PEKANBARU, datariau.com - Tahun ini penilaian hasil ujian nasional (UN) tingkat SMP sederajat serta penentuan kelulusan siswa 100 persen diserahkan kepada sekolah. Maka kepada tim penilai, yakni guru setiap sekolah diminta jujur karena penilaian ini nantinya juga dipantau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dimana, tingkat kelulusannya tidak memiliki nilai rata-rata minimal, namun ada rumus baru yang akan disampaikan oleh Kemendikbud RI untuk menilai hasil ujian sebelum pelaksanaan UN SMP sederajat nanti. Untuk pelaksanaan UN SMP/MTS sederajat tahun pelajaran 2014/2015 ini dilaksanakan pada tanggal 4-6 Mei 2015.
"Jadi pelaksanaan UN SMP sederajat tahun ini tidak sesusah tahun sebelumnya. Makanya pemerintah tidak terlalu menghebohkan bagaimana pelaksanaan UN dan cara penilaiannya," ujar Kepala UPT P2 PAUDNI, Disdikbud Riau, Abdul Kadir, Kamis (9/4/2015).
Abdul Kadir mengatakan, tahun ini terjadi perubahan yang mendasar terhadap pelaksanaan dan penentuan kelulusan UN SMP sederajat. Karena penilaian dan penentuan kelulusan diberikan kewenangan kepada sekolah itu sendiri.
Lebih jauh Kadir menjelaskan, nantinya Kemendikbud akan melakukan pemetaan terhadap sekolah yang bermutu atau tidak. Sebab, kelulusan siswa tidak menggunakan Nilai Ebtanas Murid (NEM) tertinggi seperti tahun lalu.
"Meski diberi kewenangan terhadap sekolah dalam penentuan kelulusan siswa, namun Kemendikbud RI juga akan memberikan reward kepada guru dan panitia ujian yang telah melaksanakan penilaian dengan jujur," tuturnya.
Sedangkan untuk penilaian reward, lanjutnya, tidak harus tingkat kelulusannya 100 persen. Tetapi ada cara penilaian sendiri yang dilakukan oleh tim penilai dari Kemendikbud, guru, dan panitia ujian. Cara penilain itu tidak dibeberkan kepada publik.
Untuk itu, kata Kadir, guru dan panitia ujian harus serius dan jujur melakukan penilaian terhadap siswa. Jangan asal menilai, karena bagi nilai yang tidak jujur nanti akan mudah diketahui oleh Kemendikbud itu sendiri.
"Pemberian reward ini akan dilakukan sekitar tiga bulan setelah pelaksanaan UN. Sebab, penilaian kejujuran guru, Kemendikbud sangat selektif. Apalagi penilaian dilakukan untuk semua guru dan panitia ujian di seluruh Indonesia," jelasnya.
Kadir menambahkan, sebagai persiapan guru menghadapi UN menggunakan program jujur ini, Kemendikbud telah melakukan pelatihan kompetensi guru mata pelajaran UN SMP se Riau selama satu minggu di Pekanbaru. Peserta terdiri dari guru Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
"Tujuannya, untuk meningkatkan kompetisi menganalisa dan mengidentifikasi penyebab rendahnya nilai UN tahun kemarin. Kemudian mendalami materi model-model pembelajaran yang akan muncul di UN tahun ini. Sehingga, dengan penganalisaan ini, dapat memberikan pelatihan terhadap siswa supaya dapat melaksanakan ujian dengan baik nanti," kata Abdul.
Abdul Kadir berharap, seluruh siswa dapat lulus 100 persen. Dimana untuk total peserta UN SMP, MTS, SMPLB dan Paket B sekitar 101.654. "Dengan perincian peserta laki-laki 49.900 dan perempuan 51.754 orang," pungkasnya. (ade)