DATARIAU.COM - Dunia saat ini tengah berada dalam perubahan konstelasi politik global. Sekarang kita hidup di masa-masa sulit meski pemerintah mengklaim bahwa situasi masih terkendali. Tanda-tanda berakhirnya "Era Amerika" sudah kian jelas. Serangan keroyokan ala AS-Israel terhadap Iran membuktikan bahwa Amerika Serikat tidaklah sekuat yang dibayangkan. AS semakin melemah dan kelelahan. Jangkauan politik AS di dunia semakin melemah. Sekutu-sekutu AS bahkan satu persatu menolak permintaan AS untuk membantu menghadapi Iran. Ambisi global AS bahkan bisa dilawan oleh negara-negara kecil, seperti Korea Utara.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney bahkan mengatakan kepada Forum Ekonomi Dunia bahwa apa yang disebut tatanan global yang dipimpin AS telah runtuh, karena AS mengubah kekuasaan, perdagangan, dan paksaan menjadi alat dominasi. Ia mengatakan negaranya akan mengurangi ketergantungannya yang sudah lama pada AS dalam pengeluaran dan pengadaan militer. Ia berjanji untuk memperkuat industri dalam negeri dan memperluas kemitraan global. (sindonews. 12/4/2026)
Hubungan AS dengan Perancis juga mengalami kerenggangan. Presiden Prancis, Emmanuel Macron secara tegas menolak permintaan Presiden AS Donald Trump pada tahun 2026, terutama terkait ajakan bergabung dalam Board of Peace "Dewan Perdamaian" Gaza dan permintaan dukungan militer untuk membuka blokade di Selat Hormuz. Penolakan ini memicu ketegangan diplomatik.
Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Yang berpotensi menggagalkan perundingan adalah terkait Selat Hormuz dan nuklir. Sebanyak 15 poin perjanjian yang digagas Trump dilaporkan menuntut agar Iran mengakhiri seluruh pengayaan uranium di wilayah Iran. Sementara Iran meminta pengakuan internasional atas hak pengayaan uranium.(bbc.com, 11/4/2026)
Perlu diketahui bahwa AS adalah negara berideologi kapitalisme yang menjadikan penjajahan sebagai thariqah (metodenya). Jelas AS akan terus memaksakan hegemoni imperialisme untuk menekan negara-negara lain. Namun Iran nyatanya bukanlah negara yang mudah ditekan dan ditundukkan di meja perundingan apalagi di medan perang.
Padahal di dalam negeri AS gelombang protes masyarakat menjalar di dalam negeri AS. Trump dihadapkan oleh kemarahan rakyat yang sudah muak dengan kebijakan 'gila perang' Trump yang tanpa persetujuan Kongres AS. Jutaan massa turun ke jalan dalam aksi "No King". Rakyat marah karena pajak mereka justru digunakan untuk membiayai perang demi membela kepentingan Israel. Belum lagi utang AS telah menembus rekor fantastis, melampaui US$39 triliun (sekitar Rp661.000 triliun lebih) pada Maret 2026. (idnfinance.com, 20/3/2026)
Langkah Iran melakukan penutupan Selat Hormuz terhadap kapal AS, Isreal dan sekutu-sekutunya memang sangat berdampak bagi ekonomi AS dan sekutunya. Iran memberlakukan aturan selektif terhadap kapal-kapal dari negara lain melewati Selat Hormuz. Namun celakanya AS justru memblokade total Selat Hormuz yang jelas ini bukan hanya merugikan Iran tetapi juga AS dan kapal-kapal dari negara lain yang akan melintasi Selat Hormuz.
Selat Hormuz memang tempat strategis. Sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan produk minyak bumi setiap hari melewati Selat Hormuz. Ini setara dengan sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia dan lebih dari seperempat perdagangan minyak melalui laut.
