DATARIAU.COM - Pernahkah kita bertanya mengapa seseorang yang awalnya rajin beribadah perlahan berubah? Shalat mulai ditinggalkan, ucapan semakin kasar, maksiat dianggap biasa, bahkan nasihat agama justru terasa mengganggu? Salah satu jawabannya bisa jadi ada pada lingkungan pergaulan.
Teman bukan sekadar orang yang diajak bercanda, makan bersama atau menghabiskan waktu luang. Dalam Islam, teman dekat memiliki pengaruh besar terhadap agama, akhlak, cara berpikir dan kebiasaan seseorang.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Baca juga:Apakah Dia Sahabat Sejatimu? Uji dengan Tiga Hal Ini!
Seseorang dapat memperoleh pengaruh besar dari teman pergaulannya. Ada yang mendapatkan hidayah dan kebaikan karena berteman dengan orang saleh, tetapi ada pula yang terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kesesatan karena lingkungan pertemanan yang buruk.
Teman dapat menjadi cerminan seseorang. Teman bisa memengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang. Lantas, siapa saja yang sebaiknya tidak dijadikan teman dekat?
1. Orang yang Bodoh dan Tidak Memiliki Pertimbangan yang Baik
Islam tidak mengajarkan kita untuk merendahkan orang yang kurang ilmu. Namun, dalam memilih teman dekat, seseorang hendaknya mempertimbangkan apakah temannya memiliki akal dan kemampuan membedakan antara kebaikan dan keburukan.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menyebutkan bahwa orang yang dipilih menjadi sahabat hendaknya memiliki akal. Sebab, berteman dengan orang yang bodoh dapat mendatangkan mudarat. Bahkan seseorang yang berniat membantu karena ketidaktahuannya justru bisa menyebabkan keburukan.
Baca juga:4 Cara Agar Hidup Tenang di Zaman Sekarang
Karena itu, jangan menjadikan seseorang sebagai tempat utama meminta nasihat apabila ia sendiri tidak mampu memahami persoalan dengan baik. Teman dekat seharusnya membantu kita berpikir jernih, bukan membawa kita kepada keputusan yang merugikan agama dan kehidupan.
2. Orang yang Buruk Akhlaknya
Akhlak buruk juga dapat menular. Orang yang terbiasa berkata kasar, berdusta, mencela, merendahkan orang lain, mudah marah atau mengikuti hawa nafsu dapat memberikan pengaruh buruk kepada orang yang terus-menerus bersamanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan yang sangat jelas mengenai hal ini, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga:
Hukum Shalat Jenazah Untuk Orang yang Bundir
Hadits tersebut menunjukkan keutamaan bergaul dengan orang yang baik akhlaknya sekaligus peringatan dari pergaulan yang membawa pengaruh buruk. Maka, jangan hanya memilih teman karena dia lucu, populer atau selalu membuat kita merasa nyaman. Pilihlah teman yang juga membantu kita menjadi manusia yang lebih baik.
3. Orang Fasik yang Terang-terangan Gemar Bermaksiat
Maksiat yang terus-menerus disaksikan dapat kehilangan rasa buruknya di dalam hati. Awalnya seseorang mungkin merasa risih melihat temannya melakukan dosa. Namun karena terus bersama, dosa tersebut perlahan dianggap biasa.
Hari ini hanya melihat. Besok ikut mencoba. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Inilah salah satu bahaya pergaulan yang buruk.
Pergaulan dengan orang yang buruk akhlaknya dan pelaku maksiat dapat memberikan pengaruh buruk terhadap seseorang.
Baca juga:Penyebab Allah Menahan Hujan: Akibat Maksiat dan Kezaliman Manusia
Bukan berarti seorang Muslim harus bersikap kasar kepada pelaku maksiat. Justru mereka tetap harus diperlakukan dengan akhlak yang baik dan dinasihati sesuai kemampuan.
Namun, menjadikan seseorang yang gemar bermaksiat sebagai teman dekat yang sangat memengaruhi kehidupan adalah perkara yang perlu diwaspadai.
4. Orang yang Mengajak kepada Penyimpangan Agama - Ini yang Paling Membahayakan
Inilah yang paling perlu diwaspadai. Mengapa? Karena kerusakan akhlak mungkin masih mudah dikenali. Tetapi ketika seseorang mulai terpengaruh dalam perkara agama, kerusakannya bisa menyentuh keyakinan, prinsip dan cara seseorang memahami kebenaran.
