PEKANBARU, datariau.com - Mahasiswa saat ini semakin dituntut aktif menulis artikel untuk memenuhi tugas kuliah, publikasi kegiatan kampus, hingga membangun portofolio akademik. Namun sayangnya, tidak sedikit tulisan mahasiswa yang gagal dimuat di media online, khususnya media lokal di Riau. Penyebabnya bukan karena isi tulisan buruk, tetapi sering kali karena kesalahan mendasar yang sebenarnya bisa dihindari.
Di tengah meningkatnya kebutuhan publikasi akademik, banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia mulai mengirimkan artikel ke media online. Namun, redaksi media memiliki standar tertentu yang harus dipahami penulis, terutama mahasiswa yang baru pertama kali mengirim karya tulis.
Media online memiliki karakter, gaya bahasa, serta standar editorial masing-masing. Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa menulis untuk media berbeda dengan menulis makalah kampus atau tugas kuliah biasa.
Berikut lima kesalahan fatal yang membuat tulisan mahasiswa sering gagal dimuat di media online Riau.
1. Tidak Melampirkan Identitas Penulis
Kesalahan paling mendasar yang masih sering terjadi adalah mahasiswa mengirim artikel tanpa identitas lengkap. Padahal, identitas merupakan bagian penting untuk kebutuhan verifikasi redaksi.
Banyak mahasiswa hanya mengirim file artikel tanpa mencantumkan nama lengkap, asal kampus, program studi, nomor kontak, hingga keterangan singkat penulis.
Akibatnya, redaksi kesulitan melakukan konfirmasi apabila ada revisi atau kekurangan data dalam tulisan. Dalam dunia media, identitas penulis juga menjadi bentuk pertanggungjawaban terhadap isi artikel.
Idealnya, mahasiswa mencantumkan:
* Nama lengkap
* Asal perguruan tinggi
* Program studi/fakultas
* Nomor WhatsApp aktif
* Foto penulis (jika diminta media)
* Keterangan singkat biodata
2. Tidak Mengenal Karakter Media Online yang Dituju
Kesalahan kedua yang paling sering terjadi adalah mahasiswa tidak mempelajari karakter media online sebelum mengirim tulisan.
Padahal, setiap media memiliki segmentasi pembaca, gaya bahasa, serta tema tertentu. Ada media yang fokus pada berita formal, ada yang lebih ringan, ada pula yang mengutamakan opini akademik, pendidikan, atau dakwah.
Mahasiswa sering langsung mengirim tulisan tanpa membaca contoh artikel di media tersebut terlebih dahulu. Akibatnya, isi tulisan tidak sesuai dengan standar redaksi sehingga sulit dipublikasikan.
Misalnya, ada media yang mengutamakan bahasa formal sesuai kaidah jurnalistik dan menghindari tulisan terlalu akademis seperti makalah kampus. Ada juga media yang mengutamakan akurasi fakta, struktur berita jelas, serta bahasa yang mudah dipahami pembaca umum. Pedoman editorial menjadi acuan penting sebelum mengirim artikel.
Sebelum mengirim tulisan, mahasiswa sebaiknya membaca minimal 10-20 artikel yang pernah tayang di media tujuan agar memahami pola penulisan yang disukai redaksi.
3. Judul Terlalu Panjang dan Tidak Menarik
Kesalahan berikutnya adalah membuat judul terlalu panjang, rumit, dan terkesan seperti skripsi.
Banyak mahasiswa menggunakan gaya penulisan akademik seperti:
"Analisis Implementasi Strategi Penguatan Literasi Digital terhadap Tingkat Pemahaman Masyarakat dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi Informasi di Era Modern."
Judul seperti ini cenderung kurang menarik untuk media online.
Media digital membutuhkan judul yang singkat, jelas, dan mengundang rasa ingin tahu pembaca tanpa kehilangan substansi. Judul yang terlalu panjang sering membuat pembaca enggan membuka artikel.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar teknik membuat judul yang ringkas namun kuat secara informasi.
4. Tulisan Masih Berbentuk Makalah Kampus
Tidak sedikit mahasiswa mengirim artikel yang sebenarnya masih berbentuk tugas makalah.
Ciri-cirinya mudah dikenali: terlalu banyak teori, bahasa terlalu kaku, penuh kutipan panjang, serta minim sudut pandang yang relevan bagi pembaca umum.
Padahal, artikel media online harus lebih komunikatif, mudah dipahami, dan langsung pada inti pembahasan.
Tulisan untuk media bukan sekadar memindahkan isi tugas kuliah, melainkan mengemas gagasan agar menarik dibaca masyarakat luas.
Mahasiswa harus memahami bahwa pembaca media online berbeda dengan dosen penguji di ruang kelas.