BENGKALIS, datariau.com - Lahan cabai milik warga Desa Ketam Putih, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, selama ini kerap tergenang setiap kali hujan turun. Kondisi tersebut menghambat pertumbuhan tanaman dan berpotensi menurunkan hasil panen petani. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Riau menggelar sosialisasi sekaligus praktik pembuatan lubang biopori di lahan milik BUMDes yang berlokasi di Jalan Simpang Tiga, Dusun II, Jumat (27/6/2026).
Kegiatan berlangsung pukul 16.00 hingga 18.00 WIB dan merupakan salah satu program kerja mahasiswa KKN Universitas Riau di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rina Susanti, S.Sos., M.Si. Kelompok KKN Desa Ketam Putih terdiri atas sepuluh mahasiswa lintas program studi. Muhammad Ilham Baihaqi dari Sosiologi bertindak sebagai ketua kelompok, didampingi Ilma Hayati Dhilla dari Bimbingan dan Konseling serta Syifa Salsabila dari Fisika sebagai sekretaris. Eva Wulandari dari Pendidikan Ekonomi menjabat koordinator lapangan, sementara Annisa Meilanda dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bersama Rizki Nabila dari Ilmu Kelautan bertugas sebagai bendahara. Wahyu Alam Syah dari Agroteknologi dan Siti Nur Fadilah dari Pendidikan Masyarakat menangani hubungan masyarakat, sedangkan dokumentasi kegiatan dilakukan oleh Luthfia Putri dari Ilmu Kelautan dan Andre Yunadi Hadidi Simamora dari Teknologi Hasil Perikanan.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta Berdampak UNRI Kenalkan Ecoprint kepada Anak-anak Desa Kelemantan Barat
Sekitar sepuluh warga mengikuti kegiatan tersebut, termasuk perwakilan BUMDes, Syam Khafazul Khair. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga mengajak masyarakat mempraktikkan langsung pembuatan biopori.
"Kami senang ada mahasiswa yang mau turun langsung ke lahan dan mengajak warga praktik bareng. Kalau biopori ini memang cocok dengan kondisi tanah di sini, bisa jadi solusi jangka panjang buat petani," ujar Syam Khafazul Khair.
Sebelum praktik dimulai, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai konsep dasar biopori sebagai lubang resapan air yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah. Selain membantu mempercepat penyerapan air hujan, biopori juga dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Teknologi sederhana ini dinilai mudah diterapkan karena tidak memerlukan biaya besar maupun peralatan yang rumit.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta Berdampak UNRI 2026 Gelar Senam Sehat dan Edukasi Probiotik Tepache di Desa Sungai Batang
Usai penyampaian materi, peserta bersama mahasiswa membuat satu lubang biopori sebagai percontohan. Pengerjaan dilakukan menggunakan linggis dan dodos, kemudian lubang dilapisi pipa PVC berukuran 3 hingga 4 inci. Sampah organik yang dimasukkan berasal dari bahan yang tersedia di sekitar lokasi, seperti daun cabai kering, sisa sayuran, dan rumput liar hasil pembersihan lahan.
Ketua Kelompok KKN, Muhammad Ilham Baihaqi, berharap biopori yang telah dibuat dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat.
"Kami berharap warga bisa merawat dan menambah sendiri lubang biopori ini ke depannya. Kalau memang efektif mengurangi genangan, dampaknya bisa langsung dirasakan petani cabai di sini," katanya.
Baca juga:Mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI 2026 Gelar Pelatihan Pembuatan Tepache dari Limbah Kulit Nanas di Desa Aliantan
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah seorang warga, Pak Oji, menilai program tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan mengingat lahan cabai di wilayah tersebut memang sering tergenang saat hujan.
"Ini sangat bermanfaat dan idenya cukup bagus, masih bisa dikembangkan lagi. Lahan yang sering tergenang mengganggu pertumbuhan dan produktivitas cabai. Mudah-mudahan ke depan biopori ini bisa terus dikembangkan supaya lahan terjaga dari genangan air," ungkapnya.
Dalam sesi tanya jawab, Pak Oji menanyakan arah aliran air pada bedengan yang tergenang serta jumlah lubang biopori yang ideal untuk satu bedengan. Tim KKN menjelaskan bahwa lubang biopori sebaiknya ditempatkan pada area yang lebih rendah atau di jalur drainase antarbedengan agar aliran air dapat masuk secara optimal. Jumlah lubang juga disesuaikan dengan kondisi lahan dan perlu diterapkan secara bertahap, kemudian dievaluasi efektivitasnya.
Baca juga:Baru
Dua Pekan Mengabdi, Mahasiswa KUKERTA UNRI Hidupkan Desa Karya Indah
melalui Program Pendidikan, Kesehatan, dan Digitalisasi
Pertanyaan lain disampaikan oleh Pak Fazul mengenai pengaruh kedalaman lubang dan jenis tanah terhadap daya resap air.
"Saya kepikiran, kalau lubangnya dibuat lebih dalam, apa hasilnya beda? Terus tanah di sini kan macam-macam jenisnya, apa itu juga berpengaruh ke resapan airnya?" tanyanya.