Kelompok Anti Sunnah: Ngaku Cinta Nabi Namun Anti Hadits Shahih

datariau.com
126 view
Kelompok Anti Sunnah: Ngaku Cinta Nabi Namun Anti Hadits Shahih

DATARIAU.COM, datariau.com - Di tengah derasnya arus informasi dan beragam pemikiran keagamaan yang berkembang saat ini, umat Islam perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya pemahaman yang meremehkan bahkan menolak Sunnah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Kelompok yang dikenal sebagai anti sunnah umumnya mengklaim cukup berpegang kepada Al-Qur'an semata, sementara hadis-hadis Nabi dianggap tidak lagi menjadi sumber hukum dan pedoman hidup.

Padahal, dalam ajaran Islam, Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua sumber utama yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dalam menjelaskan akidah, ibadah, akhlak, dan berbagai aspek kehidupan seorang muslim.

Cinta Rasul Bukan Sekadar Pengakuan


Kecintaan kepada Nabi Muhammad bukan hanya diwujudkan melalui ucapan atau slogan semata. Bukti nyata cinta kepada Rasul adalah dengan mengutamakan ajaran beliau di atas kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun pendapat manusia.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Umar bin Khattab menyatakan kecintaannya kepada Rasulullah. Namun Nabi menegaskan bahwa keimanan seseorang belum sempurna hingga beliau lebih dicintai daripada diri sendiri. Hadis ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasul memiliki konsekuensi berupa ketaatan dan pengamalan terhadap sunnah-sunnah beliau.

Karena itu, seseorang yang lebih mendahulukan keinginan pribadi, adat istiadat, atau pendapat tokoh tertentu dibandingkan petunjuk Nabi perlu melakukan introspeksi terhadap kadar kecintaannya kepada Rasulullah.

Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang


Menolak Sunnah Berarti Menyelisihi Jalan Kaum Mukminin


Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 115 bahwa siapa saja yang menentang Rasul setelah datang kepadanya petunjuk yang jelas dan mengikuti jalan selain orang-orang beriman, maka ia terancam mendapatkan kesesatan dan azab yang pedih.

Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan. Tidak cukup seseorang mengaku beriman kepada Al-Qur'an, tetapi pada saat yang sama menolak hadis-hadis sahih yang menjelaskan isi Al-Qur'an.

Banyak rincian ibadah yang tidak dijelaskan secara detail dalam Al-Qur'an, seperti tata cara salat, zakat, puasa, maupun haji. Seluruhnya diterangkan melalui sunnah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Baca juga: 11 Amalan Bid'ah di Bulan Muharram yang Masih Sering Dilakukan Umat Islam


Tanda-Tanda Pemikiran Anti Sunnah


Salah satu ciri yang sering muncul dari kelompok anti sunnah adalah menolak hadis-hadis sahih dengan alasan tidak sesuai logika, budaya, atau pandangan pribadi. Bahkan ada yang berpendapat bahwa cukup mengikuti Al-Qur'an tanpa perlu merujuk kepada hadis.

Padahal Rasulullah telah memperingatkan umatnya agar tidak menjadi orang yang menolak perintah dan larangan beliau dengan alasan hanya mengikuti apa yang tertulis dalam Al-Qur'an.

Selain itu, sikap meremehkan para pengamal sunnah, mengejek ajaran yang berasal dari hadis sahih, atau menganggap sunnah sebagai sesuatu yang tidak penting juga menjadi bentuk penyimpangan yang harus diwaspadai.

Baca juga:Makna As-Sunnah


Mendahulukan Pendapat Manusia di Atas Sabda Nabi


Para ulama sepanjang sejarah Islam telah mengingatkan bahaya mendahulukan pendapat manusia dibandingkan hadis Rasulullah.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menegaskan bahwa para ulama telah bersepakat, apabila seseorang telah mengetahui sebuah sunnah Rasulullah yang sahih, maka tidak boleh baginya meninggalkannya karena mengikuti pendapat siapa pun.

Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal memperingatkan bahwa menolak sebagian sabda Nabi dapat menjadi sebab munculnya penyimpangan dalam hati seseorang.

Sikap seorang muslim yang benar adalah menerima kebenaran dari mana pun datangnya selama bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih, meskipun terkadang bertentangan dengan kebiasaan atau pendapat yang selama ini diyakini.

Baca juga:Bid'ah Tercela Itu Perkara Agama, Bukan Dunia, Berikut Penjelasannya


Pentingnya Mengenal Sirah Nabi


Salah satu bukti kecintaan kepada Rasulullah adalah mempelajari sejarah hidup beliau. Sulit membayangkan seseorang mengaku mencintai Nabi tetapi tidak mengenal perjalanan hidup, perjuangan, akhlak, dan pengorbanan beliau dalam menyebarkan Islam.

Para ulama mengatakan, "Barang siapa mencintai sesuatu, maka ia akan banyak mengingatnya."

Karena itu, mempelajari sirah Nabi bukan sekadar menambah wawasan sejarah, melainkan bagian dari upaya memperkuat kecintaan dan keteladanan kepada Rasulullah.

Baca juga:Maulid Nabi: Sekedar Muamalah Bukan Ibadah?

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)