DATARIAU.COM - Hantu pocong merupakan salah satu sosok paling populer dalam budaya horor Indonesia. Sosok ini digambarkan sebagai mayat yang dibungkus kain kafan putih dan bergerak melompat-lompat. Dalam masyarakat, pocong sering dikaitkan dengan arwah gentayangan yang belum tenang.
Namun di balik popularitasnya, muncul pandangan bahwa mitos pocong sering menyeret simbol-simbol Islam ke dalam cerita horor. Sebab, penggambaran pocong identik dengan tata cara pemakaman Muslim yang menggunakan kain kafan. Karena itu, sebagian kalangan menilai kemunculan sosok pocong dalam budaya populer dapat memunculkan stereotip negatif terhadap ritual kematian dalam Islam.
Meski demikian, para peneliti budaya dan ulama menegaskan bahwa “pocong” bukan ajaran Islam, melainkan produk mitos dan folklor masyarakat yang berkembang di Nusantara.
Asal Usul Mitos Pocong
Menurut sejumlah kajian budaya, mitos pocong berkembang kuat di Jawa dan Sumatera melalui cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Pocong digambarkan sebagai jenazah yang “bangkit” karena tali kafannya belum dilepas atau karena memiliki urusan dunia yang belum selesai.
Dalam tradisi pemakaman Islam, jenazah memang dibungkus kain kafan sebelum dikuburkan. Dari sinilah muncul visual khas pocong yang kemudian dipopulerkan dalam cerita rakyat dan film horor Indonesia.
Namun secara historis, tidak ada dalil Islam yang menyebut orang meninggal bisa berubah menjadi pocong. Banyak ulama justru menolak kepercayaan tersebut karena bertentangan dengan konsep alam barzakh dalam Islam.
Sejumlah pengamat budaya menilai bahwa penggunaan simbol kafan Muslim dalam industri hiburan horor memang dapat membentuk persepsi negatif terhadap identitas keislaman, terutama ketika dikemas secara berlebihan dalam film, sinetron, atau cerita mistis.
Kajian antropologi menyebut pocong lebih tepat dipahami sebagai hasil sinkretisme budaya lokal, kepercayaan animisme, dan pengaruh tradisi masyarakat terhadap kematian. Dengan kata lain, pocong lahir dari perkembangan folklor masyarakat Indonesia, bukan dari ajaran Islam itu sendiri.
Baca juga:Praktek Ilmu Hitam, Makam Dibongkar Tali Pocong Raib Hebohkan Warga
Peran Film Horor dan Budaya Populer
Popularitas pocong meningkat drastis sejak era sinetron dan film horor Indonesia tahun 1990-an hingga 2000-an. Sosok ini kemudian menjadi ikon horor nasional.
Diskusi masyarakat di internet bahkan menyebut popularitas pocong melonjak setelah muncul serial seperti “Jadi Pocong” dan berbagai film horor bertema pocong pada awal 2000-an. Fenomena ini menunjukkan bahwa pocong berkembang besar sebagai produk budaya populer, bukan semata-mata kepercayaan agama.
Baca juga:Seram! Malang Jadi 'Kota Hantu', Pocong Korban Covid-19 Berkeliaran Teror Warga
Pandangan Islam tentang Pocong
Dalam Islam, manusia yang meninggal diyakini memasuki alam barzakh dan tidak kembali ke dunia untuk gentayangan. Beberapa ulama menjelaskan bahwa penampakan menyeramkan yang dipercaya masyarakat hanyalah bentuk gangguan jin atau khayalan manusia.
Karena itu, mempercayai pocong sebagai arwah manusia yang kembali hidup tidak memiliki dasar kuat dalam akidah Islam.