DATARIAU.COM - Kasus seorang siswa yang mengacungkan jari tengah dan melecehkan gurunya di Purwakarta baru-baru ini viral dan menuai keprihatinan luas. Peristiwa ini mencuat setelah beredar di media sosial. Tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan gambaran nyata merosotnya adab dalam dunia pendidikan. (Detikcom,16/4/2026).
Kasus di Purwakarta bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai kejadian serupa juga mencuat di sejumlah daerah, mulai dari siswa yang membangkang hingga tindakan yang merendahkan otoritas guru di ruang publik, termasuk melalui media sosial.
Di sisi lain, muncul pula fenomena guru yang justru menghadapi tekanan, bahkan berujung laporan dari orang tua siswa ketika berupaya menegakkan disiplin. Situasi ini menempatkan guru dalam posisi yang semakin dilematis.
Sejumlah catatan menunjukkan bahwa persoalan relasi di lingkungan sekolah memang sedang menghadapi tantangan serius. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dalam beberapa tahun terakhir mencatat ratusan kasus kekerasan dan konflik di satuan pendidikan, dengan sebagian melibatkan relasi guru dan siswa. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran pola hubungan di sekolah, di mana wibawa guru semakin melemah.
Fenomena ini mengindikasikan adanya krisis moral di kalangan pelajar. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan adab justru belum mampu membentuk kesadaran dasar, termasuk penghormatan kepada guru. Padahal, dalam tradisi pendidikan, guru adalah sosok yang memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan masa depan generasi.
Salah satu faktor yang turut mendorong kondisi ini adalah perubahan orientasi generasi muda di era digital. Tidak sedikit siswa melakukan tindakan menyimpang demi mendapatkan perhatian di media sosial. “Viralitas” kerap dijadikan ukuran eksistensi, sementara norma dan etika menjadi terabaikan. Perilaku yang seharusnya dikoreksi justru dipertontonkan demi pengakuan di hadapan teman sebaya.
Di sisi lain, kejadian ini juga menunjukkan melemahnya wibawa guru. Muncul pertanyaan mendasar: mengapa siswa merasa berani melakukan tindakan seperti itu? Apakah karena sanksi di sekolah selama ini kurang tegas? Atau karena guru berada dalam posisi serba sulit--di satu sisi harus mendisiplinkan, di sisi lain khawatir disalahpahami atau dilaporkan?
Dalam praktiknya, tidak sedikit guru yang menghadapi tekanan ketika berusaha menegakkan disiplin. Situasi ini pada akhirnya melemahkan posisi guru di hadapan siswa. Ketika otoritas melemah, maka proses pendidikan pun kehilangan daya pengaruhnya.
Pemerintah selama ini telah menggagas berbagai program penguatan karakter, seperti Profil Pelajar Pancasila. Namun, kasus-kasus yang terus bermunculan menunjukkan bahwa implementasinya belum sepenuhnya efektif. Program yang baik di tingkat konsep belum tentu berdampak jika tidak diiringi dengan pembentukan nilai yang kuat dalam praktik keseharian.
Karena itu, penting untuk melihat kembali fondasi pendidikan secara lebih mendalam. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi harus berakar pada pembentukan kepribadian. Tanpa landasan nilai yang kokoh, kecerdasan tidak selalu sejalan dengan perilaku yang beradab.