Dua Bulan Setelah Umrah, Ayah Wafat: Dodi Irawan Abadikan Kisahnya dalam “Qiblatain”

datariau.com
80 view
Dua Bulan Setelah Umrah, Ayah Wafat: Dodi Irawan Abadikan Kisahnya dalam “Qiblatain”
Foto: Ist.
Foto bersama usai acara bedah buku puisi serta novel karya Dodi Irawan Bakaghojoo di Pendopo Kopi, Jalan Pelangi, Pekanbaru, Ahad (24/5/2026).

PEKANBARU, datariau.com - Perkumpulan Penulis Satupena Riau menggelar peluncuran dan bedah buku puisi serta novel karya pengurus Satupena Riau, Dodi Irawan Bakaghojoo, Ahad (24/5/2026) di Pendopo Kopi, Jalan Pelangi, Pekanbaru.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah sastrawan dan pegiat literasi di Riau, di antaranya Husnu Abadi, Fakhrunnas MA Jabbar, Aris Abeba, Syarifuddin Sei Gergaji, serta Lusi Di Amanda bersama sejumlah komunitas baca di Riau.

Acara bedah buku menghadirkan dua narasumber, yakni Dheni Kurnia serta Bambang Karyawan.

Ketua Satupena Riau, Satria Utama Batubara mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Satupena terhadap para penulis di Riau sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi pecinta sastra dan pegiat literasi.

“Acara ini sebagai wujud dukungan Satupena Riau terhadap para penulis di Riau sekaligus ajang silaturahmi antara pecinta sastra dan pegiat literasi,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Saut Albara itu menambahkan, ke depan Satupena Riau akan kembali mengaktifkan berbagai kegiatan untuk meningkatkan minat menulis di kalangan generasi muda.

“Beberapa waktu terakhir, saya dan Bung Dodi telah melakukan roadshow ke beberapa kampus untuk memotivasi mahasiswa melek literasi dan menulis,” katanya.

Sementara itu, Dodi Irawan Bakaghojoo mengaku senang dapat meluncurkan sekaligus membedah buku hasil karyanya tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi motivasi untuk terus berkarya di dunia literasi.

“Ini semakin menambah semangat saya untuk terus menulis dan berkarya di masa yang akan datang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Dodi memperkenalkan buku puisi berjudul Qiblatain yang merupakan buku puisinya yang kedua. Ia menjelaskan, berbeda dengan buku pertamanya berjudul Pesajian yang sarat kritik sosial, Qiblatain lebih bernuansa religius.

“Puisi-puisi dalam buku ini saya dedikasikan untuk almarhum ayah saya, sebab sebagian besar tema puisi di buku ini terinspirasi saat saya menemani ayah melaksanakan ibadah umrah. Dua bulan setelah umrah, ayah saya wafat,” ungkapnya.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)