Tradisi Valentine yang Merendahkan Cinta

datariau.com
229 view
Tradisi Valentine yang Merendahkan Cinta

Keteladanan Cinta Para Sahabat

Generasi sahabat adalah teladan terbaik dalam memahami dan mempraktikkan cinta sesuai tuntunan wahyu. Mereka mencintai dengan penuh adab, kesucian, dan tanggung jawab.

Kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Fathimah radhiyallahu ‘anha adalah contoh nyata. Ali mencintai Fathimah, namun tidak menempuh jalan yang melanggar syariat. Dengan penuh rasa malu dan adab, ia datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan niat menikah. Pernikahan mereka berlangsung sederhana, tetapi dipenuhi keberkahan dan keteladanan.

Demikian pula kisah Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika beliau menikah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menanyakan berapa besar hartanya, melainkan mendoakannya dan bersabda, “Semoga Allah memberkahimu, adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari tuntunan yang mulia ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan ungkapan cinta dan kebahagiaan dengan cara yang sederhana, penuh keberkahan, dan bernilai ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengarahkan para sahabat kepada perayaan yang berlebih-lebihan, tetapi kepada doa yang baik, nasihat yang lembut, serta pelaksanaan syariat sesuai kemampuan.

Cinta para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak diukur dengan perayaan tahunan, melainkan dengan kesungguhan dalam menaati Allah dan Rasul-Nya, menjaga amanah, serta menunaikan tanggung jawab dengan penuh keikhlasan. Inilah bentuk cinta yang paling tulus yaitu cinta yang menuntun kepada ketaatan, menghadirkan ketenangan, dan mengundang keberkahan dalam kehidupan.

Islam Memuliakan Cinta Setiap Saat


Islam tidak mengenal cinta yang dibatasi oleh satu hari tertentu. Cinta dalam Islam hadir setiap waktu, dalam bentuk berbakti kepada orang tua, menyayangi pasangan, mendidik anak-anak, membantu sesama, dan mencintai karena Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (H.R. Tirmidzi, disahihkan Syaikh Al-Albani)

Inilah bukti bahwa Islam memuliakan cinta dalam bentuk yang nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar ungkapan sesaat atau simbol tahunan. Cinta dalam Islam hidup dalam keseharian: dalam tutur kata yang baik, sikap saling memahami, pengorbanan, serta usaha menjaga keharmonisan keluarga. Dengan meneladani Rasulullah, cinta menjadi jalan menuju ketenangan, keberkahan, dan rida Allah Ta’ala.

Wahai kaum Muslimin, marilah kita jujur pada diri sendiri. Kita tidak membutuhkan Valentine untuk membuktikan cinta. Kita memiliki Islam, agama yang memuliakan cinta dengan cara yang paling suci dan paling bermartabat.

Mari kita jaga hati, pandangan, dan langkah kita agar tetap berada di atas jalan yang diridai Allah. Jadikan cinta sebagai sarana ketaatan, bukan jalan menuju maksiat. Arahkan rasa cinta kita kepada hal-hal yang Allah cintai, niscaya cinta itu akan menjadi sebab kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita pemahaman yang lurus, menjaga hati-hati kita dari fitnah syahwat dan syubhat, serta menganugerahkan cinta yang suci, halal, dan penuh keberkahan.

“Ya Allah, hiasilah hati kami dengan iman, dan jadikanlah cinta kami karena-Mu dan pada perkara yang Engkau ridai.”

Wallahu a’lam bish-shawab.***

Penulis: Fitri Nuryanto, S.M.
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
Artikel asli: buletin.muslim.or.id

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)