Musnahnya Kebudayaan: Ancaman Covid Selanjutnya

Ruslan
1.678 view

DATARIAU.COM - Ternyata pandemi Covid-19 tidak hanya berefek pada kesehatan dan pendidikan, tetapi juga sektor budaya. Padahal, keragaman budaya sangat berperan penting bagi pembangunan masyarakat.

Pandemi Covid-19 menyebabkan terbatasnya akses publik pada kebudayaan. Hal ini dikhawatirkan memengaruhi keragaman budaya di berbagai tempat bahkan sampai ke dunia.

Hal ini di khawatirkan membuat sebagian dari masyarakat akan terancam kehilangan pekerjaan di sektor kebudayaan.

Keragaman budaya Indonesia terlihat dalam berbagai kebudayaan lokal yang berkembang di masyarakat. Munculnya kebudayaan karena pengaruh yang timbul dan tumbuh di masyarakat, sehingga membentuk kebudayaan itu sendiri.

Perkembangan kebudayaan memiliki peran untuk meningkatkan semangat nasionalisme, karena budaya lokal mengandung nilai-nilai sosial. Dalam konteks masyarakat multikultural, keberadaan keragaman kebudayaan adalah sesuatu yang harus dijaga dan dihormati keberadaannya.

Kebudayaan sangat berkenaan dengan keseluruhan cara hidup anggota masyarakat yang meliputi bagaimana mereka berpakaian, adat kebiasaan perkawinan mereka dan kehidupan keluarga, pola-pola kerja, upacara-upacara keagamaan dan pencarian kesenangan. Tapi sekarang harus terbatasi oleh pandemi Covid-19.

Covid-19 dan Efeknya terhadap Budaya

Pandemi sendiri merupakan sebuah epidemi yang telah menyebar ke berbagai benua dan negara, umumnya menyerang banyak orang. Sementara epidemi sendiri adalah sebuah istilah yang telah digunakan untuk mengetahui peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi area tertentu. Pasalnya, istilah pandemi tidak digunakan untuk menunjukkan tingginya tingkat suatu penyakit, melainkan hanya memperlihatkan tingkat penyebaran saja.

Pandemi Covid-19 hingga saat ini masih mewabah dan mengancam kesehatan serta jiwa seluruh rakyat. Untuk itu, masyarakat jangan sampai lengah. Kewaspadaan harus tetap dijaga, baik untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan.

Makna pandemi Covid-19 secara sosial budaya, dalam penanganan virus corona masih terdapat disinformasi yang terjadi di masyarakat baik dari sisi etnisitas, sejarah dan bahasa serta seksisme yang beredar di masyarakat melalui media sosial.

Dengan penyebaran virus yang dianggap bisa terjadi melalui kontak fisik, serta kebiasaan-kebiasaan sosial yang umum pun terpaksa harus dihindari demi mencegah penyebaran virus yang lebih luas.

Menurut Widjajanti Kepala Departemen Bahasa Belanda di Akademi Bahasa: ?Masyarakat terpaksa mengubah kebiasaan sosial, karena regulasi social distancing dan lockdown telah membuat digital menjadi ruang publik. Mengaitkan individu dan masyarakat secara menye?luruh?.

Unsur penting yang sudah dipelajari, dialami, dan dibangun bersama dalam sistem sosial budaya masyarakat pedesaan adalah gagasan, nilai, dan norma. Masyarakat yang dilanda kecemasan dan takut, akan rentan terbawa arus, Dirinya menyebutkan, kalau informasi yang disampaikan simpang siur, akan memperlebar kesempatan diskursus yang destruktif yang diterima publik dan dipercaya oleh masyarakat. Sehingga wacana ekstrimisme pun muncul di ruang publik, terutama di media sosial.

Penulis
: Della Triana
Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)