DATARIAU.COM - Ketaatan kepada pemimpin merupakan bagian dari ajaran Islam. Seorang muslim diperintahkan untuk mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang ma’ruf, baik ketika perintah tersebut sesuai dengan keinginannya maupun ketika tidak sesuai dengan apa yang ia sukai. Namun, ketaatan kepada manusia bukanlah ketaatan tanpa batas.
Ustadz Syafiq Riza Basalamah dalam sebuah ceramahnya (video ada di bawah artikel ini) mengingatkan tentang prinsip penting dalam masalah tidak boleh menaati pemimpin apabila diperintahkan melakukan kemaksiatan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.
Prinsip tersebut bukan berarti seorang muslim bebas membangkang atau menolak seluruh perintah pemimpin. Sebaliknya, Islam mengajarkan sikap yang seimbang, taat dalam perkara yang ma’ruf dan tidak taat dalam perkara maksiat.
Rasulullah ﷺ Perintahkan untuk Mendengar dan Taat
Rasulullah ﷺ bersabda “Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ia sukai dan ia benci.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak hanya berlaku ketika seseorang menyukai keputusan yang dibuat.
Sering kali seseorang mudah menaati pemimpin ketika kebijakan yang dikeluarkan sesuai dengan kepentingannya. Namun, ketika keputusan tersebut tidak sesuai dengan keinginan atau kecenderungan pribadinya, sikapnya berubah menjadi penolakan.
Islam mengajarkan agar seorang muslim tidak menjadikan hawa nafsu sebagai ukuran dalam masalah ketaatan.
Selama perintah tersebut merupakan perkara yang ma’ruf dan tidak bertentangan dengan syariat, seorang muslim diperintahkan untuk mendengar dan menaati.
Tidak Ada Ketaatan dalam Kemaksiatan
Di sisi lain, Islam memberikan batas yang sangat jelas. Rasulullah ﷺ bersabda “Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.”
Dalam hadis lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf.”
Karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan seseorang melakukan perbuatan yang merupakan maksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala, maka perintah tersebut tidak boleh ditaati.
Kedudukan seorang pemimpin tidak menjadikan sesuatu yang haram berubah menjadi halal. Demikian pula perintah seorang atasan tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan dosa.
Prinsipnya adalah: ketaatan kepada makhluk tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.
Bukan Berarti Boleh Membangkang Seenaknya
Prinsip tidak taat dalam kemaksiatan juga tidak boleh dipahami secara keliru. Ketika seorang muslim tidak menaati perintah yang mengandung kemaksiatan, bukan berarti ia kemudian bebas mencaci, memfitnah, melakukan tindakan anarkis, atau menolak seluruh kebijakan pemimpin.
Yang tidak ditaati adalah perintah maksiatnya. Adapun perintah lain yang ma’ruf tetap harus ditaati. Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dalam menentukan apakah suatu perintah benar-benar merupakan kemaksiatan atau sekadar sesuatu yang tidak ia sukai.
Jangan sampai perbedaan kepentingan, pilihan politik, atau ketidaksukaan kepada seorang pemimpin dijadikan alasan untuk menyatakan setiap kebijakannya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Masalah agama harus dikembalikan kepada ilmu dan dalil, bukan semata-mata perasaan.
Taat Ketika Suka dan Tidak Suka
Salah satu ujian dalam ketaatan adalah ketika perintah tersebut terasa berat. Ketika seorang pemimpin mengeluarkan keputusan yang sesuai dengan kepentingan pribadi, ketaatan mungkin terasa mudah.
Namun, bagaimana ketika keputusan tersebut tidak kita sukai? Di sinilah seorang muslim diuji. Selama perintah tersebut berada dalam perkara yang ma’ruf, kewajiban menaati tidak gugur hanya karena kita tidak menyukainya.
Seorang muslim harus berusaha menundukkan hawa nafsunya dan mendahulukan tuntunan agama. Dengan demikian, ketaatan tidak dibangun di atas fanatisme kepada seseorang, tetapi di atas ketaatan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.