Perang saat ini telah menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa satu negara negeri muslim nyatanya mampu mengguncang dunia. Kalaulah saja negeri-negeri muslim bersatu, melepaskan ketundukan mereka terhadap AS, tentu kesombongan AS dan Israel akan bisa diakhiri. Kebutuhan mendesak akan tatanan dunia baru dimana ideologi Islam yang memimpin dunia adalah keniscayaan yang tak terelakkan. AS yang mendeklarasikan diri sebagai polisi dunia jelas akan menghalangi munculnya kepemimpinan global baru yang akan menggeser dominasinya.
Sesungguhnya umat Islam lebih layak memimpin transformasi tatanan dunia baru dengan sistem Islam yang diwahyukan Ilahi yang membawa manusia keluar dari kesempitan keserakahan dan ketamakan materi, menuju keadilan Islam dan keluasan rahmat-Nya.
Sebagai negeri muslim yang berdiri melawan kesombongan AS-Israel, kita tentu berada di pihak Iran. Namun tak cukup itu, kita tentu berharap kemenangan yang diperoleh bukanlah kemenangan sementara, tetapi kemenangan hakiki yang hanya akan terwujud jika:
(1) Iran wajib mengikhlaskan diri hanya kepada Allah dalam peperangan ini, bukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan negara secara eksklusif, tetapi untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin;
(2) Iran menyatakan secara jelas dan tegas kepada seluruh dunia bahwa peperangan melawan Amerika dan entitas Yahudi bukanlah peperangan biasa, melainkan jihad fi sabilillah, yang dengannya ingin meninggikan kalimat Allah, mengalahkan musuh Allah, serta menjadikan Islam dan pemeluknya mulia, dan kekufuran serta para pengikutnya hina;
(3) Iran wajib menyeru seluruh negeri kaum muslimin, khususnya yang berdekatan seperti Pakistan, Afghanistan, Irak, Turki, Mesir, Suriah dan lainnya, untuk bersama Iran dalam jihad ini;
(4) Kita melihat Amerika dan sekutunya, entitas Yahudi, saat ini berada dalam kondisi lemah dan di ambang kekalahan, maka janganlah berhenti memukulnya hingga benar-benar lumpuh dan tidak dapat bangkit kembali. Adapun entitas Yahudi, wajib terus diserang hingga lenyap dari muka bumi, serta wajib membebaskan seluruh tanah Palestina yang diberkahi dan menyerahkannya kepada umat Islam sebagai pemilik yang sah;
(5) Iran sebagai negeri kaum muslim yang telah memenuhi syarat untuk tegaknya Khilafah, wajib membaiat seorang Khalifah dengan cara yang sah, lalu mengajak seluruh negeri kaum Muslimin untuk bersatu di bawah Khilafah tersebut. Dengan itu, Iran bukan hanya dapat mengalahkan Amerika dan entitas Yahudi, tetapi dengan izin-Nya juga dapat mengalahkan seluruh musuh Islam dan mengembalikan Khilafah sebagai kekuatan dunia untuk keduakalinya. Iran bukan hanya akan didukung oleh umat Islam, tetapi juga akan mendapatkan pertolongan dari Allah, Tuhan manusia, Tuhan seluruh alam dan kehidupan yang telah berjanji menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.
Jika Iran melakukan semua itu, maka benar-benar akan terwujud kemenangan. Umat Islam akan kembali menjadi umat terbaik. Iran tidak hanya dikenang oleh umat Islam, tetapi oleh seluruh manusia, sejarah akan mencatatnya sebagai penolong agama Allah, yang layak mendapatkan surga-Nya.
Namun, jika Iran kembali berdamai dan bekerja sama dengan musuh Allah, Amerika, membiarkan entitas Yahudi terus eksis dan menzalimi umat Islam serta tetap berbangga dengan negara-bangsa yang diciptakan penjajah, maka urusan terserah kepada Allah. Allah bisa jadi akan mengganti dengan kaum lain yang akan diberi kemenangan dan kemuliaan untuk mengalahkan musuh-musuh-Nya, membebaskan umat Islam dan wilayahnya serta menegakkan Khilafah-Nya:
“Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu” [Muhammad (47): 38]. Dan itulah sebaik-baik kemenangan dan kemuliaan di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam bishawab.***