Pembantaian Kiai dan Santri oleh PKI, Saksi Mata: Terdengar Suara Azan dan Jeritan Histeris di Malam itu

5.036 view
Pembantaian Kiai dan Santri oleh PKI, Saksi Mata: Terdengar Suara Azan dan Jeritan Histeris di Malam itu
Gambar: VIO ISLAM
Ilustrasi pembantaian Kiai oleh PKI.

DATARIAU.COM - "Darah itu merah jenderal" adalah satu kalimat yang tidak mungkin dilupakan begitu saja dalam sejara Indonesia. Setiap tanggal 30 September masyarakat Indonesia teringat dengan peristiwa kelam, pada saat itu terjadi pembantain yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mereka bahkan tidak segan-segan membantai para kiai dan alim ulama. Pada dasarnya pembantaian itu merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat.

Dilansir dari Republika.co.id, pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 tidak hanya melibatkan para pejabat pemerintah pusat, tapi juga penduduk biasa yang dimiliki rasa dendam terutama ulama-ulama tradisional dan santri. Alim ulama dan santri dikunci di dalam masjid yang kemudian dibakar hanya karena mereka benci dengan agama Muslim.

Pada tanggal 1 Oktober 1948 dengan alasan kaum FDR-PKI merasa tidak suka pada orang-orang Masyumi. Semua pimpinan Masyumi dan PNI dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi, tubuh mereka dipisahkan dengan kepalanya. Orang-orang yang terbunuh dibiarkan tergeletak di sepanjang jalanan di kota Madiun. Sehingga hanya dalam beberapa hari saja darah manusia telah membanjiri kota Madiun.

PKI bergerak ke pesantren Sabilul Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan pesantren Takeran. Bersamaan dengan kudeta terhadap pemerintah, pendukung PKI mengincar tokoh-tokoh dari pesantren Takeran. Karena pesantren Takeran pada masa pimpinan kiai Imam Mursjid Muttaqien merupakan pesantren yang paling berwibawa di kawasan Magetan.

Ba'da salat Jumat tepatnya tanggal 17 september 1948, pimpinan pesantren Takeran Kiai Imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI, yang diantara salah satunya mantan santri pondok pesantren Takeran. Ia bernama Ilyas alias Sipit yang dulunya dikenal sebagai kepala Takeran yang mengekang senapan.

Saat didatangi tokoh PKI pimpinan Takeran dibawa keluar dari mushola kecil untuk berunding mengenai Republik Soviet Indonesia versi PKI.

Saat diwawancarai dari tim Jurnalis Insan Islam Bersatu, menurut salah satu saksi mata ikhsan mengungkapkan, pada saat itu pesantren sudah dikepung ratusan orang PKI dengan berpakaian hitam serta memakai ikat kepala berwarna merah dan dilengkapi dengan senapan.

Satu-persatu tokoh-tokoh pesantren Takeran ditarik PKI. Diawali dengan penangkapan sepupu Kiai Imam Mursjid yaitu Kiai Muhammad Nur dengan alasan perundingan membutuhkan kehadiran Kiai Muhammad Nur.

Selanjutnya, PKI mengatakan dua tokoh pimpinan pesantren Takeran bisa pulang setelah ustadz Muhammad Tarmuji datang menjemput mereka langsung ke Gorang Gareng, yaitu markas PKI yang terletak 6 KM sebelah barat bagian Takeran.

PKI terus menangkap tokoh-tokoh penting pesantren Takeran dan berakhir dengan penangkapan ustadz yang berasal dari Al Azhar, Mesir. yang bernama Hadi Adaba'.

Tentu itu semua hanyalah strategi PKI yang tidak suka dengan tokoh-tokoh agama Islam. Tokoh yang ditangkap tidak pernah kembali dan sebagian besar sudah ditemukan menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian PKI yang tersebar di daerah Magetan. Namun anehnya, tokoh penting pesantren Takeran yaitu Kiai Imam Mursjid yang tidak ditemukan mayatnya. Bahkan hingga tahun 1990 mayat beliau tidak kunjung ditemukan.

Hari Sabtu pagi tepatnya pada tanggal 18 September 1948, ulama dan kiai pesantren Burikin di serbu dan diseret sejauh 500 meter dari pesantren Burikin ke desa Batokan.

