KAMPAR, datariau.com - Video yang memperlihatkan kondisi sebuah sekolah dasar berdinding triplek di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, viral di media sosial dan memicu perhatian publik.
Sekolah yang disebut telah berdiri sejak 19 Juli 2004 itu menjadi sorotan karena kondisi bangunannya masih sangat sederhana. Dalam video yang beredar, terlihat dinding bangunan yang menggunakan triplek, atap seng, serta fasilitas belajar yang terbatas.
Video tersebut dibuat oleh seorang guru bernama Romawati. Dalam rekaman itu, Romawati meminta perhatian pemerintah daerah agar kondisi bangunan sekolah tempatnya mengajar mendapat perhatian dan diperbaiki.
Namun, setelah video tersebut viral, persoalan itu berkembang menjadi polemik. Wakil Bupati Kampar Misharti mendatangi Romawati dan menyampaikan keberatannya terhadap video yang telah beredar luas.
Pertemuan antara Wakil Bupati Kampar dan guru tersebut kemudian ikut menjadi perhatian publik setelah rekamannya juga beredar di media sosial.
Guru Tunjukkan Kondisi Sekolah
Dalam video awal yang dibuatnya, Romawati memperlihatkan kondisi bangunan sekolah yang menurutnya sudah lama membutuhkan perhatian.
Ia menyampaikan bahwa sekolah tersebut telah berdiri sejak 19 Juli 2004. Namun, setelah puluhan tahun digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, kondisi bangunannya masih menggunakan material sederhana, termasuk dinding triplek.
"Dengan ini saya memohonkan kepada bapak Kepala Daerah Kabupaten Kampar untuk membantu bangunan sekolah kami ini pak. Yang mana sekolah ini telah berdiri dari tanggal 19 Juli 2004 sampai saat ini ya seperti inilah keadaannya," ujar Romawati dalam video tersebut, sebagaimana diberitakan DetikSumut.
Dalam rekaman itu, bagian luar bangunan terlihat memiliki sejumlah bagian dinding yang mengalami kerusakan.
Sementara di dalam ruang kelas terlihat meja kayu, kursi plastik dan lemari penyimpanan buku yang kondisinya sederhana.
Romawati juga menjelaskan keterbatasan tenaga pengajar. Menurut keterangannya dalam video, terdapat dua guru yang mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6.
Enam tingkat kelas tersebut kemudian dibagi ke dalam tiga ruang belajar.
"Di sini kami mengajar 6 kelas dengan 2 orang guru dari kelas 1 sampai 6 dibagi 3 kelas. Jadi satu ruangan kami mengajar 3 kelas," kata Romawati.
Romawati Minta Perhatian Pemerintah
Dalam video tersebut, Romawati tidak hanya memperlihatkan kondisi fisik bangunan, tetapi juga menyampaikan bahwa sekolah tersebut telah melahirkan sejumlah alumni.
Ia menyebut ada alumni yang telah melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan bekerja di berbagai bidang, antara lain hukum, kebidanan dan teknik komputer.
Pernyataan itu disampaikan untuk menunjukkan bahwa meskipun fasilitas sekolah terbatas, kegiatan pendidikan tetap berlangsung dan telah menghasilkan lulusan.
Video tersebut kemudian menyebar di media sosial dan mendapat perhatian masyarakat.
Wakil Bupati Kampar Datangi Guru
Setelah video viral, Wakil Bupati Kampar Misharti mendatangi Romawati untuk mengetahui secara langsung persoalan yang terjadi.
Dalam pertemuan tersebut, Misharti menyampaikan keberatan karena video yang dibuat Romawati dinilai dapat menimbulkan persepsi bahwa pemerintah daerah tidak peduli terhadap kondisi pendidikan.
Dalam rekaman pertemuan yang beredar, Misharti mempertanyakan mengapa persoalan tersebut baru muncul ke publik setelah sekolah berdiri selama puluhan tahun.
"Ini sekolah ibu bikin dengan swadaya, udah beberapa tahun, dah 20 tahun tiba-tiba ibu nongol salahkan pemerintah. Jadi kita juga enggak terima sebenarnya," ujar Misharti dalam rekaman yang diberitakan DetikSumut.
