Wibawa Guru Direndahkan: Cermin Rapuhnya Adab dalam Dunia Pendidikan

Oleh: Siti Amie, S.Pd
datariau.com
67 view
Wibawa Guru Direndahkan: Cermin Rapuhnya Adab dalam Dunia Pendidikan
Ilustrasi. (Foto: Int.)

DATARIAU.COM - Kasus seorang siswa yang mengacungkan jari tengah dan melecehkan gurunya di Purwakarta baru-baru ini viral dan menuai keprihatinan luas. Peristiwa ini mencuat setelah beredar di media sosial. Tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan gambaran nyata merosotnya adab dalam dunia pendidikan. (Detikcom,16/4/2026).

Kasus di Purwakarta bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai kejadian serupa juga mencuat di sejumlah daerah, mulai dari siswa yang membangkang hingga tindakan yang merendahkan otoritas guru di ruang publik, termasuk melalui media sosial.

Di sisi lain, muncul pula fenomena guru yang justru menghadapi tekanan, bahkan berujung laporan dari orang tua siswa ketika berupaya menegakkan disiplin. Situasi ini menempatkan guru dalam posisi yang semakin dilematis.

Sejumlah catatan menunjukkan bahwa persoalan relasi di lingkungan sekolah memang sedang menghadapi tantangan serius. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dalam beberapa tahun terakhir mencatat ratusan kasus kekerasan dan konflik di satuan pendidikan, dengan sebagian melibatkan relasi guru dan siswa. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran pola hubungan di sekolah, di mana wibawa guru semakin melemah.

Fenomena ini mengindikasikan adanya krisis moral di kalangan pelajar. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan adab justru belum mampu membentuk kesadaran dasar, termasuk penghormatan kepada guru. Padahal, dalam tradisi pendidikan, guru adalah sosok yang memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan masa depan generasi.

Salah satu faktor yang turut mendorong kondisi ini adalah perubahan orientasi generasi muda di era digital. Tidak sedikit siswa melakukan tindakan menyimpang demi mendapatkan perhatian di media sosial. “Viralitas” kerap dijadikan ukuran eksistensi, sementara norma dan etika menjadi terabaikan. Perilaku yang seharusnya dikoreksi justru dipertontonkan demi pengakuan di hadapan teman sebaya.

Di sisi lain, kejadian ini juga menunjukkan melemahnya wibawa guru. Muncul pertanyaan mendasar: mengapa siswa merasa berani melakukan tindakan seperti itu? Apakah karena sanksi di sekolah selama ini kurang tegas? Atau karena guru berada dalam posisi serba sulit--di satu sisi harus mendisiplinkan, di sisi lain khawatir disalahpahami atau dilaporkan?

Dalam praktiknya, tidak sedikit guru yang menghadapi tekanan ketika berusaha menegakkan disiplin. Situasi ini pada akhirnya melemahkan posisi guru di hadapan siswa. Ketika otoritas melemah, maka proses pendidikan pun kehilangan daya pengaruhnya.

Pemerintah selama ini telah menggagas berbagai program penguatan karakter, seperti Profil Pelajar Pancasila. Namun, kasus-kasus yang terus bermunculan menunjukkan bahwa implementasinya belum sepenuhnya efektif. Program yang baik di tingkat konsep belum tentu berdampak jika tidak diiringi dengan pembentukan nilai yang kuat dalam praktik keseharian.

Karena itu, penting untuk melihat kembali fondasi pendidikan secara lebih mendalam. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi harus berakar pada pembentukan kepribadian. Tanpa landasan nilai yang kokoh, kecerdasan tidak selalu sejalan dengan perilaku yang beradab.

Dalam perspektif Islam, pendidikan bertujuan membentuk kepribadian yang utuh (syakhshiyah islamiyyah), yakni pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan ajaran agama. Dalam kerangka ini, penghormatan kepada guru bukan sekadar norma sosial, melainkan bagian dari nilai yang dijaga karena berkaitan dengan keberkahan ilmu.

Islam juga menempatkan guru pada posisi yang mulia sebagai pembimbing generasi. Oleh karena itu, menjaga adab terhadap guru menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Ketika nilai ini melemah, hubungan antara guru dan murid pun kehilangan makna yang seharusnya.

Selain itu, perkembangan media digital perlu mendapat perhatian serius. Peran negara menjadi penting dalam memastikan ruang digital tidak dipenuhi konten yang merusak moral, seperti tayangan yang menormalisasi pembangkangan atau pelecehan. Tanpa pengawasan yang memadai, generasi muda akan lebih banyak belajar dari hal-hal yang justru bertentangan dengan nilai pendidikan.

Tidak kalah penting adalah penegakan aturan yang tegas dan adil. Setiap pelanggaran harus mendapatkan sanksi yang mendidik sekaligus memberikan efek jera. Penegakan aturan yang konsisten akan membantu menjaga wibawa guru dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat.

Pada akhirnya, kasus di Purwakarta menjadi pengingat bahwa persoalan pendidikan tidak hanya terletak pada kurikulum, tetapi juga pada nilai yang mendasarinya. Pembentukan karakter tidak bisa diposisikan sebagai pelengkap, melainkan harus menjadi inti dari sistem pendidikan. Jika tidak segera dibenahi, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam adab. Padahal, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kualitas akhlak generasinya.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)