Teman yang baik hendaknya bukan orang yang memiliki penyimpangan dalam agama. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan teman dekat hendaknaya bukan ahli bid'ah.
Yang dimaksud di sini adalah kewaspadaan terhadap teman dekat yang secara nyata mengajak kepada keyakinan atau amalan agama yang menyimpang dari tuntunan syariat, sementara kita sendiri tidak memiliki ilmu untuk membantahnya.
Baca juga:Maulid Nabi Tidak Diperingati di Dua Kota Suci Makkah dan Madinah, Ini Alasannya!
Sebab, seseorang yang terus-menerus mendengar suatu pemikiran bisa saja akhirnya menganggapnya sebagai kebenaran. Pergaulan dengan orang yang memiliki karakter atau pemikiran buruk perlu mempertimbangkan manfaat dan mudarat. Jika pergaulan justru membahayakan agama seseorang, maka pergaulan tersebut harus dijauhi.
Jangan merasa terlalu kuat untuk terkena fitnah. Hati manusia dapat berubah. Karena itu, menjaga agama harus menjadi prioritas.
5. Orang yang Terlalu Rakus Mengejar Dunia
Islam tidak melarang seorang Muslim menjadi kaya. Islam juga tidak melarang seseorang memiliki rumah yang baik, kendaraan, usaha, pekerjaan dan harta yang halal. Yang perlu diwaspadai adalah ketika dunia menjadi tujuan utama sehingga agama dikorbankan.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah memasukkan orang yang rakus terhadap dunia sebagai salah satu karakter yang tidak baik untuk dijadikan sahabat dekat.
Bayangkan jika setiap hari kita hanya mendengar pembicaraan tentang uang, jabatan, kemewahan, popularitas dan kesenangan. Lambat laun hati bisa ikut mengejar hal yang sama.
Sebaliknya, teman yang mengingatkan kita tentang akhirat akan membuat kehidupan lebih seimbang. Ketika kita lalai, ia mengingatkan. Ketika kita mendapatkan nikmat, ia mengajarkan syukur. Ketika kita terjatuh dalam dosa, ia mengingatkan untuk bertaubat. Ketika kita terlalu mengejar dunia, ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak kekal.
Teman Sejati Bukan yang Selalu Membenarkan
Pada akhirnya, ukuran teman yang baik bukan sekadar apakah dia menyenangkan untuk diajak berkumpul. Teman yang baik adalah orang yang membawa kita lebih dekat kepada kebaikan. Memilih teman bukan perkara ringan karena seorang teman dapat memengaruhi agama, pandangan hidup dan kebiasaan seseorang.
Karena itu, coba periksa kembali lingkaran pertemanan kita. Apakah setelah berteman dengan mereka kita semakin rajin shalat? Apakah kita semakin senang membaca Al-Qur’an? Apakah kita semakin mudah menerima nasihat? Apakah kita semakin menjaga lisan? Apakah kita semakin takut melakukan maksiat? Atau justru sebaliknya?
Jika setelah bergaul dengan seseorang iman kita semakin lemah, maksiat semakin ringan dilakukan dan nasihat agama semakin kita tinggalkan, maka sudah waktunya mengevaluasi hubungan tersebut.
Berteman dengan Semua Orang Tidak Berarti Menjadikan Semua Orang Sahabat Dekat
Perlu dipahami, memilih teman dekat bukan berarti kita boleh membenci, menghina atau berbuat zalim kepada orang yang memiliki kekurangan. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama.
Larangan menjadikan seseorang sebagai teman dekat yang berpengaruh buruk bukan berarti seorang Muslim sama sekali tidak boleh berinteraksi dengan orang yang memiliki kekurangan dalam agama atau akhlak. Pertimbangan utamanya adalah manfaat dan mudarat dari pergaulan tersebut.
Jika kita memiliki ilmu, kemampuan dan kondisi yang memungkinkan untuk menasihati serta memberi pengaruh baik, maka itu merupakan perkara yang berbeda. Tetapi jika justru kita yang semakin rusak karena pergaulan tersebut, maka menjaga diri menjadi lebih utama. Sebelum memilih teman dekat, lihatlah agama dan akhlaknya.
Karena boleh jadi, orang yang hari ini kita anggap hanya sebagai teman, justru menjadi salah satu orang yang paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita di dunia dan keselamatan kita di akhirat.***