DATARIAU.COM - Ternyata pandemi Covid-19 tidak hanya berefek pada kesehatan dan pendidikan, tetapi juga sektor budaya. Padahal, keragaman budaya sangat berperan penting bagi pembangunan masyarakat.
Pandemi Covid-19 menyebabkan terbatasnya akses publik pada kebudayaan. Hal ini dikhawatirkan memengaruhi keragaman budaya di berbagai tempat bahkan sampai ke dunia.
Hal ini di khawatirkan membuat sebagian dari masyarakat akan terancam kehilangan pekerjaan di sektor kebudayaan.
Keragaman budaya Indonesia terlihat dalam berbagai kebudayaan lokal yang berkembang di masyarakat. Munculnya kebudayaan karena pengaruh yang timbul dan tumbuh di masyarakat, sehingga membentuk kebudayaan itu sendiri.
Perkembangan kebudayaan memiliki peran untuk meningkatkan semangat nasionalisme, karena budaya lokal mengandung nilai-nilai sosial. Dalam konteks masyarakat multikultural, keberadaan keragaman kebudayaan adalah sesuatu yang harus dijaga dan dihormati keberadaannya.
Kebudayaan sangat berkenaan dengan keseluruhan cara hidup anggota masyarakat yang meliputi bagaimana mereka berpakaian, adat kebiasaan perkawinan mereka dan kehidupan keluarga, pola-pola kerja, upacara-upacara keagamaan dan pencarian kesenangan. Tapi sekarang harus terbatasi oleh pandemi Covid-19.
Covid-19 dan Efeknya terhadap Budaya
Pandemi sendiri merupakan sebuah epidemi yang telah menyebar ke berbagai benua dan negara, umumnya menyerang banyak orang. Sementara epidemi sendiri adalah sebuah istilah yang telah digunakan untuk mengetahui peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi area tertentu. Pasalnya, istilah pandemi tidak digunakan untuk menunjukkan tingginya tingkat suatu penyakit, melainkan hanya memperlihatkan tingkat penyebaran saja.
Pandemi Covid-19 hingga saat ini masih mewabah dan mengancam kesehatan serta jiwa seluruh rakyat. Untuk itu, masyarakat jangan sampai lengah. Kewaspadaan harus tetap dijaga, baik untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
Makna pandemi Covid-19 secara sosial budaya, dalam penanganan virus corona masih terdapat disinformasi yang terjadi di masyarakat baik dari sisi etnisitas, sejarah dan bahasa serta seksisme yang beredar di masyarakat melalui media sosial.
Dengan penyebaran virus yang dianggap bisa terjadi melalui kontak fisik, serta kebiasaan-kebiasaan sosial yang umum pun terpaksa harus dihindari demi mencegah penyebaran virus yang lebih luas.
Menurut Widjajanti Kepala Departemen Bahasa Belanda di Akademi Bahasa: ?Masyarakat terpaksa mengubah kebiasaan sosial, karena regulasi social distancing dan lockdown telah membuat digital menjadi ruang publik. Mengaitkan individu dan masyarakat secara menye?luruh?.
Unsur penting yang sudah dipelajari, dialami, dan dibangun bersama dalam sistem sosial budaya masyarakat pedesaan adalah gagasan, nilai, dan norma. Masyarakat yang dilanda kecemasan dan takut, akan rentan terbawa arus, Dirinya menyebutkan, kalau informasi yang disampaikan simpang siur, akan memperlebar kesempatan diskursus yang destruktif yang diterima publik dan dipercaya oleh masyarakat. Sehingga wacana ekstrimisme pun muncul di ruang publik, terutama di media sosial.
Penggunaan Teknologi Informasi untuk Pelestarian Budaya
Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19 secara masif dan sistematis. Covid-19 bukan hanya virus mematikan, namun memiliki efek domino yang juga mengerikan.
Salah satu kebijakan yang digunakan pemerintah dalam mencegah dan mengendalikan penyebaran Covid-19 adalah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penerapan kebijakan ini memicu menurunnya interaksi dan konektivitas.
Dalam tatanan hidup baru memerlukan adaptasi budaya. Budaya sebelum Covid-19 jelas kondisinya berbeda dengan setelah Covid-19 dan mau tidak mau masyarakat harus siap menghadapi realita ini. Seperti halnya pada masa pandemi sekarang ini. selama pandemi Covid-19 ini tidak adanya pertunjukkan seni yang dihadiri oleh khalayak ramai secara langsung dikarenakan berpotensi melanggar protokol kesehatan dan bisa menjadi sumber penyebaran.
Oleh karena itu, membutuhkan solusi pendekatan pementasan pertunjukan seni dan budaya, salah satunya dengan menggunakan media virtual atau daring.
Virtual adalah teknologi yang dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer. Dalam teknisnya, Virtual digunakan untuk menggambarkan lingkungan tiga dimensi yang dihasilkan oleh komputer dan dapat berinteraksi dengan seseorang.
Masa pandemi Covid-19 memang membatasi semua aktivitas yang akan dilakukan oleh manusia. Semua gerak gerik manusia sekarang terbatasi pada masa pandemi Covid-19 sehingga manusia tidak bisa leluasa melakukan apa saja. Terutama tentang keragaman budaya yang sekarang mulai terancam pada masa pandemi Covid-19 ini.
Selama masih beredarnya virus Covid-19 di kalangan masyarakat, maka aktivitas keragaman budaya dalam masyarakat akan ditiadakan sampai waktu yang belum bisa di tentukan.
Selama masih beredarnya Covid-19, masyarakat belum bisa melaksanakan atau mengadakan keragaman budaya yang biasanya di selenggarakan di tengah masyarakat harus di tutup untuk sementara waktu.
Sebaiknya masyarakat harus memikirkan bagaimana caranya supaya kebudayaan pada masa pandemi bisa meningkat dan tidak terancam pada masa pandemi ini. Tapi apalah daya pada masa pandemi semuanya harus di batasi mulai dari menjaga lingkungan, mematuhi protokol kesehatan dan menjaga jarak sejauh 1 meter dari orang lain.
?Dunia harus memastikan pemulihan dari pandemi mencakup kebutuhan lembaga budaya, seni, dan orang-orang dari dunia kreatif,? ucap Guterres, Presiden Timor Leste.
Sedangkan sekarang di masa pandemi Covid-19 segala aktivitas manusia menggunakan aplikasi telekomunikasi/teleconference. Justru dengan melimpahnya bantuan teknologi tersebut kita dapat menyebarkan informasi dengan cepat mengenai kebudayaan daerah yang satu ke daerah yang lainnya bahkan sampai ke mancanegara. Sehingga kebudayaan bisa berkembang pesat di seluruh dunia dengan cepat. (*)
*Penulis merupakan mahasiswi Jurusan
Pendidikan Bahasa Indonesia di UIN Suska Riau.