DATARIAU.COM - Kata siapa perang telah usai? Di zaman digitalisasi saat ini, justru perang semakin agresif dilancarkan oleh ahli genosida dunia, Israel yang disponsori sekutunya Amerika. Sejak Oktober 2023 lalu, Gaza digempur hingga hancur. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil berakhir menjadi debu di bawah corong rudal dan peluru (Antara, 4/5/2026).
Lalu penjajah mana yang lebih sadis dan psikopat dari Israel? Seburuk-buruknya penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia, tidak ada penjajah yang sanggup memaksa pribumi untuk membongkar makam korban jajahannya. Seperti halnya yang terjadi di Jenin, Tepi Barat. Jenazah Husein Assasa terpaksa dibongkar anaknya pasca beberapa jam dimakamkan. Ini terjadi lantaran lokasi pemakaman diklaim sebagai wilayah hunian baru oleh pemukim Israel. Pihak Israel mengancam apabila makam tidak dipindahkan oleh pihak keluarga, makam akan dihancurkan menggunakan alat berat (Minanews, 10/5/2026).
Perluasan wilayah Gaza yang diambil paksa oleh Israel juga semakin meluas. Menurut juru bicara Fatah, Munther Al Hayek, sebanyak 63 persen wilayah Gaza sekarang ini berada dibawah kendali pasukan Israel. Wilayah tersebut diisi dengan tank, pasukan, posisi militer, dan penghalang tanah Israel (Sindonews, 6/5/2026).
Bahkan PBB melalui Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyebut Gaza adalah tempat paling mematikan bagi para jurnalis saat peliputan berita dari sana. Setidaknya sudah 300 jurnalis yang meregang nyawa dihantam rudal dan peluru Israel sejak Oktober 2023. Badan PBB ini juga mendesak komunitas internasional agar melakukan tindakan nyata untuk menghentikan serangan Israel yang telah memakan korban sebanyak 72.736 korban jiwa dan 172.535 korban luka-luka (AntaraBali, 4/5/2026).
Apapun kecamannya, nyatanya Israel tetap melenggang melanjutkan serangan. Bahkan di tengah kesepakatan gencatan senjata sekalipun, amunisi Zionis Israel tidak pernah libur merenggut nyawa manusia Gaza. Bagi mereka, siapa pun di Gaza adalah ancaman yang harus dimusnahkan, tak pandang laki-laki dan perempuan, tua, muda, dan anak-anak, termasuk para jurnalis. Sebab jurnalis membahayakan posisi mereka di mata dunia. Kamera wartawan tidak lebih berbahaya daripada senjata Hamas atau Hizbullah di Lebanon. Karena akan menjadi saksi bisu atas kekejaman yang selama ini mereka lakukan.
Penjajahan Israel adalah masalah yang melanda dunia zaman ini. Israel sebagai sebuah institusi negara telah dengan sengaja merencanakan untuk merampas tanah hak kaum muslim. Merampas dengan kekerasan sampai melakukannya di luar nalar, yakni genosida atas muslim Gaza. Tentu saja selain ini adalah masalah agama bagi kaum muslim, juga menjadi masalah kemanusiaan bagi non muslim. Tidak seorangpun di muka bumi ini yang ingin dirampas hak hidupnya.
Bukankah negara-negara dengan mayoritas muslim sangat banyak? Bahkan mereka juga dipimpin oleh pemimpin yang juga seorang muslim? Tidakkah mereka tergerak untuk menolong Palestina? Alih-alih menolong saudaranya sendiri, para penguasa negeri-negeri kaum muslim justru bersekutu dengan pelaku genosida. Dukungan mereka nyata, mulai dari dukungan di atas kertas, masuk lingkaran BoP buatan penjajah, sampai dukungan menyediakan tempat untuk pangkalan senjata Amerika di negeri mereka. Sungguh memilukan. Penguasa negeri muslim malah menjadi kanibalis bagi daging saudara mereka sendiri. Atas nama nasionalisme, Palestina hanyalah seonggok wilayah yang berusaha mati-matian memperjuangkan negeri mereka dalam kesendiriannya. Sementara saudara mereka di negeri lain hanya menjadi penonton dengan kecaman kosong belaka.
Lihatlah Iran, meski mereka mampu menciutkan nyali Israel dan Amerika, tapi tetap saja mereka hanya mampu membela sebatas negerinya sendiri. Maka ingatlah, semua perlawanan sudah dikerahkan untuk menghentikan kebrutalan Israel. Kecaman, peringatan, perjanjian damai, boikot produk Israel, pengiriman bantuan dari darat maupun lautan oleh relawan internasional, solusi dua negara, bahkan perlawanan militer negara seperti Iran. Apakah Israel jera? Tidak.