Pembantaian Kiai dan Santri oleh PKI, Saksi Mata: Terdengar Suara Azan dan Jeritan Histeris di Malam itu

5.037 view
Pembantaian Kiai dan Santri oleh PKI, Saksi Mata: Terdengar Suara Azan dan Jeritan Histeris di Malam itu
Gambar: VIO ISLAM
Ilustrasi pembantaian Kiai oleh PKI.

DATARIAU.COM - "Darah itu merah jenderal" adalah satu kalimat yang tidak mungkin dilupakan begitu saja dalam sejara Indonesia. Setiap tanggal 30 September masyarakat Indonesia teringat dengan peristiwa kelam, pada saat itu terjadi pembantain yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mereka bahkan tidak segan-segan membantai para kiai dan alim ulama. Pada dasarnya pembantaian itu merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat.

Dilansir dari Republika.co.id, pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 tidak hanya melibatkan para pejabat pemerintah pusat, tapi juga penduduk biasa yang dimiliki rasa dendam terutama ulama-ulama tradisional dan santri. Alim ulama dan santri dikunci di dalam masjid yang kemudian dibakar hanya karena mereka benci dengan agama Muslim.

Pada tanggal 1 Oktober 1948 dengan alasan kaum FDR-PKI merasa tidak suka pada orang-orang Masyumi. Semua pimpinan Masyumi dan PNI dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi, tubuh mereka dipisahkan dengan kepalanya. Orang-orang yang terbunuh dibiarkan tergeletak di sepanjang jalanan di kota Madiun. Sehingga hanya dalam beberapa hari saja darah manusia telah membanjiri kota Madiun.

PKI bergerak ke pesantren Sabilul Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan pesantren Takeran. Bersamaan dengan kudeta terhadap pemerintah, pendukung PKI mengincar tokoh-tokoh dari pesantren Takeran. Karena pesantren Takeran pada masa pimpinan kiai Imam Mursjid Muttaqien merupakan pesantren yang paling berwibawa di kawasan Magetan.

Ba'da salat Jumat tepatnya tanggal 17 september 1948, pimpinan pesantren Takeran Kiai Imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI, yang diantara salah satunya mantan santri pondok pesantren Takeran. Ia bernama Ilyas alias Sipit yang dulunya dikenal sebagai kepala Takeran yang mengekang senapan.

Saat didatangi tokoh PKI pimpinan Takeran dibawa keluar dari mushola kecil untuk berunding mengenai Republik Soviet Indonesia versi PKI.

Saat diwawancarai dari tim Jurnalis Insan Islam Bersatu, menurut salah satu saksi mata ikhsan mengungkapkan, pada saat itu pesantren sudah dikepung ratusan orang PKI dengan berpakaian hitam serta memakai ikat kepala berwarna merah dan dilengkapi dengan senapan.

Satu-persatu tokoh-tokoh pesantren Takeran ditarik PKI. Diawali dengan penangkapan sepupu Kiai Imam Mursjid yaitu Kiai Muhammad Nur dengan alasan perundingan membutuhkan kehadiran Kiai Muhammad Nur.

Selanjutnya, PKI mengatakan dua tokoh pimpinan pesantren Takeran bisa pulang setelah ustadz Muhammad Tarmuji datang menjemput mereka langsung ke Gorang Gareng, yaitu markas PKI yang terletak 6 KM sebelah barat bagian Takeran.

PKI terus menangkap tokoh-tokoh penting pesantren Takeran dan berakhir dengan penangkapan ustadz yang berasal dari Al Azhar, Mesir. yang bernama Hadi Adaba'.

Tentu itu semua hanyalah strategi PKI yang tidak suka dengan tokoh-tokoh agama Islam. Tokoh yang ditangkap tidak pernah kembali dan sebagian besar sudah ditemukan menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian PKI yang tersebar di daerah Magetan. Namun anehnya, tokoh penting pesantren Takeran yaitu Kiai Imam Mursjid yang tidak ditemukan mayatnya. Bahkan hingga tahun 1990 mayat beliau tidak kunjung ditemukan.

Hari Sabtu pagi tepatnya pada tanggal 18 September 1948, ulama dan kiai pesantren Burikin di serbu dan diseret sejauh 500 meter dari pesantren Burikin ke desa Batokan.

Penulis
: Khumar Mahendra
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)