Bullying di Pesantren: Luka yang Menyingkap Gagalnya Sistem, Bukan Gagalnya Islam

Oleh: Alfira Khairunnisa*
datariau.com
151 view
Bullying di Pesantren: Luka yang Menyingkap Gagalnya Sistem, Bukan Gagalnya Islam
Ilustrasi. (Foto: OpenAI)

Mengobati Luka dengan Akar, Bukan Plester


Kasus Lombok Tengah adalah alarm. Ia berteriak bahwa model pendidikan kita sedang sakit. Menambalnya dengan seminar anti-bullying atau menambah psikolog sekolah saja tidak cukup. Luka ini butuh obat sampai ke akar: mengembalikan Islam sebagai asas berpikir, bernegara, dan mendidik.

Selama sekularisme masih menjadi ide dasar negara, selama pendidikan masih diukur dari nilai ujian, dan selama negara masih lepas tangan dari pembinaan generasi, maka kasus bullying akan terus berulang, bahkan lebih sadis dari sebelumnya.

Islam menawarkan jalan keluar yang tuntas. Bukan dengan slogan, tapi dengan sistem. Sistem yang menjadikan iman sebagai pengendali, syariat sebagai standar, dan negara sebagai penjaga. Hanya dengan itu, pesantren akan kembali menjadi tempat menimba ilmu dan cahaya, bukan tempat menetesnya darah santri.***

*) Penulis merupakan Aktivis IDARI (Ikatan Daiyah Riau)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)