Kajian Paramadina Soroti Hubbud-Dunya di Era Digital: Cinta Kian Terjebak Pencitraan dan Validasi

datariau.com
57 view
Kajian Paramadina Soroti Hubbud-Dunya di Era Digital: Cinta Kian Terjebak Pencitraan dan Validasi

JAKARTA, datariau.com - Di tengah derasnya arus digital dan media sosial, makna cinta dinilai semakin menghadapi tantangan serius. Budaya pencitraan, kebutuhan akan pengakuan, fenomena flexing, hingga ketakutan tertinggal tren atau Fear of Missing Out (FOMO) membuat hubungan antarmanusia semakin rapuh dan dangkal.

Persoalan tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Kajian Filsafat dan Agama 2026 Seri Kedua bertema “Hubbud-Dunya di Era Digital” yang diselenggarakan The Lead Institute Universitas Paramadina bekerja sama dengan MaHa Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation pada Jumat (29/5/2025).

Dimoderatori Peneliti The Lead Institute, Nurma Komala, kajian ini mengupas makna cinta dari dua perspektif besar, yakni pemikiran filsuf Madzhab Frankfurt Erich Fromm melalui karya terkenalnya The Art of Loving, serta pemikiran cendekiawan muslim Indonesia, Nurcholish Madjid atau Cak Nur.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah, menjelaskan bahwa Erich Fromm memandang cinta sebagai sebuah seni yang harus dipelajari dan dilatih secara terus-menerus.

Menurutnya, manusia modern sering kali lebih sibuk membangun citra agar dicintai orang lain, namun melupakan bagaimana cara mencintai dengan benar.

“Cinta, dalam pandangan Fromm, bukan kepemilikan dan bukan pula hubungan yang transaksional, melainkan tindakan aktif yang ditandai oleh perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan terhadap orang lain,” ujar Yayah.

Baca juga:Riset Palsu dan Alarm Krisis Integritas Pendidikan


Ia menilai, budaya media sosial yang mendorong pencitraan dan pencarian validasi membuat banyak orang kehilangan ruang kedekatan sosial yang sehat. Akibatnya, hubungan antarmanusia menjadi semakin superfisial dan mudah goyah.

Yayah menegaskan bahwa cinta seharusnya dipahami sebagai seni aktif yang membutuhkan latihan, perhatian, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama. Dalam konteks yang lebih luas, cinta juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membantu kelompok rentan dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Cinta dalam konteks kemanusiaan universal bukan sekadar emosi privat tetapi mesti dimaknai sebagai energi positif dalam menjalin hubungan melalui tindakan-tindakan merawat kehidupan sosial dan kelestarian lingkungan hidup bersama,” katanya.

Baca juga: Ekonom Kritik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Ada Kejanggalan Data dan Ancaman Krisis Kepercayaan


Sementara itu, Ketua The Lead Institute, Suratno Muchoeri, mengulas pandangan Cak Nur yang menempatkan cinta sebagai jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (taqarrub ilallah). Dalam pandangan tersebut, manusia perlu mewaspadai hubbud-dunya atau kecintaan berlebihan terhadap dunia dan segala simbolnya.

Menurut Suratno, di era digital kecenderungan tersebut muncul dalam berbagai bentuk baru, seperti budaya flexing, kecanduan gawai, obsesi mengejar popularitas, hingga kebutuhan untuk terus mendapatkan validasi dari lingkungan digital.

“Cak Nur menempatkan cinta bukan hanya sebagai urusan pribadi, tetapi juga sebagai energi moral dan spiritual yang membimbing manusia untuk lebih jernih, lembut, serta bertanggung jawab kepada sesama,” jelasnya.

Baca juga:Universitas Paramadina dan Harkat Negeri Bahas Kritik The Economist terhadap Indonesia


Ia menambahkan, cinta yang sehat tidak berhenti pada perasaan individual semata, melainkan tercermin dalam akhlak sosial, kepedulian kemanusiaan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Meski berasal dari latar pemikiran yang berbeda, Erich Fromm dan Nurcholish Madjid memiliki titik temu dalam memandang cinta sebagai kekuatan yang membebaskan manusia dari egoisme dan kedangkalan.

“Fromm dan Cak Nur sama-sama melihat bahwa cinta bukanlah sekadar emosi pasif yang datang dan pergi. Cinta adalah seni aktif, tindakan sadar dan komitmen,” tegas Suratno.

Melalui kajian ini, para narasumber mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam budaya digital yang menempatkan popularitas dan pengakuan sebagai tujuan utama. Sebaliknya, cinta perlu dimaknai sebagai kekuatan moral dan spiritual yang mampu membangun kedewasaan, solidaritas sosial, serta hubungan yang lebih bermakna di tengah kehidupan modern.***

Baca juga:Wakil Rektor Paramadina Soroti KEM-PPKF 2027: Optimisme Prabowo Harus Dibuktikan!
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)