Pemimpin Juga Memiliki Amanah
Kewajiban masyarakat untuk menaati pemimpin bukan berarti pemimpin bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Kekuasaan adalah amanah.
Pemimpin memiliki tanggung jawab besar di hadapan Allah Subahanahu wa Ta’ala atas rakyat yang berada di bawah kepemimpinannya.
Rasulullah ﷺ bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Karena itu, pemimpin wajib menjaga amanah, berlaku adil, melindungi hak masyarakat, serta menghindarkan diri dari kezaliman.
Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subahanahu wa Ta’ala.
Jangan Jadikan Kebencian sebagai Alasan Berbuat Zalim
Islam juga mengajarkan agar kebencian kepada seseorang tidak membuat seorang muslim kehilangan keadilan.
Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat tersebut memberikan pelajaran penting dalam kehidupan. Seorang muslim boleh tidak menyukai seseorang, tetapi kebencian tidak boleh mendorongnya untuk berdusta, memfitnah, menzalimi, atau menyebarkan tuduhan tanpa bukti.
Demikian pula dalam menyikapi pemimpin. Jika terdapat kesalahan, hendaknya disikapi dengan ilmu, kejujuran, dan nasihat yang benar. Bukan dengan kebencian dan tindakan yang melampaui batas.
Ukurannya Bukan Siapa yang Memerintah, tetapi Apa yang Diperintahkan
Inilah prinsip penting yang perlu dipahami. Seorang muslim tidak boleh mengatakan, “Karena dia pemimpin, maka semua perintahnya wajib ditaati.”
Sebaliknya, seorang muslim juga tidak boleh mengatakan, “Karena saya tidak menyukai pemimpin tersebut, maka saya tidak perlu menaati apa pun yang diperintahkannya.”
Keduanya merupakan sikap yang keliru. Ukuran ketaatan adalah syariat. Jika perintah tersebut merupakan perkara yang ma’ruf, maka ditaati.
Jika perintah tersebut mengandung kemaksiatan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala, maka tidak ditaati dalam perkara maksiat tersebut.
Nasihat untuk Seorang Muslim
Pesan tentang batas ketaatan ini sangat penting untuk dipahami agar seorang muslim tidak berlebihan dalam menyikapi pemimpin. Jangan menjadi orang yang mudah membangkang hanya karena tidak menyukai pemimpin.
Namun, jangan pula menjadikan ketaatan kepada manusia sebagai alasan untuk melakukan dosa.
Seorang muslim harus senantiasa mengingat bahwa ketaatan tertinggi hanyalah kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.
Rasulullah ﷺ adalah utusan-Nya yang wajib ditaati. Adapun ketaatan kepada manusia memiliki batas, yaitu selama tidak bertentangan dengan perintah Allah Subahanahu wa Ta’ala.
Maka, ketika diperintahkan melakukan kebaikan, hendaknya seorang muslim segera melaksanakannya. Ketika diperintahkan melakukan kemaksiatan, jangan ditaati dalam perkara tersebut.
Tetaplah menjaga adab, menjauhi fitnah, tidak berbuat zalim, dan mengembalikan persoalan agama kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Kesimpulan
Ketaatan kepada pemimpin dalam Islam bukanlah ketaatan yang bersifat mutlak. Seorang muslim diperintahkan mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang ma’ruf, baik ketika ia menyukai perintah tersebut maupun ketika ia tidak menyukainya.
Namun, terdapat batas yang tegas, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala. Karena itu, jangan sampai alasan “hanya menjalankan perintah” dijadikan pembenaran untuk melakukan sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala. Taatlah dalam perkara yang ma’ruf. Jangan taat dalam kemaksiatan.
Semoga Allah Subahanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tunduk kepada kebenaran, serta kemampuan untuk menaati pemimpin dalam perkara yang ma’ruf.
Semoga Allah Subahanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk kepada para pemimpin, menolong mereka menjalankan amanah, menjauhkan mereka dari kezaliman, serta menjadikan kepemimpinan mereka sebagai jalan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Wallahu a’lam bish-shawab.***