Tradisi Valentine yang Merendahkan Cinta

datariau.com
227 view
Tradisi Valentine yang Merendahkan Cinta

DATARIAU.COM - Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Ia tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, tetapi juga mengatur hubungan antar sesama manusia, termasuk perkara cinta. Dalam pandangan Islam, cinta bukanlah sesuatu yang tercela, apalagi dihapuskan. Sebaliknya, cinta adalah fitrah yang Allah Ta’ala tanamkan dalam hati manusia, agar dengannya kehidupan menjadi tenang, harmonis, dan penuh makna.

Namun, Islam tidak membiarkan fitrah cinta berjalan tanpa arah. Cinta harus dibimbing oleh wahyu agar tidak berubah menjadi sebab kerusakan akhlak, kehancuran kehormatan, dan jauhnya seorang hamba dari Allah. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara konsep cinta dalam Islam dan konsep cinta yang ditawarkan oleh budaya-budaya luar, termasuk tradisi Valentine.

Valentine kerap dipromosikan sebagai hari kasih sayang. Namun, di balik kemasan romantis tersebut, tersimpan nilai, sejarah, dan praktik yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Karena itu, penting bagi kaum Muslimin untuk memahami bahwa Islam tidak anti-cinta, tetapi justru memuliakan cinta, tanpa harus mengikuti Valentine.

Cinta sebagai Fitrah yang Dimuliakan


Islam memandang cinta sebagai bagian dari fitrah penciptaan manusia. Fitrah ini bukan untuk dipadamkan, melainkan diarahkan agar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri supaya kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (Q.S. Ar-Rum : 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa cinta yang dimuliakan oleh Allah adalah cinta yang membawa sakinah (ketenangan), mawaddah (rasa cinta), dan rahmah (kasih sayang). Ketiganya tumbuh dalam ikatan yang halal dan bertanggung jawab, yaitu pernikahan. Inilah bentuk cinta yang dijaga, dirawat, dan diberkahi dalam Islam.

Islam Menjaga Kehormatan Cinta


Islam tidak hanya memerintahkan kebaikan, tetapi juga menjaga kehormatan manusia dengan menutup jalan-jalan yang mengantarkan kepada kerusakan. Hal ini tampak jelas dalam cara Islam menjaga kesucian cinta.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra’ : 32)

Larangan ini bukan hanya terhadap zina itu sendiri, tetapi juga terhadap segala sarana yang mendekatkannya. Pacaran, khalwat, ikhtilat tanpa batas, serta ungkapan cinta yang melampaui syariat termasuk perkara yang harus dihindari. Semua ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga agar cinta tidak ternodai oleh dosa.

Valentine dalam Timbangan Syariat


Valentine bukan sekadar momentum mengekspresikan kasih sayang, melainkan sebuah tradisi yang lahir dari budaya dan keyakinan non-Islam. Ia tidak dikenal dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, maupun generasi terbaik umat ini.

Dalam Islam terdapat prinsip penting, yaitu larangan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (H.R. Abu Dawud dan Ahmad, disahihkan Syaikh Al-Albani)

Merayakan Valentine, memberikan hadiah khusus, atau ikut menyemarakkan simbol-simbolnya termasuk bentuk penyerupaan terhadap tradisi yang bukan berasal dari Islam. Padahal, seorang muslim telah dimuliakan dengan identitas dan syariat yang sempurna.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum merayakan ‘Id al-Hubb (Valentine). Beliau menjawab, “Merayakan Hari Valentine tidak boleh, karena ia termasuk hari raya orang-orang kafir, dan karena bertentangan dengan akhlak mulia yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta dapat menyebabkan hati bergantung kepada selain Allah dan menyebarkan perbuatan keji” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 16/199).

Dengan demikian, menahan diri dari perayaan Valentine bukanlah bentuk kekakuan, melainkan wujud ketaatan dan kecintaan kepada agama. Cinta yang sejati dalam Islam tidak dibatasi oleh satu hari tertentu, tetapi diwujudkan setiap waktu melalui akhlak yang baik, tanggung jawab, serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Keteladanan Cinta Para Sahabat

Generasi sahabat adalah teladan terbaik dalam memahami dan mempraktikkan cinta sesuai tuntunan wahyu. Mereka mencintai dengan penuh adab, kesucian, dan tanggung jawab.

Kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Fathimah radhiyallahu ‘anha adalah contoh nyata. Ali mencintai Fathimah, namun tidak menempuh jalan yang melanggar syariat. Dengan penuh rasa malu dan adab, ia datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan niat menikah. Pernikahan mereka berlangsung sederhana, tetapi dipenuhi keberkahan dan keteladanan.

Demikian pula kisah Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika beliau menikah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menanyakan berapa besar hartanya, melainkan mendoakannya dan bersabda, “Semoga Allah memberkahimu, adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari tuntunan yang mulia ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan ungkapan cinta dan kebahagiaan dengan cara yang sederhana, penuh keberkahan, dan bernilai ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengarahkan para sahabat kepada perayaan yang berlebih-lebihan, tetapi kepada doa yang baik, nasihat yang lembut, serta pelaksanaan syariat sesuai kemampuan.

Cinta para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak diukur dengan perayaan tahunan, melainkan dengan kesungguhan dalam menaati Allah dan Rasul-Nya, menjaga amanah, serta menunaikan tanggung jawab dengan penuh keikhlasan. Inilah bentuk cinta yang paling tulus yaitu cinta yang menuntun kepada ketaatan, menghadirkan ketenangan, dan mengundang keberkahan dalam kehidupan.

Islam Memuliakan Cinta Setiap Saat


Islam tidak mengenal cinta yang dibatasi oleh satu hari tertentu. Cinta dalam Islam hadir setiap waktu, dalam bentuk berbakti kepada orang tua, menyayangi pasangan, mendidik anak-anak, membantu sesama, dan mencintai karena Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (H.R. Tirmidzi, disahihkan Syaikh Al-Albani)

Inilah bukti bahwa Islam memuliakan cinta dalam bentuk yang nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar ungkapan sesaat atau simbol tahunan. Cinta dalam Islam hidup dalam keseharian: dalam tutur kata yang baik, sikap saling memahami, pengorbanan, serta usaha menjaga keharmonisan keluarga. Dengan meneladani Rasulullah, cinta menjadi jalan menuju ketenangan, keberkahan, dan rida Allah Ta’ala.

Wahai kaum Muslimin, marilah kita jujur pada diri sendiri. Kita tidak membutuhkan Valentine untuk membuktikan cinta. Kita memiliki Islam, agama yang memuliakan cinta dengan cara yang paling suci dan paling bermartabat.

Mari kita jaga hati, pandangan, dan langkah kita agar tetap berada di atas jalan yang diridai Allah. Jadikan cinta sebagai sarana ketaatan, bukan jalan menuju maksiat. Arahkan rasa cinta kita kepada hal-hal yang Allah cintai, niscaya cinta itu akan menjadi sebab kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita pemahaman yang lurus, menjaga hati-hati kita dari fitnah syahwat dan syubhat, serta menganugerahkan cinta yang suci, halal, dan penuh keberkahan.

“Ya Allah, hiasilah hati kami dengan iman, dan jadikanlah cinta kami karena-Mu dan pada perkara yang Engkau ridai.”

Wallahu a’lam bish-shawab.***

Penulis: Fitri Nuryanto, S.M.
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
Artikel asli: buletin.muslim.or.id

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)