Mahasiswa FISIP Universitas Riau Edukasi Siswa SMPN 27 Pekanbaru soal Deepfake dan Kesehatan Mental

datariau.com
66 view
Mahasiswa FISIP Universitas Riau Edukasi Siswa SMPN 27 Pekanbaru soal Deepfake dan Kesehatan Mental

PEKANBARU, datariau.com - Kelompok FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) Sri Meranti Universitas Riau memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 27 Pekanbaru dengan memberikan edukasi literasi digital dan kesehatan mental kepada peserta didik baru, Rabu (15/7/2026).

Mengusung tema "Saring Sebelum Sharing", kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa terhadap perkembangan teknologi digital, khususnya bahaya penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui konten deepfake, sekaligus menanamkan pentingnya menjaga kesehatan mental sejak dini.

Baca juga:Bullying Bukan Candaan, Bisa Jadi Bom Waktu


Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa FBN Sri Meranti menjelaskan bagaimana teknologi deepfake mampu memanipulasi foto, video, maupun suara seseorang sehingga tampak asli, padahal merupakan hasil rekayasa digital. Fenomena ini dinilai berpotensi memicu penyebaran hoaks, pencemaran nama baik, hingga berbagai bentuk penipuan di ruang digital.

Para siswa juga diajak mengenali ciri-ciri konten deepfake serta memahami pentingnya melakukan verifikasi informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain. Melalui prinsip "Saring Sebelum Sharing", peserta didorong untuk lebih kritis dalam menggunakan media sosial agar tidak mudah terjebak dalam penyebaran informasi palsu.

Baca juga:RANA dan Krisis Mental Anak: Ruang Aman Saja Tak Cukup


Selain membahas literasi digital, mahasiswa Universitas Riau turut memberikan edukasi mengenai kesehatan mental di lingkungan sekolah. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya mengenali emosi, mengelola tekanan selama menjalani proses belajar, membangun rasa percaya diri, hingga menciptakan lingkungan pertemanan yang saling menghargai, mendukung, dan bebas dari perundungan.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Pemaparan materi diselingi kuis edukatif yang membuat siswa lebih aktif berpartisipasi sekaligus menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan.

Metode tersebut mendapat respons antusias dari peserta didik baru yang tampak aktif menjawab pertanyaan serta berdiskusi mengenai berbagai fenomena yang mereka temui di media sosial.

Baca juga:Krisis Kesehatan Jiwa Anak dan Tantangan Sistem Kehidupan


Perwakilan Kelompok FBN Sri Meranti, Fajri, mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

"Melalui sosialisasi ini, kami berharap adik-adik dapat menjadi generasi yang lebih bijak dalam memanfaatkan media digital, mampu menyaring informasi sebelum membagikannya, serta memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital menjadi bekal penting di era perkembangan teknologi saat ini," ujar Fajri.

Baca juga:7 Pola Asuh yang Merusak Anak


Menurutnya, literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana seseorang mampu memahami risiko yang muncul dari perkembangan teknologi, termasuk penyalahgunaan AI untuk membuat konten manipulatif.

Sementara itu, edukasi kesehatan mental diberikan sebagai upaya membangun karakter peserta didik yang tangguh sejak awal memasuki jenjang pendidikan baru. Dengan memiliki kondisi mental yang sehat, siswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, menjalin hubungan sosial yang positif, serta menghadapi berbagai tantangan belajar secara lebih baik.

Penulis
: Rahmy Asshyfa
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)