Oleh: Nova Rinaldo

Petaka Bagi Orangtua Saat Anak Kecanduan Warnet

datariau.com
8.750 view
Petaka Bagi Orangtua Saat Anak Kecanduan Warnet
Illustrasi

DATARIAU.COM - Arus informasi dan teknologi saat ini memang memanjakan manusia. Apapun informasi yang mereka butuhkan, dengan sekali "klik" langsung tersedia di depan mata. Begitu juga tekhnologi, untuk berhubungan dengan orang di belahan dunia lain, sekali "pencet" sudah tersambung.

Kemajuan informasi dan tekhnologi memang patut kita syukuri sebagai rahmat dari Allah Subahanahu wa Ta'ala. Namun rahmat tersebut bisa berubah menjadi bencana, apabila kita tidak arif menyikapinya.

Seperti halnya pertumbuhan warung internet, tidak hanya di kota-kota saja saat ini ada warung internet, tetapi sudah menembus ke pelosok desa dengan jaringannya tersendiri. Dan pemanfaat warung internet sebahagian besar adalah anak usia sekolah, yang menurut hasil penelitian kebanyakan pengguna internet ini berusia antara 10-14 tahun.

Di usia yang rentan dan labil itu, anak masih mencari identitas diri, masih mencari idola, panutan dan masih mencari identitas diri. Dan ketika identitas diri tidak ditemukan di rumah, tidak ditemukan di sekolah, tidak ditemukan pada sekitarnya, dia menoleh keluar, pada teman dan lingkungan, dan ketika pada teman dan lingkungan yang salah dia bercermin, itulah panutannya, maka mulailah tampak kegagalan orangtua dalam mendidik anaknya.

Bersama temannya mereka bermain di warnet. Pertama bermain sepulang sekolah, besoknya ditambah lagi sepulang sekolah dan sore hari, lusanya disambung malam hari, dengan alasan buat PR, dan mulailah mengibuli orangtua hingga terbiasa hingga larut malam nongkrong di warnet, bergaul, merokok, menakses situs yang tidak selayaknya dilihat anak-anak, yang akhirnya merusak mental para anak-anak tersebut.

Kita sebagai orangtua tentu mempercayai anak kita, uang yang diminta untuk tugas di warung internet bukan persoalan. Namun persoalan kecil muncul, saat anak jarang di rumah, saat uang di atas meja nilainya berkurang. Dan ketika pengawasan orangtua sudah tidak ada, maka anak yang kecanduan main internet mulai bolos sekolah, mulai melawan, dan mulai mencuri serra tidak pulang ke rumah, asyik main di warnet.

Si anak pun untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan di warnet, mulai melakukan pencurian kecil-kecilan, tabung gas elpiji tetangga, isi dompet ayah atau ibu, uang jajan adik atau kakak, atau teman.

Anak-anak yang tadinya buka internet untuk tugas sekolah sudah mulai bergeser, membuka game, terus membuka situs porna. Al hasil nantinya, ketika akal belum sempurna, nafsu menjadi kiblat akibat tontonan yang sehari-harinya, anak balita atau teman dijadikan sasaran pelecehan seksual, na'udzubillah.

Orangtua, jadilah orangtua bukan orang tua. Jadilah orangtua yang bertanggung jawab kepada anak-anaknya, akan agama anaknya, sehingga kehadiran anak itu bukan jadi petaka bagi kita dan lingkungan sekitarnya.

Jangan hanya mampu menjadi orang tua, dimana anda dipanggil ayah atau ibu hanya karena lebih tua dari anak-anak anda, sementara anda tidak mampu mengendalikan mereka. Padahal, anak-anak ini adalah amanah, maka bimbinglah anak mulai dari dalam kandungan, memberi contoh yang baik kepada anak sehingga dia tumbuh menjadi anak yang beradab, menjunjung tinggi hukum Islam, tahu mana yang halal dan haram serta yang terpenting, ditanamkan yauhid di hati anak.

Hanya Allah satu-satunya tempat meminta dan Allah senantiasa mengawasi setiap makhluknya, bahkan berapa kai gerakan sayap nyamuk dalam satu hari tidak luput dari pengawasan Allah Subahanahu wa Ta'ala. Jika ini yang ditanamkan dalam diri anak-anak sejak kecil, maka tidak akan berani dia melakukan hal-hal yang diharamkan atau dilarang agama.

Maka kewajiban kita orangtua, ajarkan anak-anak kita setiap hari dengan kebaikan hingga akhirnya anak-anak dewasa dengan iman di dalam dadanya. Jangan tertipu dengan dunia ini, berlomba-lomba agar anak tampak gaul hingga mendukung kebiasaan buruk anak seperti merokok, bergaya ala Barat yang akhirnya dia malu bergaya seperti orang islam.

Dampingi anak untuk bermain atau apa saja, karena mereka butuh bimbingan. Kalau lepas bimbingan atau pengawasan orangtua, alamat hidup sekeluarga akan menderita. Jangan hanya menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah, pondok pesantren, kemudian kita berlepas diri setelah itu. Maka betapa pentingnya ilmu. Karena cita-cita setiap orangtua pastinya memiliki anak-anak yang shalih.

Sungguh beruntung dan berbahagialah orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu membantu orang tuanya, mendo’akan orang tuanya, membahagiakan mereka dan menjaga nama baik kedua orang tua. Karena anak yang shalih akan senantiasa menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631).

Demikian pula, kelak di hari kiamat, seorang hamba akan terheran-heran, mengapa bisa dia meraih derajat yang tinggi padahal dirinya merasa amalan yang dia lakukan dahulu di dunia tidaklah seberapa, namun hal itu pun akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang diperolehnya tidak lain dikarenakan do’a ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surge. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).

Oleh karenanya, saking urgennya pembinaan dan pendidikan sang anak sehingga bisa menjadi anak yang shalih, Allah ta’ala langsung membebankan tanggung jawab ini kepada kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah ayat yang telah kita ketahui bersama,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,

تأمرهم بطاعة الله وتنهاهم عن معصية الله وأن تقوم عليهم بأمر الله وتأمرهم به وتساعدهم عليه فإذا رأيت لله معصية ردعتهم عنها وزجرتهم عنها

“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban
mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Raihlah cita-cita kita untuk mendapat anak yang shalih, pedulilah kepada anak-anak kita. Mereka bukan sekedar butuh pakaan yang layak dan makanan yang enak, melainkan ilmu agama yang baik. Karena hadirnya anak ke muka dunia ini sesuai dengan fitrahnya adalah Islam, dan orangtua lah yang menjadikan mereka kafir atau muslim melalui tata cara mendidiknya, dengan cara Islam atau cara kafir yang banyak dipertontonkan di televisi.

Semoga kita dijauhi dari kelalaian dalam mendidik anak. Jemputlah anak anda sekarang juga ke warnet jika memang selama ini anda membiarkan mereka di sana, karena tidak ada kebaikan di warnet kecuali hanya sedikit sekali, jika memang mencari tugas dampingi mereka, oleh kakaknya ataupun anda sendiri yang langsung memantau seperti apa kondisi di warnet tersebut. Semoga bermanfaat.

* Penulis merupakan wartawan senior di Provinsi Riau.

Editor
: Riki
Tag:Warnet
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)