DATARIAU.COM
- "Darah itu merah jenderal" adalah satu kalimat yang tidak mungkin dilupakan
begitu saja dalam sejara Indonesia. Setiap tanggal 30 September masyarakat
Indonesia teringat dengan peristiwa kelam, pada saat itu terjadi pembantain
yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Mereka
bahkan tidak segan-segan membantai para kiai dan alim ulama. Pada dasarnya
pembantaian itu merupakan bagian dari
aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat.
Dilansir
dari Republika.co.id, pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 tidak hanya
melibatkan para pejabat pemerintah pusat, tapi juga penduduk biasa yang
dimiliki rasa dendam terutama ulama-ulama tradisional dan santri. Alim ulama
dan santri dikunci di dalam masjid yang kemudian dibakar hanya karena mereka
benci dengan agama Muslim.
Pada tanggal
1 Oktober 1948 dengan alasan kaum FDR-PKI merasa tidak suka pada orang-orang Masyumi.
Semua pimpinan Masyumi dan PNI dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi, tubuh
mereka dipisahkan dengan kepalanya. Orang-orang yang terbunuh dibiarkan
tergeletak di sepanjang jalanan di kota Madiun. Sehingga hanya dalam beberapa
hari saja darah manusia telah membanjiri kota Madiun.
PKI
bergerak ke pesantren Sabilul Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan pesantren
Takeran. Bersamaan dengan kudeta
terhadap pemerintah, pendukung PKI mengincar tokoh-tokoh dari pesantren
Takeran. Karena pesantren Takeran pada masa pimpinan kiai Imam Mursjid Muttaqien
merupakan pesantren yang paling berwibawa di kawasan Magetan.
Ba'da
salat Jumat tepatnya tanggal 17 september 1948, pimpinan pesantren Takeran Kiai
Imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI, yang diantara salah satunya mantan
santri pondok pesantren Takeran. Ia
bernama Ilyas alias Sipit yang dulunya dikenal sebagai kepala Takeran yang
mengekang senapan.
Saat
didatangi tokoh PKI pimpinan Takeran dibawa keluar dari mushola kecil untuk
berunding mengenai Republik Soviet Indonesia versi PKI.
Saat
diwawancarai dari tim Jurnalis Insan Islam Bersatu, menurut salah satu saksi
mata ikhsan mengungkapkan, pada saat itu pesantren sudah dikepung ratusan orang
PKI dengan berpakaian hitam serta memakai ikat kepala berwarna merah dan
dilengkapi dengan senapan.
Satu-persatu
tokoh-tokoh pesantren Takeran ditarik PKI. Diawali dengan penangkapan sepupu Kiai
Imam Mursjid yaitu Kiai Muhammad Nur dengan alasan perundingan membutuhkan
kehadiran Kiai Muhammad Nur.
Selanjutnya,
PKI mengatakan dua tokoh pimpinan pesantren Takeran bisa pulang setelah ustadz
Muhammad Tarmuji datang menjemput mereka langsung ke Gorang Gareng, yaitu markas PKI yang terletak
6 KM sebelah barat bagian Takeran.
PKI
terus menangkap tokoh-tokoh penting pesantren Takeran dan berakhir dengan
penangkapan ustadz yang berasal dari Al Azhar, Mesir. yang bernama Hadi Adaba'.
Tentu
itu semua hanyalah strategi PKI yang tidak suka dengan tokoh-tokoh agama Islam.
Tokoh yang ditangkap tidak pernah kembali dan sebagian besar sudah ditemukan
menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian PKI yang tersebar di daerah Magetan.
Namun anehnya, tokoh penting pesantren Takeran yaitu Kiai Imam Mursjid yang tidak ditemukan mayatnya. Bahkan hingga
tahun 1990 mayat beliau tidak kunjung ditemukan.
Hari
Sabtu pagi tepatnya pada tanggal 18 September 1948, ulama dan kiai pesantren Burikin
di serbu dan diseret sejauh 500 meter
dari pesantren Burikin ke desa Batokan.
Kemudian
beralih ke sumur tua Cigrok, salah satu
tempat pembantaian kebiadaban PKI. Sumur tua Cigrok adalah salah satu tempat
selain lubang buaya yang merupakan
tempat ditemukannya mayat 6 jenderal yang tewas dibantai dalam waktu 6
jam.
