DATARIAU.COM - Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Ia tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, tetapi juga mengatur hubungan antar sesama manusia, termasuk perkara cinta. Dalam pandangan Islam, cinta bukanlah sesuatu yang tercela, apalagi dihapuskan. Sebaliknya, cinta adalah fitrah yang Allah Ta’ala tanamkan dalam hati manusia, agar dengannya kehidupan menjadi tenang, harmonis, dan penuh makna.
Namun, Islam tidak membiarkan fitrah cinta berjalan tanpa arah. Cinta harus dibimbing oleh wahyu agar tidak berubah menjadi sebab kerusakan akhlak, kehancuran kehormatan, dan jauhnya seorang hamba dari Allah. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara konsep cinta dalam Islam dan konsep cinta yang ditawarkan oleh budaya-budaya luar, termasuk tradisi Valentine.
Valentine kerap dipromosikan sebagai hari kasih sayang. Namun, di balik kemasan romantis tersebut, tersimpan nilai, sejarah, dan praktik yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Karena itu, penting bagi kaum Muslimin untuk memahami bahwa Islam tidak anti-cinta, tetapi justru memuliakan cinta, tanpa harus mengikuti Valentine.
Cinta sebagai Fitrah yang Dimuliakan
Islam memandang cinta sebagai bagian dari fitrah penciptaan manusia. Fitrah ini bukan untuk dipadamkan, melainkan diarahkan agar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri supaya kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (Q.S. Ar-Rum : 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta yang dimuliakan oleh Allah adalah cinta yang membawa sakinah (ketenangan), mawaddah (rasa cinta), dan rahmah (kasih sayang). Ketiganya tumbuh dalam ikatan yang halal dan bertanggung jawab, yaitu pernikahan. Inilah bentuk cinta yang dijaga, dirawat, dan diberkahi dalam Islam.
Islam Menjaga Kehormatan Cinta
Islam tidak hanya memerintahkan kebaikan, tetapi juga menjaga kehormatan manusia dengan menutup jalan-jalan yang mengantarkan kepada kerusakan. Hal ini tampak jelas dalam cara Islam menjaga kesucian cinta.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra’ : 32)
Larangan ini bukan hanya terhadap zina itu sendiri, tetapi juga terhadap segala sarana yang mendekatkannya. Pacaran, khalwat, ikhtilat tanpa batas, serta ungkapan cinta yang melampaui syariat termasuk perkara yang harus dihindari. Semua ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga agar cinta tidak ternodai oleh dosa.
Valentine dalam Timbangan Syariat
Valentine bukan sekadar momentum mengekspresikan kasih sayang, melainkan sebuah tradisi yang lahir dari budaya dan keyakinan non-Islam. Ia tidak dikenal dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, maupun generasi terbaik umat ini.
Dalam Islam terdapat prinsip penting, yaitu larangan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (H.R. Abu Dawud dan Ahmad, disahihkan Syaikh Al-Albani)
Merayakan Valentine, memberikan hadiah khusus, atau ikut menyemarakkan simbol-simbolnya termasuk bentuk penyerupaan terhadap tradisi yang bukan berasal dari Islam. Padahal, seorang muslim telah dimuliakan dengan identitas dan syariat yang sempurna.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum merayakan ‘Id al-Hubb (Valentine). Beliau menjawab, “Merayakan Hari Valentine tidak boleh, karena ia termasuk hari raya orang-orang kafir, dan karena bertentangan dengan akhlak mulia yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta dapat menyebabkan hati bergantung kepada selain Allah dan menyebarkan perbuatan keji” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 16/199).
Dengan demikian, menahan diri dari perayaan Valentine bukanlah bentuk kekakuan, melainkan wujud ketaatan dan kecintaan kepada agama. Cinta yang sejati dalam Islam tidak dibatasi oleh satu hari tertentu, tetapi diwujudkan setiap waktu melalui akhlak yang baik, tanggung jawab, serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.