PEKANBARU, datariau.com - Upaya mempercepat eliminasi tuberkulosis (TBC) di Provinsi Riau terus didorong. Anggota Komisi IX DPR RI dr. Maharani meminta penguatan deteksi dini dan skrining TBC dilakukan secara masif agar penemuan kasus dapat dipercepat dan target Indonesia Bebas Tuberkulosis Tahun 2030 bisa diwujudkan.
Hal tersebut disampaikan dr. Maharani saat mendampingi Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Benjamin Paulus Okta dalam penyerahan bantuan 21 unit Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau di RSUD Arifin Achmad, Selasa (4/8/2026).
Bantuan Portable X-Ray dari Kementerian Kesehatan tersebut menjadi salah satu langkah strategis untuk memperluas akses skrining dan diagnosis dini TBC. Teknologi ini diharapkan mampu menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pemeriksaan kesehatan.
Baca juga:Percepat Eliminasi TBC, Wamendagri Wiyagus Minta Desa Siaga di Bogor Rampung Pertengahan 2026
dr. Maharani menegaskan, TBC masih menjadi salah satu tantangan besar dalam sektor kesehatan nasional. Karena itu, upaya eliminasi penyakit tersebut tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan, tetapi membutuhkan kepemimpinan yang kuat, kolaborasi lintas sektor serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.
“Kita harus memperkuat deteksi dini. Jangan sampai masyarakat datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah berat. Skrining aktif harus diperluas agar kasus TBC bisa ditemukan dan ditangani sedini mungkin,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Riau dalam memperkuat penanggulangan TBC. Sejumlah langkah yang telah dilakukan di antaranya penguatan Laboratorium BSL-2/BSL-2+ RSUD Arifin Achmad, pemanfaatan Portable X-Ray serta pengembangan metode diagnostik cepat berbasis NPOCT TB.
Baca juga:Mendagri Tito: Kunci Utama Penanganan TBC Adalah Keseriusan Kepala Daerah
Meski demikian, dr. Maharani menilai angka penemuan kasus TBC di Riau masih perlu terus ditingkatkan. Menurutnya, keberadaan Portable X-Ray harus diikuti dengan strategi skrining aktif yang menyasar kelompok dan kawasan berisiko tinggi.
Skrining tersebut, kata dia, dapat dilakukan di kawasan padat penduduk, wilayah industri, lembaga pemasyarakatan hingga daerah terpencil.
“Alatnya sudah ada, tetapi harus benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Kita perlu mendatangi kantong-kantong masyarakat yang berisiko, melakukan skrining secara aktif, kemudian memastikan mereka yang terindikasi mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan,” ujarnya.
Baca juga:BPOM Buka Peluang Produksi Obat TNI untuk Malaria-TBC
Menurut dr. Maharani, penguatan penanganan TBC juga tidak berhenti pada pengadaan peralatan. Ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, dukungan anggaran untuk pemeliharaan alat serta sistem monitoring yang berkelanjutan menjadi faktor penting agar bantuan tersebut dapat memberikan dampak maksimal.
Sebagai Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Maharani menyatakan akan terus mengawal kebutuhan Provinsi Riau dalam upaya memperkuat program eliminasi TBC. Dukungan tersebut antara lain mencakup penguatan laboratorium BSL-2/BSL-2+, penyediaan reagen dan logistik TBC, penambahan Portable X-Ray serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta menyampaikan bahwa percepatan penanganan TBC merupakan amanah Presiden Republik Indonesia dan Menteri Kesehatan. Karena itu, seluruh pihak diminta bergerak bersama untuk mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TBC.
Baca juga:Siti Fadilah Supari Sebut Indonesia Tidak Butuh Vaksin TBC
Plt. Gubernur Riau SF Hariyanto turut mengapresiasi dukungan pemerintah pusat melalui penyerahan 21 unit Portable X-Ray tersebut. Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan mampu mempercepat proses penemuan kasus sekaligus penegakan diagnosis TBC, termasuk masyarakat yang berada di pelosok desa.
Dengan dukungan peralatan, penguatan tenaga kesehatan dan kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Provinsi Riau diharapkan mampu meningkatkan cakupan skrining serta mempercepat penanganan penderita TBC.
Penyerahan Portable X-Ray ini pun diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPR RI, tenaga kesehatan, dunia usaha dan masyarakat.
Baca juga:Kemenkes Ungkap Alasan Indonesia Ikut Uji Coba Vaksin TBC
Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci untuk memutus rantai penularan TBC sekaligus mempercepat langkah menuju target besar Indonesia Bebas Tuberkulosis Tahun 2030.***