11 Amalan Bid'ah di Bulan Muharram yang Masih Sering Dilakukan Umat Islam

datariau.com
136 view
11 Amalan Bid'ah di Bulan Muharram yang Masih Sering Dilakukan Umat Islam

DATARIAU.COM - Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, memperkuat ketakwaan, serta menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ, terutama puasa Tasu'a dan Asyura.

Namun, di tengah kemuliaan bulan Muharram, masih terdapat berbagai amalan dan tradisi yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an maupun Sunnah. Bahkan sebagian praktik tersebut telah berlangsung turun-temurun sehingga dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam, padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Agar tidak terjebak dalam amalan yang sia-sia, berikut 11 amalan bid'ah di bulan Muharram yang masih sering dilakukan sebagian umat Islam.

1. Menganggap Muharram sebagai Bulan Keramat yang Membawa Kesialan


Masih banyak masyarakat yang meyakini bahwa Muharram atau Suro adalah bulan yang angker dan penuh bala. Akibatnya, mereka menghindari pernikahan, pindah rumah, membuka usaha, atau menggelar hajatan pada bulan tersebut.

Keyakinan ini merupakan warisan jahiliyah yang bertentangan dengan akidah Islam. Tidak ada bulan yang membawa sial maupun keberuntungan secara mandiri. Semua takdir berada di tangan Allah semata.

2. Membaca Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Secara Khusus


Setiap menjelang pergantian tahun Hijriah, beredar berbagai bacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun yang dianggap memiliki keutamaan tertentu.

Padahal para ulama menjelaskan bahwa tidak ada riwayat shahih dari Rasulullah ﷺ maupun para sahabat yang mengajarkan doa khusus untuk pergantian tahun Hijriah.

Baca juga:3 Amalan di Bulan Muharram


3. Merayakan Tahun Baru Hijriah dengan Ritual Keagamaan Tertentu


Peringatan malam tahun baru Hijriah sering diisi dengan acara khusus, pawai, dzikir berjamaah yang ditetapkan secara khusus, atau ritual tertentu yang diyakini memiliki nilai ibadah.

Meski niatnya baik, menetapkan suatu bentuk ibadah yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ termasuk perkara yang perlu diwaspadai. Sebab ibadah harus memiliki dasar yang jelas dari syariat.

4. Puasa Khusus pada Awal Tahun Hijriah


Sebagian orang meyakini bahwa puasa pada tanggal 1 Muharram memiliki keutamaan khusus sebagai pembuka tahun.

Padahal tidak ada dalil shahih yang menetapkan puasa awal tahun sebagai ibadah khusus. Keutamaan puasa Muharram memang ada, tetapi bukan karena tanggal 1 Muharram secara khusus.

5. Menghidupkan Malam Pertama Muharram dengan Ibadah Khusus


Ada pula tradisi menghidupkan malam pertama Muharram dengan shalat, dzikir, atau bacaan tertentu yang diyakini memiliki pahala istimewa.

Para ulama menegaskan tidak ada hadis shahih yang menjelaskan keutamaan khusus malam pertama Muharram dibanding malam-malam lainnya.

Baca juga:Dalil Shahih tentang Puasa Sunnah Tanggal 9, 10, dan 11 Muharram


6. Mengkhususkan Malam Asyura dengan Ibadah Tertentu


Sebagian kalangan mengadakan kegiatan khusus pada malam 10 Muharram, seperti dzikir tertentu, doa tertentu, atau ritual berjamaah yang diyakini memiliki keutamaan luar biasa.

Padahal yang disyariatkan dalam Asyura adalah puasa pada siang harinya, bukan mengkhususkan malamnya dengan ibadah tertentu yang tidak memiliki dasar.

7. Melaksanakan Shalat Asyura


Di sejumlah daerah masih ditemukan amalan yang dikenal sebagai "Shalat Asyura" dengan tata cara dan bacaan tertentu.

Para ulama ahli hadis menjelaskan bahwa riwayat-riwayat yang menjadi dasar shalat ini berstatus palsu dan tidak dapat dijadikan hujah dalam beribadah.

8. Membaca Doa Asyura yang Diklaim Memiliki Keutamaan Khusus


Berbagai versi doa Asyura sering beredar di media sosial maupun grup percakapan. Sebagian bahkan mengklaim siapa yang membacanya akan terhindar dari musibah selama setahun atau tidak akan meninggal dunia pada tahun tersebut.

Klaim semacam ini tidak memiliki dasar yang sahih dalam Islam dan berpotensi menyesatkan umat.

Baca juga: Hari Asyura Membongkar Kedok Syiah


9. Memperingati Tragedi Karbala dengan Ratapan dan Menyakiti Diri


Sebagian kelompok menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai hari berkabung atas wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu anhuma.

Kecintaan kepada cucu Rasulullah ﷺ tentu merupakan bagian dari keimanan. Namun Islam tidak pernah mengajarkan ratapan, teriakan histeris, apalagi menyiksa diri sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah wafat.

10. Menjadikan Asyura sebagai Hari Pesta dan Perayaan


Sebagai reaksi terhadap tradisi ratapan, sebagian kalangan justru menjadikan Asyura sebagai hari pesta, mengenakan pakaian khusus, dan membuat perayaan tertentu.

Padahal tidak ada dalil yang memerintahkan menjadikan Asyura sebagai hari raya atau hari pesta. Bid'ah tidak bisa dilawan dengan bid'ah lainnya.

Baca juga: Fatwa Ulama: Bolehkah Puasa Asyura Satu Hari Saja?


11. Ritual Adat yang Mengandung Unsur Kesyirikan


Di berbagai daerah, Muharram sering diisi dengan ritual budaya yang diyakini mendatangkan keberkahan atau keselamatan. Mulai dari memandikan benda pusaka, mencari berkah dari benda tertentu, hingga berbagai tradisi yang mengandung keyakinan mistis.

Seorang muslim harus berhati-hati terhadap seluruh praktik yang dapat mengurangi kemurnian tauhid. Sebab keberkahan hanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Amalan Muharram yang Benar Menurut Sunnah


Daripada menghabiskan waktu dengan amalan yang tidak jelas landasannya, umat Islam seharusnya mengisi bulan Muharram dengan ibadah yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ, di antaranya:

* Memperbanyak taubat dan istighfar.
* Membaca Al-Qur'an.
* Memperbanyak sedekah.
* Menjaga silaturahmi.
* Melaksanakan puasa Tasu'a (9 Muharram).
* Melaksanakan puasa Asyura (10 Muharram).
* Memperbanyak amal saleh dan menjauhi maksiat.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim).

Baca juga:Keutamaan Bulan Muharam


Kemuliaan bulan Muharram hendaknya menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru terjebak dalam berbagai amalan yang tidak memiliki tuntunan dari Rasulullah ﷺ.

Setiap muslim perlu menimbang setiap ibadah dengan ilmu. Sebab amalan yang diterima bukanlah yang paling banyak atau paling meriah, melainkan yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad ﷺ.

Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa mengikuti jalan yang lurus, menjauhkan kita dari berbagai bentuk bid'ah, serta menjadikan Muharram sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bertakwa. Wallahu a'lam bish-shawab.***

Baca juga:Catat! Ini 11 Amalan Bid'ah di Bulan Muharram, Terlarang Untuk Dilakukan
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)