Scroll Terus, Tapi Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Linimasa Kita?

Oleh: Siti Amie, S.Pd
datariau.com
47 view
Scroll Terus, Tapi Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Linimasa Kita?

DATARIAU.COM - Media sosial kerap dipandang sebagai ruang yang paling demokratis di era digital. Siapa pun dapat membuat konten, menyampaikan pendapat, bahkan membangun komunitas tanpa harus bergantung pada media arus utama. Sekilas, internet memang tampak berhasil menghapus sekat antara pembuat informasi dan penerima informasi. Semua orang seolah memiliki kesempatan yang sama untuk didengar.

Namun, benarkah kenyataannya demikian?

Di balik linimasa yang terasa begitu personal, terdapat algoritma yang bekerja tanpa henti. Algoritma menentukan konten apa yang muncul di beranda, berita mana yang akan direkomendasikan, hingga akun siapa yang memperoleh jangkauan lebih luas. Akibatnya, apa yang kita anggap sebagai pilihan pribadi sering kali merupakan hasil dari proses seleksi yang tidak sepenuhnya kita sadari.

Memang benar, algoritma dirancang untuk menghadirkan konten yang dianggap paling relevan bagi setiap pengguna. Akan tetapi, pertanyaan pentingnya adalah: relevan menurut siapa, dan untuk kepentingan apa? Pertanyaan ini layak diajukan karena algoritma tidak pernah benar-benar netral. Ia dibangun berdasarkan tujuan tertentu, termasuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin di dalam platform.

Baca juga:Viral Ustazah AI di Media Sosial: Otoritas Dakwah di Era Digital


Kondisi tersebut semakin kompleks ketika kita melihat struktur industri media digital. Walaupun akses terhadap informasi kini jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya, kenyataannya sebagian besar perhatian publik masih terkonsentrasi pada sejumlah kecil perusahaan media dan platform digital berskala global. Mereka memiliki modal, teknologi, dan jaringan distribusi yang jauh lebih besar sehingga mampu memproduksi sekaligus menyebarkan informasi dalam skala masif. Dalam situasi seperti ini, algoritma tidak bekerja di ruang yang kosong, melainkan mengelola arus informasi yang sejak awal telah dipengaruhi oleh ketimpangan sumber daya.

Perusahaan-perusahaan teknologi global juga memanfaatkan data perilaku pengguna secara sangat rinci. Setiap klik, durasi menonton, komentar, hingga kebiasaan menggulir layar menjadi bahan pembelajaran bagi sistem kecerdasan buatan. Dari sinilah lahir apa yang dikenal sebagai echo chamber dan filter bubble, yakni kondisi ketika seseorang semakin sering disuguhi informasi yang sejalan dengan kebiasaan maupun pandangannya sendiri.

Bagi generasi yang lahir dan tumbuh di era digital, kondisi tersebut menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Arus konten yang terus-menerus disesuaikan dengan preferensi pengguna dapat membuat seseorang terjebak dalam siklus konsumsi informasi yang berulang. Tanpa disadari, perhatian lebih mudah diarahkan pada hiburan yang instan, tren sesaat, hingga berbagai konten yang mengejar sensasi. Dalam situasi tertentu, ruang digital juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menawarkan praktik merugikan seperti perjudian daring, pinjaman daring ilegal, penipuan digital, maupun bentuk kejahatan siber lainnya.

Baca juga:Krisis Membaca di Era Video Pendek


Di sisi lain, muncul pula kekhawatiran mengenai bagaimana platform digital mengelola penyebaran berbagai gagasan. Tidak sedikit kelompok masyarakat yang merasa pandangan tertentu lebih mudah dibatasi jangkauannya dibandingkan pandangan lain. Sebagian menyebut fenomena ini sebagai shadow banning, yaitu dugaan pembatasan distribusi konten tanpa pemberitahuan yang jelas kepada pembuatnya. Terlepas dari perdebatan mengenai mekanisme tersebut, kondisi ini menunjukkan pentingnya transparansi platform dalam menjelaskan bagaimana algoritma bekerja agar ruang digital tetap adil bagi semua pihak yang menyampaikan pendapat secara damai dan sesuai hukum.

Persoalan lain yang patut dicermati adalah semakin lebarnya jarak antargenerasi. Di ruang digital, generasi yang lebih tua sering dicap sebagai kelompok yang tertinggal secara teknologi, sementara generasi muda kerap dilabeli sebagai kelompok yang terlalu bebas atau kurang menghargai nilai-nilai lama. Pelabelan semacam ini justru memperlemah dialog yang sehat.

Padahal, setiap generasi memiliki pengalaman dan keunggulannya masing-masing. Generasi yang lebih tua menyimpan banyak pelajaran hidup, sedangkan generasi muda membawa kreativitas serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Ketika keduanya dipertentangkan, yang hilang bukan hanya komunikasi, melainkan juga proses pewarisan nilai, ilmu, dan keteladanan yang sangat dibutuhkan dalam membangun masyarakat.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)