KUANTAN SINGINGI, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Riau Tahun 2026 melaksanakan pelatihan pembuatan ecobrick bagi masyarakat Desa Tanjung, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah plastik menjadi produk yang bernilai guna.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program kerja bertajuk DESA BERSERI (Bersih, Sehat, dan Asri melalui Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Menjadi Produk Bernilai Ekonomis di Desa Tanjung) ini dilaksanakan pada Selasa, 14 Juli 2026, di Posko KKN Dusun II Desa Tanjung dan diikuti oleh 32 peserta dari kalangan masyarakat setempat.
Pelaksanaan KKN Berdampak Universitas Riau di Desa Tanjung berlangsung selama kurang lebih 40 hari di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Nur Arini Yulia, S.ST., M.MPar. Program ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan berdasarkan Buku Panduan KKN Berdampak Universitas Riau Tahun 2026 serta matriks program prioritas yang telah disusun bersama Pemerintah Desa Tanjung.
Baca juga:Mahasiswa KKN UNRI Sosialisasi Pembuatan Ecobrick di Desa Sungai Meranti
Pelatihan ecobrick menjadi salah satu program unggulan karena permasalahan sampah plastik masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN ingin mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah rumah tangga dengan cara yang lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai dampak pencemaran sampah plastik terhadap lingkungan, pengenalan konsep ecobrick, manfaatnya bagi masyarakat, hingga tahapan pembuatan ecobrick sesuai standar. Materi disampaikan secara interaktif sehingga peserta dapat memahami pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Setelah sesi teori, peserta mengikuti praktik langsung membuat ecobrick. Sampah plastik yang sebelumnya telah dikumpulkan, dibersihkan, dan dikeringkan dimasukkan ke dalam botol plastik menggunakan stik pemadat hingga mencapai tingkat kepadatan yang sesuai standar. Selama proses berlangsung, mahasiswa KKN mendampingi peserta pada setiap tahapan agar hasil ecobrick yang dibuat memenuhi kualitas yang diharapkan.
Baca juga:Mahasiswa KKN UNRI Sosialisasi Pembuatan Ecobrick di SDN 018 Desa Penyasawan
Ketua Kelompok KKN Universitas Riau Desa Tanjung, Rival Aprianto, berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri.
"Kami berharap pelatihan ini bisa jadi langkah awal masyarakat Desa Tanjung dalam mengelola sampah plastik secara mandiri dan berkelanjutan," ujarnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi selama kegiatan berlangsung. Peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta mencoba membuat ecobrick secara mandiri. Banyak di antara mereka juga menyampaikan ketertarikan untuk menerapkan metode tersebut di lingkungan masing-masing.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Sosialisasi Pembuatan Ecobrick di SMPN 1 Pinggir
Kepala Desa Tanjung, Raja Apriadi, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang menghadirkan program edukatif sekaligus solutif bagi masyarakat.
"Kegiatan ini adalah untuk kita, untuk kita masing-masing. Maka ke depannya, mari kita memperbaiki cara membuang sampah, dan tidak ada lagi pembuangan sampah yang akan mencemari sungai," katanya.
Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah dan memanfaatkan limbah plastik menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna, seperti kursi, meja, pot tanaman, hingga media pembelajaran.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Sulap Sampah Plastik Menjadi Barang Kreatif melalui Ecobrick di Sekolah Lansia Sadar Sehat Kampung Baru
Selain memberikan keterampilan baru, program ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN Universitas Riau dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Penggunaan ecobrick dinilai mampu mengurangi volume sampah plastik yang berakhir di lingkungan maupun sungai sekaligus mendorong terciptanya budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.
Program DESA BERSERI diharapkan dapat terus berlanjut meski masa pengabdian mahasiswa telah berakhir. Dengan adanya dukungan pemerintah desa dan partisipasi aktif masyarakat, pengelolaan sampah plastik secara mandiri dapat menjadi kebiasaan baru yang membawa manfaat bagi lingkungan maupun kehidupan sosial ekonomi warga.
Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, Tujuan 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui pengurangan timbulan sampah plastik dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.***
Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Manfaatkan Sampah dalam Pembuatan Ecobrick di Tiga Sekolah