DATARIAU.COM - Setiap manusia membutuhkan hadirnya orang lain untuk saling mendampingi, berbagi, dan menguatkan. Namun, dalam Islam, sebuah ikatan persahabatan bukan sekadar tempat berkumpul atau menghabiskan waktu bersama, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki kedudukan amat mulia.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda bahwa sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik perbuatannya terhadap sahabatnya. Islam membedakan antara sekadar teman (kenalan secara umum) dan sahabat (ash-hab), yaitu sosok yang dekat, melekat, dan berada dalam satu jalan kebaikan.
Dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala kelak akan mendapatkan naungan khusus di hari kiamat serta memperoleh tempat di atas mimbar-mimbar bercahaya yang membuat para Nabi dan Syuhada cemburu atas kedudukan mereka.
Baca juga:10 Kiat Mendapatkan Anak Shalih dan Shalihah
Lantas, bagaimana cara kita menakar ketulusan seseorang? Apakah sosok yang dekat dengan kita saat ini benar-benar seorang sahabat sejati? Mari mengujinya dengan tiga hal berikut:
1. Uji Melalui Perjalanan Bersama (Safar)
Apakah Anda pernah bepergian jauh bersamanya? Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu pernah bertanya kepada seseorang yang memuji saudaranya: "Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya?" Ketika orang itu menjawab belum, Umar menegaskan bahwa ia belum benar-benar mengenalnya.
Safar membawa keletihan, pengorbanan waktu, emosi, dan energi. Watak asli dan tingkat loyalitas seseorang baru terlihat ketika diuji dalam kondisi safar--apakah ia mau berkorban, mau bertoleransi, tidak bersikap pelit, atau justru hanya mementingkan dirinya sendiri.
2. Uji Kesediaan Berkorban Harta dan Jiwa
Pengorbanan adalah ruh dari persahabatan sejati. Sahabat Nabi seperti Abdullah bin Mas'ud dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhum menegaskan bahwa persahabatan karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala menuntut kesiapan untuk saling membantu dan berbagi kebutuhan.
Sahabat sejati tidak akan berhitung rugi atau mementingkan diri sendiri. Mereka akan berlomba-lomba untuk saling memberi hadiah, mentraktir makanan, mengulurkan bantuan, hingga menjenguk ketika sakit tanpa mengharapkan balasan duniawi.
3. Uji Kesabaran Menghadapi Ujian Kebersamaan
Imam Syafi'i Rahimahullah pernah mengungkapkan bahwa barangsiapa menganggap tidak akan pernah terjadi masalah atau percekcokan dengan sahabatnya, maka anggapan itu tidaklah wajar.
Baca juga:
Begini Cara Memilih Guru Agama Agar Terhindar Pemahaman Menyimpang
Persahabatan sejati tidak diukur dari ketiadaan masalah, melainkan dari bagaimana keduanya melewati ujian tersebut. Sahabat sejati adalah mereka yang bersabar atas kekurangan saudaranya, berani meminta maaf jika bersalah, serta lapang dada ketika saling menasihati dalam kebenaran.
Penutup
Persahabatan sejati tidak didasari oleh keuntungan materi semata. Saat kita mencintai sahabat kita karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kita akan selalu mendorongnya dalam kebaikan. Sebaliknya, jika ia mulai menjauh dari ajaran agama dan tidak mau menerima nasihat, kita pun siap melepaskannya karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Mari kita evaluasi kembali ikatan persahabatan yang kita miliki saat ini. Jadilah sahabat terbaik yang senantiasa berkorban, membimbing, dan saling menggandeng tangan menuju ridha dan surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala.***
Tonton video di bawah untuk penjelasan lebih lengkap dari Ustadz Dr Khalid Basalamah: