Krisis Membaca di Era Video Pendek

Oleh: Riau Wika, S.Pd., M.Sn*
datariau.com
68 view
Krisis Membaca di Era Video Pendek

DATARIAU.COM - Di ruang tunggu, di kendaraan umum, saat jam istirahat, bahkan beberapa menit sebelum tidur, pemandangan yang paling mudah ditemukan saat ini adalah orang-orang yang menunduk menatap layar ponselnya. Namun, yang mereka konsumsi bukan lagi artikel panjang, buku digital, atau laporan mendalam. Sebagian besar sedang menggulir video-video pendek yang muncul tanpa henti di media sosial. Dalam hitungan detik, satu video berganti dengan video berikutnya. Informasi datang silih berganti, cepat, singkat, dan instan.

Fenomena ini menandai perubahan besar dalam cara manusia mengonsumsi informasi. Jika dahulu membaca menjadi aktivitas utama untuk memperoleh pengetahuan, kini video pendek semakin mendominasi perhatian masyarakat. Kehadiran platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts telah mengubah kebiasaan belajar, mencari informasi, bahkan cara berpikir generasi masa kini.

Perubahan tersebut tentu membawa berbagai manfaat. Informasi dapat disampaikan secara visual, menarik, dan lebih mudah dipahami. Materi pendidikan yang sebelumnya dianggap rumit kini dapat diringkas menjadi video berdurasi kurang dari satu menit. Pengetahuan menjadi lebih mudah diakses oleh siapa saja, kapan saja.

Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah kita sedang menghadapi krisis membaca?

Membaca bukan sekadar mengenali huruf dan memahami kalimat. Membaca merupakan proses intelektual yang melibatkan konsentrasi, analisis, interpretasi, serta refleksi. Ketika seseorang membaca sebuah artikel, buku, atau karya ilmiah, ia dituntut mengikuti alur pemikiran penulis, memahami konteks, serta menghubungkan berbagai gagasan secara logis. Di situlah kemampuan berpikir kritis terbentuk dan berkembang.

Sebaliknya, video pendek dirancang untuk menarik perhatian dalam waktu sesingkat mungkin. Algoritma media sosial bekerja dengan menyajikan konten yang mampu mempertahankan pengguna agar terus menonton. Akibatnya, informasi sering kali disederhanakan menjadi potongan-potongan singkat yang mudah dicerna, tetapi miskin kedalaman. Pengguna terbiasa menerima jawaban instan tanpa melalui proses pemahaman yang utuh.

Baca juga:Menembus Batas Teori: Sinergi BPN Kota Makassar dan Mahasiswa PAP dalam Dialektika Praktik Kerja


Dalam jangka panjang, pola konsumsi informasi semacam ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi. Banyak pendidik mengeluhkan bahwa mahasiswa semakin sulit bertahan membaca teks panjang. Beberapa halaman bacaan sudah dianggap membosankan. Tidak sedikit yang lebih memilih menonton video rangkuman daripada membaca sumber aslinya. Informasi yang cepat, praktis, dan langsung pada inti persoalan menjadi pilihan utama.

Padahal, tidak semua pengetahuan dapat dipahami melalui ringkasan singkat. Pemikiran filsafat, teori pendidikan, kajian sejarah, penelitian ilmiah, hingga karya sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan keterlibatan intelektual untuk dipahami secara mendalam. Ketika budaya membaca melemah, kemampuan memahami persoalan yang kompleks juga berisiko ikut menurun.

Krisis membaca ini tidak hanya terjadi di kalangan pelajar dan mahasiswa. Masyarakat secara umum pun menunjukkan gejala yang sama. Banyak orang lebih tertarik pada judul daripada isi berita. Sebagian bahkan langsung menyimpulkan suatu persoalan hanya berdasarkan potongan video atau cuplikan informasi yang beredar di media sosial. Akibatnya, ruang publik dipenuhi opini yang terbentuk dari informasi yang tidak utuh.

Fenomena maraknya hoaks dan disinformasi juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan literasi. Ketika seseorang tidak terbiasa membaca secara mendalam dan memeriksa sumber informasi, ia lebih mudah menerima serta menyebarkan informasi yang sesuai dengan keyakinannya tanpa melakukan verifikasi. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan literasi menjadi semakin penting sebagai benteng terhadap manipulasi informasi.

Baca juga:Dua Bulan Setelah Umrah, Ayah Wafat: Dodi Irawan Abadikan Kisahnya dalam “Qiblatain”


Meski demikian, menyalahkan video pendek sepenuhnya bukanlah langkah yang bijaksana. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Persoalannya bukan terletak pada keberadaan video pendek, melainkan pada cara manusia memanfaatkannya. Video pendek dapat menjadi media edukasi yang efektif apabila digunakan untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan mendorong seseorang mencari informasi lebih lanjut. Sayangnya, dalam banyak kasus, video pendek justru menjadi tujuan akhir, bukan pintu masuk menuju pembelajaran yang lebih mendalam.

Di dunia pendidikan, tantangan ini semakin nyata. Guru dan dosen kini berhadapan dengan generasi yang tumbuh dalam budaya visual dan serba cepat. Metode pembelajaran yang hanya mengandalkan ceramah dan bacaan panjang sering kali dianggap kurang menarik. Karena itu, lembaga pendidikan perlu beradaptasi tanpa mengorbankan esensi literasi.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan teknologi dengan budaya membaca. Video pendek dapat dimanfaatkan sebagai pemantik diskusi atau pengantar materi, tetapi harus diikuti dengan aktivitas membaca, analisis, dan refleksi. Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan membaca, melainkan memperkuatnya.

Selain lembaga pendidikan, keluarga juga memiliki peran yang sangat penting. Kebiasaan membaca tidak lahir secara instan. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang menghargai buku dan aktivitas membaca cenderung memiliki minat baca yang lebih baik. Sebaliknya, jika sejak kecil mereka lebih sering terpapar layar tanpa pendampingan yang memadai, membaca akan terasa sebagai aktivitas yang berat dan membosankan.

Baca juga:Aturan Baru Masuk SD 2026: Tak Wajib Ijazah TK, Usia Tak Harus 7 Tahun, hingga Tes Calistung Dihapus


Lebih jauh lagi, krisis membaca sesungguhnya bukan hanya persoalan pendidikan, melainkan persoalan peradaban. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengakses informasi, tetapi juga oleh kemampuan memahami, mengolah, dan menghasilkan pengetahuan. Masyarakat yang gemar membaca akan memiliki daya pikir yang lebih kritis, kreatif, dan terbuka terhadap berbagai perspektif.

Sejarah telah menunjukkan bahwa perubahan besar dalam peradaban manusia selalu berkaitan erat dengan budaya literasi. Buku, tulisan, dan tradisi membaca telah melahirkan berbagai penemuan, gagasan besar, serta kemajuan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ketika masyarakat lebih menyukai informasi yang dangkal dan instan, kualitas diskusi publik berisiko menurun.

Kita tentu tidak dapat menghentikan perkembangan teknologi atau menghapus keberadaan video pendek dari kehidupan modern. Namun, kita dapat membangun keseimbangan. Video pendek dapat menjadi sarana hiburan dan sumber informasi awal, tetapi membaca harus tetap menjadi fondasi utama dalam memperoleh pengetahuan yang mendalam.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)