Perlu Diketahui, Tanda Hitam di Dahi Tidak Semata Karena Ahli Sujud

datariau.com
6.931 view
Perlu Diketahui, Tanda Hitam di Dahi Tidak Semata Karena Ahli Sujud
net.
Ilustrasi orang sujud.

DATARIAU.COM - Banyak yang merasa aneh dengan tanda hitam di dahi, sebagian merasa risih, sebagian lagi mengatakan orang yang ada tanda hitam di dahi itu riya.

Sebenarnya, apakah tanda hitam di dahi atau jidat atau kening ini semata-mata karena sujud. Apakah mereka yang memiliki dahi tanda hitam merupakan ahli ibadah atau hanya dibuat-buat agar terlihat seperti ahli ibadah.

Perlu difahami, bagi orang yang mempermasalahkan perihal ini untuk banyak lagi mempelajari ilmu agama dengan ajaran yang benar berlandaskan Al Qur'an dan hadits shahih (Sunnah Nabi Shalallahu 'alahi wa sallam).

Karena betapa banyak umat Islam di zaman ini yang malah merasa aneh melihat umat Islam yang rajin ibadah. Orang yang rajin shalat 5 waktu dan berpenampilan islami, menutup aurat dengan baik, terkadang dibilang sesat. Sementara melihat orang meninggalkan shalat, membuka aurat, mereka malah santai saja bahkan menikmati. Na'udzubillah..

Tentu ini menjadi pertanyaan, apakah mereka yang mengatakan orang ke masjid dan berpenampilan Islami ini, mereka masih Islam atau segitu dangkalnya ilmu agama mereka karena sibuk mengejar dunia dan tidak mau tahu dengan agamanya, sehingga menganggap aneh agama Islam. Kita doakan semoga mereka diberikan taufiq dan hidayah oleh Allah Subahanahu wa Ta'ala untuk mempelajari agama dengan baik, tidak semata mengejar gelar doktor dan profesor di dunia yang sementara ini.

Kembali kepada pokok pembahasan, tanda hitam di dahi sebenarnya bisa saja karena struktur dahi seseorang yang berbeda, sehingga tidak semua orang yang hitam dahinya meskipun sebenarnya mereka juga sama-sama rajin shalat 5 waktu dan menegakkan shalat malam (banyak sujud).

Jika anda memiliki tanda hitam di dahi, maka jagalah hati. Karena tanda itu memang akan menggugurkan pahala anda ketika ada niat lain di hati saat terlihatnya dahi yang mulai hitam.

Sekarang kita bahas cara sujud yang benar

Dikutip dari konsultasisyariah.com, dituliskan bahwa Nabi pernah mengajari tata cara shalat yang benar kepada seseorang. Di antara yang beliau ajarkan adalah beliau bersabda:

إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ

“Jika engkau sujud maka berilah tekanan pada sujudmu.” (HR Abu Daud no 859 dari Rifa’ah bin Rafi’ dan dinilai hasan oleh al Albani)

عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ

Dari Abu Humaid as Sa’idi: “Sesungguhnya Nabi jika bersujud beliau menekankan hidung dan dahi beliau di tempat sujud, menjauhkan kedua tangannya dari dua lambungnya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan bahunya.” (HR Tirmidzi no 270. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan shahih oleh Tirmidzi dan dinilai shahih oleh al Albani)

Tentang makna dua hadits di atas al Albani mengatakan:

“Hadits di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud meletakkan dahi ketika sujud tidak cukup dengan hanya menyentuhkan dahi di tempat sujud. Yang benar ada kewajiban untuk memberikan beban kepala dan leher pada tempat sujud sehingga dahi itu dalam posisi yang kokoh di tempat sujud. Artinya jika orang yang shalat tersebut bersujud di atas kapas, rumbut atau benda yang diisi kapas atau rumput maka orang tersebut wajib menekankan kepalanya sehingga benda yang menjadi tempat sujud itu tertekan karenanya dan seandainya tangan orang tersebut diletakkan di bawah benda tadi maka akan ada bekas di tangan. Jika tata cara sujud semacam ini tidak dilakukan maka sujud tersebut adalah sujud yang tidak sah menurut pendapat yang paling kuat dalam pandangan para ulama bermazhab syafii.

Imam Haramain berkata, “Menurutku sujud itu cukup dengan menempelkan kepala dan tidak perlu ditekankan bagaimana pun bentuk tempat sujud.”

An Nawawi (3/423) berkata: “Yang sesuai dengan mazhab Syafii adalah pendapat pertama (yaitu kepala harus ditekankan ketika bersujud). Inilah pendapat yang dipilih oleh syeikh Abu Muhammad al Juwaini, penulis kitab al Tatimmah dan penulis kitab al Tahdzib.”

Kukatakan bahwa harus ditekan, itulah pendapat yang benar karena memilih pendapat Imam Haramain di atas berarti tidak mempraktekkan menekan yang terdapat dalam hadits. Tentu hal ini tidak diperkenankan sebagaiman bisa kita ketahui dengan jelas.” (Ashlu Shifat Shalat Nabi 2732-733).

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan menekankan dahi dan hidung ketika bersujud adalah kebalikan dari sekedar hanya menempelkan. Oleh karena itu mempraktekkan hal ini tidaklah menyebabkan timbulnya noda hitam di dahi apalagi noda hitam di hidung.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khulafaur rasyidin adalah orang yang paling paham dan menerapkan ketentuan ini dalam shalat yang mereka lakukan. Namun fakta membuktikan bahwa tidak ada sama sekali noda hitam di dahi-dahi mereka sebagaimana yang telah kita bahas tadi.

Jika saat ini anda yang sujud secara benar sesuai hadits tadi, kemudan muncul tanda hitam di dahi, janganlah berkecil hati, anda tidak perlu pula yang dahinya hitam harus minder, menutupnya dengan peci dan sebagainya, karena kondisi ini sesuai niat, apakah dengan dahi hitam itu anda akan merasa bangga kepada manusia, menyampaikan pesan bahwa saya ini ahli ibadah. Maka jagalah keikhlasan beribadah hanya kepada Allah, jangan berharap dipuji manusia.

Ingatlah rumus penting syarat diterimanya ibadah ada 2; Pertama: Beribadahlah ikhlas karena Allah Subahanahu wa Ta'ala semata, tanpa sedikitpun agar terlihat karena manusia. Kedua, beribadahlah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam melalui hadits-hadits shahih.

Semoga bermanfaat.

Penulis
: Abu Hakim
Editor
: Ummu SH
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)