DATARIAU.COM - Kesehatan mental anak kembali menjadi perhatian publik setelah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan bahwa kesehatan mental anak akan menentukan masa depan bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan dalam peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (RANA), sebuah inisiatif yang bertujuan menghadirkan lingkungan yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak. (tvrinews.com)
Upaya ini tentu patut diapresiasi. Anak memang membutuhkan ruang yang aman dari kekerasan, perundungan, maupun berbagai ancaman yang dapat mengganggu perkembangan psikologisnya. Namun, muncul pertanyaan yang layak direnungkan bersama: apakah menyediakan ruang aman saja sudah cukup untuk menyelesaikan krisis kesehatan jiwa anak yang semakin mengkhawatirkan?
Persoalan kesehatan mental anak sejatinya tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan medis ataupun psikologis. Di balik meningkatnya kecemasan, depresi, kehilangan harapan, hingga berbagai perilaku menyimpang pada anak dan remaja, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis cara pandang hidup (way of life) serta sistem nilai yang membentuk masyarakat hari ini.
Baca juga:
Krisis Kesehatan Jiwa Anak dan Tantangan Sistem Kehidupan
Tidak dapat dimungkiri bahwa kehidupan modern saat ini dibangun di atas paradigma sekuler kapitalistik, yakni cara pandang yang memisahkan agama dari kehidupan sekaligus menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan. Dalam paradigma semacam ini, prestasi akademik, popularitas, status sosial, dan kekayaan sering kali menjadi tolok ukur kebahagiaan seseorang.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam tekanan yang besar. Mereka didorong untuk selalu berprestasi, bersaing, dan memenuhi standar kesuksesan yang ditentukan oleh masyarakat. Media sosial semakin memperkuat tekanan tersebut melalui berbagai konten yang menampilkan kehidupan serba sempurna, popularitas, dan kemewahan sebagai simbol keberhasilan. Ketika anak merasa tidak mampu memenuhi standar tersebut, muncullah rasa rendah diri, kecemasan, bahkan kehilangan makna hidup.
Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis kesehatan jiwa bukan hanya lahir dari tekanan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem nilai yang mendominasi kehidupan masyarakat. Dalam Nidhamul Islam, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang hidup bersama, yang interaksi mereka dibangun di atas kesamaan pemikiran, perasaan, dan sistem aturan. Dengan demikian, apabila sistem yang berlaku melahirkan orientasi hidup yang materialistik, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak.
Baca juga:7 Pola Asuh yang Merusak Anak
Di sinilah letak persoalan utamanya. Ketika kehidupan dijauhkan dari nilai-nilai keimanan, anak kehilangan fondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Padahal, kehidupan tidak akan pernah lepas dari ujian, kegagalan, maupun tekanan. Anak yang tidak memiliki pegangan akidah yang kuat akan lebih mudah rapuh ketika menghadapi masalah, sehingga lebih rentan mengalami stres, putus asa, bahkan kehilangan harapan untuk melanjutkan hidup.
Islam memandang bahwa ketenangan jiwa tidak dibangun semata-mata melalui lingkungan yang nyaman, tetapi juga melalui keimanan yang benar. Allah Subahanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa kemuliaan manusia di sisi-Nya diukur berdasarkan ketakwaannya, bukan harta maupun kedudukan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian" (HR Muslim).
Standar kemuliaan seperti inilah yang sesungguhnya mampu membangun kesehatan mental secara mendasar. Ketika ukuran keberhasilan adalah ketakwaan, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya, tanpa dibatasi latar belakang ekonomi maupun status sosial. Anak tidak lagi dibebani tuntutan menjadi yang paling kaya, paling populer, atau paling berprestasi demi mendapatkan penghargaan sebagai manusia.
Baca juga:Dampak Kemiskinan pada Perkembangan Otak
Sebaliknya, ketika ukuran kehidupan bergeser kepada materi, tekanan psikologis akan terus meningkat. Anak akan merasa dirinya berharga hanya jika memperoleh nilai tinggi, memiliki banyak pengikut di media sosial, atau mampu memenuhi gaya hidup tertentu. Tidak mengherankan apabila berbagai gangguan kesehatan mental terus meningkat di tengah masyarakat modern yang semakin materialistik.
Kondisi tersebut diperparah apabila sistem pendidikan lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan kepribadian dan keimanan. Anak mungkin berhasil menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi belum tentu memiliki ketangguhan mental ketika menghadapi kegagalan atau cobaan hidup. Demikian pula derasnya arus media dan budaya populer yang terus menanamkan standar kebahagiaan semu berbasis materi semakin menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai yang menenteramkan jiwa.
Karena itu, penyelesaian persoalan kesehatan mental anak tidak cukup hanya melalui program-program teknis seperti penyediaan ruang aman, layanan konseling, atau kampanye kesehatan mental. Berbagai langkah tersebut memang penting sebagai bentuk penanganan, tetapi belum menyentuh akar persoalan apabila sistem nilai yang melahirkan tekanan psikologis tetap dipertahankan.
Baca juga:Konser Coldplay Diapresiasi, Generasi Negeri Terancam Liberalisasi
Islam menawarkan penyelesaian yang lebih menyeluruh. Selain membangun keimanan individu sejak dini melalui keluarga dan pendidikan, Islam juga menempatkan negara sebagai ra'in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi rakyat. Negara berkewajiban memastikan seluruh kebijakan berjalan sesuai syariat Islam sehingga mampu menjaga akidah, akhlak, serta kesehatan jiwa masyarakat.