Dalam pandangan Islam, masalah mendasar bangsa ini bukan sekadar korupsi, kebijakan salah arah, atau elit yang serakah. Semua itu hanyalah gejala dari satu penyakit utama: kita meninggalkan aturan Allah dan menggantinya dengan aturan buatan manusia yang penuh kepentingan.
Islam tidak hanya datang untuk mengatur ibadah atau urusan pribadi. Ia adalah sistem hidup lengkap (nizham al-hayah) yang mencakup politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hingga hubungan internasional. Aturan ini bersumber dari wahyu, sehingga bebas dari kepentingan golongan atau individu.
Kekuasaan adalah amanah, bukan alat mencari keuntungan pribadi. Pemimpin wajib mengurus rakyat dengan adil, karena kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Sumber daya alam adalah milik umum dan dikelola negara untuk kepentingan seluruh rakyat, bukan diserahkan ke swasta atau asing. Hal ini mencegah monopoli dan memastikan semua orang mendapat manfaat.
Distribusi kekayaan diatur dengan mekanisme syariah, sehingga jurang si kaya dan si miskin tidak melebar. Hukum berlaku sama untuk semua, tanpa pandang bulu, sehingga tidak ada privilese atau orang yang kebal hukum seperti di sistem kapitalis.
Jika pemimpin menjalankan syariat Islam, maka dia akan mampu menjaga keadilan, melindungi rakyat dari penjajahan, dan mengelola kekayaan alam untuk kesejahteraan semua, tidak akan ada lagi kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir elit.
Harga kebutuhan pokok terjangkau karena distribusi dan pengelolaan sumber daya dikontrol negara untuk rakyat. Pendidikan dan kesehatan menjadi hak yang dijamin negara, bukan barang dagangan sebagaimana dalam sistem kapitalisme.
Politik luar negeri bersifat independen, tidak tunduk pada kepentingan asing. Inilah yang disebut kemerdekaan sejati, bebas dari campur tangan asing, bebas dari cengkeraman oligarki.
Bendera One Piece yang dikibarkan sebagian rakyat adalah jeritan hati yang ingin dilihat, didengar, dan direspons. Namun, kemerdekaan yang diimpikan tidak akan terwujud hanya dengan simbol atau protes sesaat.
Perubahan sejati hanya akan datang ketika umat bersama-sama meninggalkan sistem kapitalisme dan berjuang menegakkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Perjuangan ini bukan sekadar politik praktis, tapi dakwah yang mengajak umat kembali kepada aturan Allah, aturan sesuai Sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, ramai-ramai meninggalkan dosa, maksiat dan perbuatan zhalim.
Jika masyarakat sudah memperbaiki diri maka secara otomatis pemimpin di masa yang akan datang sesuai dengan keadaan masyarakatnya. Sebab, pemimpin adalah gambaran dari yang dipimpin, jika rakyatnya baik maka pemimpin yang dipilih pastinya juga dari kalangan yang baik, demikian sebaliknya, jika masyarakat rusak maka mereka akan mendudukkan pemimpin yang rusak juga.
Ketika syariat Islam sudah dijalankan mulai dari individu masyarakat hingga oleh pimpinan negara, maka negeri ini tidak lagi sekadar merdeka di atas kertas, tetapi merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Keadilan, kesejahteraan dan keberkahan dapat dirasakan seluruh warga negara. Wallahu a'lam bisshowab.***