Misharti juga mengatakan pemerintah tidak ingin masyarakat memiliki persepsi bahwa pemerintah daerah menutup mata terhadap kondisi sekolah tersebut.
"Saya enggak enak saja bu, karena yang dididik ini anak-anak kita masyarakat Kampar. Orang berprasangka beda dengan ibu, orang berprasangka pemerintah ini tutup mata, tidak peduli. Padahal kan tidak," katanya.
Ternyata Bukan Sekolah Induk
Di tengah polemik tersebut, muncul fakta penting mengenai status sekolah.
Sekolah yang diperlihatkan Romawati ternyata bukan sekolah induk yang berdiri sendiri. Sekolah tersebut merupakan kelas jauh dari SD Negeri 007 Sungai Agung, Kecamatan Tapung.
Status sebagai kelas jauh menjadi salah satu penjelasan mengenai mengapa keberadaan bangunan tersebut selama ini tidak banyak diketahui publik.
Sejumlah laporan menyebut pemerintah daerah baru mengetahui secara luas keberadaan dan kondisi kelas jauh tersebut setelah video Romawati viral.
Wakil Bupati Kampar Misharti juga mempertanyakan mengapa sekolah tersebut tidak mendapat pembenahan pada pemerintahan sebelumnya.
Menurut keterangan Misharti yang diberitakan sejumlah media, kelas jauh tersebut selama ini tidak dilaporkan secara langsung sebagaimana sekolah induk. Karena itu, pemerintah daerah disebut tidak mengetahui kebutuhan bangunan di lokasi tersebut.
Guru Akhirnya Beri Klarifikasi
Setelah bertemu dengan Wakil Bupati Kampar, Romawati kemudian memberikan klarifikasi mengenai video yang sebelumnya viral.
Dengan mengenakan pakaian Korpri, Romawati menjelaskan bahwa sekolah yang ditampilkan dalam video merupakan kelas jarak jauh dari SD Negeri 007.
"Saya ibu Romawati, saya mau klarifikasi video saya yang sempat viral yang mana SD yang kemarin viral di media TikTok itu SD 007 sebenarnya bukan SD Induk, SD kita SD kelas jarak jauh Gunung Sejati," ujar Romawati dalam video klarifikasinya, sebagaimana diberitakan DetikSumut.
Klarifikasi tersebut menjadi bagian penting dari polemik yang berkembang setelah video pertama beredar.
Sebab, video awal lebih banyak menampilkan kondisi bangunan dan permohonan bantuan kepada pemerintah daerah, sementara setelah polemik muncul Romawati menjelaskan mengenai status sekolah sebagai kelas jauh.
Berdiri Sejak 2004
Berdasarkan sejumlah laporan, kelas jauh tersebut telah digunakan sejak 19 Juli 2004.
Artinya, fasilitas pendidikan tersebut telah melayani masyarakat sekitar selama lebih dari dua dekade.
Keberadaan kelas jauh memiliki fungsi penting bagi masyarakat yang tinggal jauh dari sekolah induk. Dengan adanya kelas tersebut, anak-anak di sekitar lokasi dapat memperoleh pendidikan dasar tanpa harus selalu menempuh perjalanan jauh menuju sekolah induk.
Namun, persoalan yang kemudian menjadi sorotan adalah kondisi fisik bangunan serta keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar yang diperlihatkan dalam video.
Pemerintah Mulai Turun Tangan
Viralnya video tersebut akhirnya mendorong pemerintah daerah melakukan pengecekan terhadap kondisi sekolah.
Sejumlah laporan menyebut Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kampar kemudian turun meninjau kondisi kelas jauh tersebut.
Dalam perkembangan berikutnya, pemerintah daerah menyatakan akan melakukan penanganan terhadap bangunan tersebut, termasuk rencana pembangunan ruang kelas permanen.
Dengan demikian, polemik yang bermula dari video seorang guru tersebut akhirnya membuka perhatian lebih luas terhadap keberadaan kelas jauh dan kebutuhan fasilitas pendidikan di wilayah Kecamatan Tapung.