Kemudian beralih ke sumur tua Cigrok, salah satu tempat pembantaian kebiadaban PKI. Sumur tua Cigrok adalah salah satu tempat selain lubang buaya yang merupakan tempat ditemukannya mayat 6 jenderal yang tewas dibantai dalam waktu 6 jam.

Sumur tua Cigrok terletak di desa Cigrok bagian selatan Takeran. lebih spesifiknya terletak di belakang rumah seorang orang warga yang non PKI.

Lebih akrabnya dipanggil To Teruno Dan Beliaulah yang melaporkan kegiatan PKI di sumur miliknya kepada kepala desa.

Pada tahun 1948 tepatnya malam terjadinya penanggalan itu, terdengar suara bentakan yang diiringi jeritan histeris. Muslim seorang santri yang tinggal dekat sumur tua itu menyaksikan kekejaman PKI.

Pada malam itu Muslim mendengar suara Adzan dari salah satu korban yang menurutnya adalah suara Khalifah Wah Imam Sofyan dari pesantren Kebonsari. Kejadian itu juga disaksikan Ahmad Idris tokoh Masyumi di desa Cigrok yang menyaksikan penjagalan PKI dari kejauhan.

Berbeda dengan biasanya pembantaian di sumur Cigrok tidak menggunakan senpi atau klewang. Namun, menggunakan pentungan. Idris mengatakan tawanan dengan kondisi tangan terikat dihadapkan ke arah timur sumur dan kemudian dihantamkan dengan pentungan di bagian belakang kepala yang kemudian dimasukkan ke lubang Cigrok.

Korban yang dimasukkan ke lubang Cigrok sebagian besar masih ada yang hidup, namun kekejaman PKI, lubang tersebut langsung ditimbun dengan jerami dan bebatuan serta paling sedikit memakan korban berjumlah 22 orang.

Pada 24 September 1948, bertepatan pada malam Jumat Kliwon menjadi hari bersejarah bagi kampung Kauman. Seluruh warga laki-laki Kauman ditawan dan kemudian digiring ke masopati dalam keadaan tangan terikat dari tali bambu.

Parto Mendoyo seorang pengusaha meubel makanan pada masa itu menjadi saksi mata dan sempat dijadikan tawanan. Parto menyebut pada Senin Legi tanggal 20 September 1948, tiba-tiba datang sebuah truk yang berisikan orang-orang PKI yang berteriak mencari pembunuh salah satu orangnya.

"Dua di atas truk memang ada mayat yang dibungkus kain dan hanya kelihatan kakinya saja," ungkap Parto.

Ia menceritakan ini adalah akal-akalan PKI yang ingin menjebak lawan-lawan yang menghalangi pemberontakan mereka.

Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan Lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok.

?Dari glodok kami dipindahkan ke Geneng dan Keniten. Tetapi sebelum disembelih, kami berhasil diselamatkan oleh tentara Siliwangi,? ujar Parto Mandojo tentang peristiwa mencekam itu.

Pembakaran Kampung Kauman pada dasarnya merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat. Sebab, sebelum aksi pembakaran itu, Madrasah Pesantren Takeran juga telah dibakar, beberapa saat setelah Kiai Imam Mursjid tertawan. Pesantren Burikan pun tak luput dari serbuan PKI. Kemudian para tokoh-tokoh pesantren seperti Kiai Kenang, Kiai Malik, dan Muljono dibantai di Batokan. Korban lain dari kalangan ulama yang dibantai oleh PKI adalah keluarga pesantren Kebonsari, Madiun.

Di Pondok Pesantren Gontor, PKI juga menyebarkan terornya, seperti dituturkan oleh Kafrawi, saksi hidup yang diwawancarai Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU), yang saat kejadian, masih jadi santri di pesantren Gontor, Ponorogo. Ketika itu, pesantren Gontor dikuasai dan diancam oleh PKI. Banyak orang PKI berpakaian hitam datang ke Gontor, lalu mengancam.

?Kalau tidak mau menyerah, kita akan habiskan besok dan akan kita duduki,? katanya.

Berbagai peristiwa biadab tersebut, sebetulnya menjelaskan bahwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, sangat tidak bisa diampuni. Jika hanya tidak suka agamanya mengapa mereka membantai para kiai dan santrinya yang tak bersalah. (*)


Source: Republika.co.id

Penulis
: Khumar Mahendra
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)