Sumur
tua Cigrok terletak di desa Cigrok bagian
selatan Takeran. lebih spesifiknya terletak
di belakang rumah seorang orang warga
yang non PKI.
Lebih
akrabnya dipanggil To Teruno Dan Beliaulah yang melaporkan kegiatan PKI di
sumur miliknya kepada kepala desa.
Pada
tahun 1948 tepatnya malam terjadinya penanggalan itu, terdengar suara bentakan
yang diiringi jeritan histeris. Muslim seorang santri yang tinggal dekat sumur
tua itu menyaksikan kekejaman PKI.
Pada
malam itu Muslim mendengar suara Adzan dari salah satu korban yang menurutnya
adalah suara Khalifah Wah Imam Sofyan dari pesantren Kebonsari. Kejadian itu
juga disaksikan Ahmad Idris tokoh Masyumi di desa Cigrok yang menyaksikan
penjagalan PKI dari kejauhan.
Berbeda
dengan biasanya pembantaian di sumur Cigrok tidak menggunakan senpi atau
klewang. Namun, menggunakan pentungan. Idris mengatakan tawanan dengan kondisi
tangan terikat dihadapkan ke arah timur sumur dan kemudian dihantamkan dengan
pentungan di bagian belakang kepala yang kemudian dimasukkan ke lubang Cigrok.
Korban
yang dimasukkan ke lubang Cigrok sebagian besar masih ada yang hidup, namun
kekejaman PKI, lubang tersebut langsung ditimbun dengan jerami dan bebatuan serta
paling sedikit memakan korban berjumlah 22 orang.
Pada 24
September 1948, bertepatan pada malam Jumat Kliwon menjadi hari bersejarah bagi
kampung Kauman. Seluruh warga laki-laki
Kauman ditawan dan kemudian digiring ke masopati dalam keadaan tangan terikat
dari tali bambu.
Parto
Mendoyo seorang pengusaha meubel makanan pada masa itu menjadi saksi mata dan
sempat dijadikan tawanan. Parto menyebut pada Senin Legi tanggal 20 September
1948, tiba-tiba datang sebuah truk yang berisikan orang-orang PKI yang
berteriak mencari pembunuh salah satu orangnya.
"Dua
di atas truk memang ada mayat yang dibungkus kain dan hanya kelihatan kakinya
saja," ungkap Parto.
Ia
menceritakan ini adalah akal-akalan PKI yang ingin menjebak lawan-lawan yang
menghalangi pemberontakan mereka.
Dari
Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian
diangkut dengan Lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok.
?Dari
glodok kami dipindahkan ke Geneng dan Keniten. Tetapi sebelum disembelih, kami
berhasil diselamatkan oleh tentara Siliwangi,? ujar Parto Mandojo tentang
peristiwa mencekam itu.
Pembakaran
Kampung Kauman pada dasarnya merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh
agama Islam di tengah masyarakat. Sebab, sebelum aksi pembakaran itu, Madrasah
Pesantren Takeran juga telah dibakar, beberapa saat setelah Kiai Imam Mursjid
tertawan. Pesantren Burikan pun tak luput dari serbuan PKI. Kemudian para
tokoh-tokoh pesantren seperti Kiai Kenang, Kiai Malik, dan Muljono dibantai di
Batokan. Korban lain dari kalangan ulama yang dibantai oleh PKI adalah keluarga
pesantren Kebonsari, Madiun.
Di
Pondok Pesantren Gontor, PKI juga menyebarkan terornya, seperti dituturkan oleh
Kafrawi, saksi hidup yang diwawancarai Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU), yang
saat kejadian, masih jadi santri di pesantren Gontor, Ponorogo. Ketika itu,
pesantren Gontor dikuasai dan diancam oleh PKI. Banyak orang PKI berpakaian
hitam datang ke Gontor, lalu mengancam.
?Kalau
tidak mau menyerah, kita akan habiskan besok dan akan kita duduki,? katanya.
Berbagai
peristiwa biadab tersebut, sebetulnya menjelaskan bahwa pemberontakan PKI di
Madiun tahun 1948, sangat tidak bisa diampuni. Jika hanya tidak suka agamanya
mengapa mereka membantai para kiai dan santrinya yang tak bersalah. (*)
Source: Republika.co.id