7 Pola Asuh yang Merusak Anak

datariau.com
3.059 view
7 Pola Asuh yang Merusak Anak

DATARIAU.COM - Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan.

Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan.

Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental -mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak- dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri.

Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?

Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah:

Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara

Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres.

Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya

Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain.

Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan

Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.

Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka.

Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas.

Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri

Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya.

Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut.

Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka.

Kelima: Kritik yang berlebihan

Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif ??" alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain.

Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain

Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka.

Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian

Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.

Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab.

Penutup

Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya.***

Sumber: konsultasisyariah.com

Tag:Anak
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)