalam kajian tersebut, sang ustadz menjelaskan secara gamblang bahwa para pelaku pengeboman menggunakan dalil Al-Qur'an: "Bunuhlah diri kalian, Allah akan menerima tobat kalian." (Syariat Bani Israil yang salah tempat jika diterapkan pada umat Nabi Muhammad).
Baca juga:
Kisah Nyata: Ketetapan Allah Itu Adalah yang Terbaik
Sang ustadz menekankan dengan tegas: Ayatnya benar dan suci, tetapi cara memahaminya yang salah tempat karena menggunakan logika sendiri. Dari sinilah Muflih terhentak dan menyadari sebuah kebenaran mutlak yang selama ini luput dari kepalanya:
* Beragama tidak cukup hanya dengan membaca Al-Qur'an dan Sunah.
* Memahami dalil harus merujuk pada bagaimana para sahabat Nabi (Salafush Shalih) memahami dan mengamalkannya.
Mendengar untaian penjelasan ilmiah tersebut, ego Muflih sebagai anak band seketika runtuh. Ia menyadari betapa bahayanya menafsirkan agama atau membenarkan sebuah tindakan tanpa ilmu yang lurus. Jika kasus pengeboman yang ekstrem saja bisa dianggap "benar" oleh pelakunya karena salah memahami dalil, bagaimana dengan dirinya yang selama ini selalu mencari celah pembenaran agar bisa tetap bermusik dan bergaya hidup bebas?
Baca juga:Aku Sudah Hijrah Kok Kehidupan Jadi Susah? Ini Jawabannya
Momen itu menjadi tamparan keras. Nasihat seorang senior di kampus kian mengunci kesadarannya: "Kalau kamu belum bisa meninggalkan musik, jangan cari-kali celah pembenaran. Akui saja di hadapan Allah bahwa dirimu masih lemah, lalu mintalah kekuatan untuk berubah."
4. Totalitas Berbalik Arah Menuju Cahaya Ilmu
Tepat pada tahun 2006, Muflih Safitra memutuskan untuk "ganti casing". Rambut mohawk-nya dipotong rapi, gelang dan peniti pemberontakannya dibuang, dan celana robeknya diganti. Ia mulai datang ke kampus teknik dengan baju koko, hingga teman-temannya sempat mengira ia baru saja sembuh dari sakit sakral karena perubahannya yang teramat drastis.
Bekas-bekas pendidikan pesantrennya dahulu membuat Muflih mengalami akselerasi (percepatan) yang luar biasa dalam belajar bahasa Arab dan kitab-kitab para ulama. Setelah lulus S1 dengan IPK cumlaude 3,89, ia sempat bekerja sebagai PNS/ASN. Namun, kecintaannya pada ilmu membawanya terbang ke King Saud University (KSU) Riyadh, Arab Saudi, untuk menempuh studi S2.
Baca juga:
Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu, Padahal Ia Amat Baik Bagimu
Di tanah suci, ia tidak menyia-nyiakan waktu. Di luar jam kuliah umum, ia duduk bersimpuh (talaqqi) di hadapan ulama-ulama besar dunia, seperti Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dan Syekh Saad Asy-Syathri. Muflih belajar dengan sangat disiplin; mencatat kilat di kertas-kertas bekas, lalu menyalinnya dengan tinta rapi di binder sebelum tidur. Ia akhirnya pulang ke Indonesia sebagai lulusan tercepat dengan IPK tertinggi.
Intisari Dakwah: Pelajaran dari Perjalanan Ustadz Muflih
Kisah Ustadz Muflih Safitra memberikan kita beberapa pelajaran berharga tentang bagaimana menjemput dan merawat hidayah:
* Hidayah itu Dijemput, Bukan Ditunggu: Perubahan besar bermula ketika kita membuka hati untuk duduk di majelis ilmu, mendengarkan kebenaran, dan menurunkan ego kita di hadapan dalil-dalil yang sahih.
* Berhenti Mencari Pembenaran atas Maksiat: Mengakui kesalahan di hadapan Allah adalah gerbang utama tobat. Seseorang yang selalu mencari pembenaran atas kelalaiannya (seperti musik atau gaya hidup bebas) tidak akan pernah merasakan manisnya perubahan.
Baca juga:Kisah Hijrahnya Seorang Personil Satpol PP Rohil, Mengenali Ilmu Agama, Semakin Semangat Bertugas Untuk Negara
* Al-Qur'an sebagai Penawar Memori Masa Lalu: Dalam perjalanan hijrahnya, Ustadz Muflih mengakui bahwa memori musik masa lalu tidak akan hilang sepenuhnya karena sudah terekam di sistem limbik otak. Cara melawannya adalah dengan menimbun memori buruk tersebut menggunakan hafalan dan lantunan Al-Qur'an setiap hari.
Kini, mikrofon yang dahulu ia gunakan untuk melantunkan lagu-lagu duniawi telah berganti fungsi secara abadi. Di atas mimbar-mimbar dakwah, suara itu kini bergaung menyampaikan untaian firman Allah dan sabda Nabi, mengajak umat untuk kembali pada pemahaman agama yang lurus dan murni.***
Selengkapnya silahkan tonton pada video di bawah ini: