Santri Al-Utsaimin Kampar Borong Prestasi Internasional, Raih Juara 1 dan 3 di ISIISC 2026

datariau.com
88 view
Santri Al-Utsaimin Kampar Borong Prestasi Internasional, Raih Juara 1 dan 3 di ISIISC 2026

BANGKINANG, datariau.com - Di sebuah sudut ruang belajar Pondok Pesantren Al-Utsaimin, malam sering berjalan lebih panjang dari biasanya. Saat sebagian orang telah terlelap, beberapa santri masih duduk menekuni lembar demi lembar catatan riset, mengulang konsep sains, lalu bergantian melatih pidato berbahasa asing dengan suara lirih agar tak mengganggu teman-teman lain yang sedang menghafal Al-Qur’an.

Mereka bukan mahasiswa perguruan tinggi. Bukan pula peserta dari sekolah elite perkotaan dengan laboratorium mewah bertingkat. Mereka adalah para santri SMP IT Al-Utsaimin, remaja yang sehari-harinya hidup dalam ritme pesantren: shalat berjamaah, murojaah hafalan, kajian kitab, hingga disiplin adab.

Namun dari ruang sederhana itulah, lahir sebuah kebanggaan besar. Tahun 2026 menjadi saksi ketika Pondok Pesantren Al-Utsaimin kembali menorehkan tinta emas di panggung internasional melalui ajang International Science Innovation and Speech Competition (ISIISC) 2026. Kompetisi bergengsi yang mempertemukan pelajar-pelajar terbaik dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand itu menjadi arena pembuktian bahwa santri pesantren juga mampu berdiri sejajar dalam kompetisi global.

Dan mereka tidak sekadar hadir. Mereka pulang membawa kemenangan. Pada kategori Science Innovation Competition, dua santri muda, Faqih Fadhilah R dan M. Syafiq Ilmi Abdullah Faqih, berhasil merebut Juara 1 sekaligus mengamankan medali emas. Sebuah capaian yang tidak hanya menuntut kecerdasan akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, ketajaman analisis, dan keberanian menghadirkan inovasi di bidang sains.

Sementara pada kategori Impromptu Speech Competition, santri bernama Kholid Aulia sukses meraih Juara 3 dalam kompetisi pidato spontan berbahasa asing, sebuah kategori yang menguji kemampuan berpikir cepat, keluasan wawasan, penguasaan bahasa, hingga ketenangan mental di hadapan dewan juri internasional.

Prestasi itu terdengar megah di atas kertas. Namun di balik medali dan tepuk tangan, ada perjuangan yang nyaris tak terlihat publik. Para santri itu membuktikan bahwa kehidupan pesantren yang kesehariannya disibukkan dengan hafalan Al-Qur’an, atas izin Allah mereka mampu berprestasi di bidang umum, melalui riset, berdiskusi, memperbaiki presentasi, hingga melatih public speaking.

Baca juga: Inilah Bahayanya Membiarkan Kemaksiatan Terjadi di Depan Mata


Tidak ada jalan pintas. Ada lelah yang dipendam, gugup yang dilawan, dan doa-doa panjang yang dipanjatkan diam-diam selepas sujud. Para asatidzah dan guru pendamping pun menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Mereka mendampingi bukan hanya sebagai pembimbing akademik, tetapi juga sebagai penanam keyakinan bahwa santri harus berani tampil, berani berpikir besar, dan berani menembus batas.

Dukungan pondok pesantren menjadi fondasi yang menguatkan langkah para santri. Di tengah stereotip lama yang kerap memandang pesantren hanya berfokus pada pendidikan ukhrawi, Al-Utsaimin justru menunjukkan wajah lain pendidikan Islam: melahirkan generasi bertauhid yang tetap kompetitif di era global.

Bagi Pondok Pesantren Al-Utsaimin, kemenangan ini bukan sekadar soal trofi. Ini adalah pesan bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan tidak pernah saling bertentangan. Bahwa seorang penghafal Al-Qur’an juga bisa menjadi inovator sains. Bahwa santri yang terbiasa menjaga adab dan sunnah Rasulullah ﷺ juga mampu berdiri percaya diri di forum internasional.

Kepala SMP IT Pondok Pesantren Al-Utsaimin menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas perjuangan para santri. “Selamat dan Barakallahu Fiikum kepada ananda sekalian yang telah berjuang dan mengharumkan nama pondok,” ujarnya.

Baca juga:Bolehkah Wanita Menjadi Ketua Kelas atau Kepala Sekolah?


Sementara itu, pimpinan pondok, Dr Isnen Azhar, Lc. MH. mengingatkan agar capaian tersebut tidak melahirkan rasa ujub ataupun takabur. Menurutnya, prestasi adalah amanah yang harus semakin mendekatkan seorang hamba kepada Allah ﷻ.

Ia berharap kemenangan ini menjadi wasilah kebaikan, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Di lingkungan pondok, kabar kemenangan itu menyebar cepat. Ada senyum bangga para guru, ada mata berbinar para santri junior yang mulai berani bermimpi lebih tinggi, dan ada rasa haru dari para orang tua yang menyadari bahwa anak-anak mereka sedang tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.

ISIISC 2026 mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Tetapi gema dari kemenangan itu akan tinggal lebih lama. Ia akan hidup dalam cerita-cerita motivasi di asrama. Dalam semangat belajar para santri berikutnya. Dalam keyakinan bahwa anak-anak pesantren tidak boleh merasa kecil di hadapan dunia.

Sebab dari balik dinding-dinding pesantren yang sederhana, ternyata lahir generasi yang mampu menembus panggung internasional, tanpa kehilangan identitasnya sebagai muslim yang teguh berdiri di atas manhaj yang haq dan di bawah naungan sunnah Rasulullah ﷺ. (rik)

Baca juga:Hasad Antara Ahli Ilmu
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)