DATARIAU.COM - Sebentar lagi Ramadhan akan menghampiri. Berbagai kondisi hati menanti bulan yang suci. Ada yang berbahagia, ada pula yang diliputi gunda gulana. Sebagian berbahagia karena bulan penuh ampunan itu kembali tiba dan ia bercita-cita akan bisa beribadah semaksimal mungkin di dalamnya.
Sebagian pula ada yang gunda gulana, karena Ramadhan tiba banyak hal yang hilang dari dirinya, baik yang telah kehilangan anggota keluarga, bisa pula yang kehilangan mata pencaharian.
Ada juga yang berbahagia karena di musim Ramadhan jualannya akan laku keras, berbagai usaha perdagangan sangat menjanjikan, sehingga yang ia persiapkan menjelang masuk Ramadhan adalah modal yang banyak dan stok barang dagangan yang melimpah untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, karena Ramadhan momen langka untuk meraup keuntungan melimpah.
Sekarang jujur pada diri sendiri, dimana hati kita, apakah kita senang karena Ramadhan datang dan kita bisa melaksanakan ibadah terbaik di dalamnya, atau malah senang karena bisa meraih keuntungan besar harta duniawi di bulan tersebut? Kita bukan sekali dua kali melalui Ramadhan, momen itu berulang dan terulang lagi, ketika kita kembali dihadapkan dengan dekatnya Ramadhan, mungkin kita sudah berpuluh kali menjumpainya, namun suasana hati kita semua ketika mengalami kembali situasi ini boleh jadi berbeda-beda.
Sebagian orang terus bermunajat dan mempersiapkan diri, berharap ia masih memiliki sisa waktu untuk bertemu lagi dengan bulan ini. Sebagian lainnya mungkin ada yang merasa kalau semakin ke sini, suasana Ramadhan semakin kurang berkesan. Boleh jadi ada banyak faktornya.
Seharusnya bulan Ramadhan setiap tahun sama saja: sama-sama spesial, mulia, dipenuhi beragam keutamaan. Di antara sekian banyak faktor rasa tidak berkesan itu, bolehkah kita menduga bahwa salah satu sebabnya adalah mungkin karena kita ini memang sudah tidak lagi merindukan Ramadhan? Lisan boleh saja menyebut-nyebut kerinduan akan kedatangannya. Namun coba tanyakan lagi pada diri sendiri, masih jujurkah kerinduan kita pada bulan Ramadhan?
Pilihan untuk jujur pada diri sendiri tentu patut diapresiasi. Kita perlu menyadari masalah yang sedang kita alami, barulah kemudian kita dapat berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jika setelah bertanya kepada diri sendiri, memang dirasa kalau kita ini masih belum merindukan Ramadhan atau masih ragu apakah kita rindu atau tidak kepadanya, mungkin kita perlu kembali berkenalan dari awal dengan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan.
Bulan turunnya Al Qur’an
Saking banyaknya keutamaan dan keberkahan pada bulan spesial ini, mungkin tulisan kecil ini hanya dapat menyebutkan sebagiannya saja. Di antara keutamaan besar bulan Ramadhan telah termaktub dalam firman Allah Ta’ala,
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Q.S. Al-Baqarah : 185).
Allah Ta’ala menurunkan Al-Qur’an -pedoman hidup kita- pada bulan Ramadhan di lailatul qadar. Al-Qur’an adalah sumber hidayah yang mengantarkan seluruh manusia menuju kebenaran. Barangsiapa menyaksikan kehadiran bulan ini dalam keadaan sehat dan mukim, hendaklah ia berpuasa pada siang harinya. Selain itu, terdapat kemudahan bagi orang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa, namun mereka harus mengqadha yang sesuai dengan jumlah hari itu. (Tafsir Al-Muyassar hal. 28)
Bulan hidayah
Ayat ini mengandung perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Ini menjadi dalil wajibnya puasa Ramadhan. Perlu diingat bahwa semua perintah Allah itu didasari oleh hikmah dan kasih sayang kepada para hamba-Nya. Puasa mengajarkan arti kesabaran kepada kita. Ibadah ini mengajarkan betapa besarnya manfaat mengontrol diri, tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari berbagai bentuk kemaksiatan.
Banyak sekali saudara kita yang kesehariannya mengalami ketergantungan pada perbuatan maksiat. Mereka sebenarnya sudah lelah dan ingin sekali untuk berhenti karena memang kemaksiatan itu tak berguna, paling-paling hanya mendatangkan kesenangan semu sekejap saja. Namun, mereka merasa tak mampu untuk melakukannya. Kemudian di bulan Ramadhan mereka mendapat hidayah dari Allah dengan menyadari bahwa sebenarnya mereka punya kekuatan untuk menahan diri, menyadari kalau mereka masih punya harapan untuk merdeka dan mengambil alih kontrol diri dari ketergantungan pada maksiat yang sama sekali tak berguna itu. Lihatlah, atas taufiq dari Allah, Ramadhan telah menjadi jalan awal mereka untuk meraih versi terbaik dirinya.
Tidak hanya sampai di situ saja, Allah pun menjanjikan kita dengan berbagai macam keutamaan lainnya yang tak kalah harganya jika kita mau beribadah dengan ikhlas di bulan Ramadhan ini.
Bulan penuh ampunan dan waktu mustajab doa
Pada setiap malam bulan Ramadhan, ada kesempatan untuk dibebaskan dari siksa neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam (bulan Ramadhan).” (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani).
Bulan Ramadhan juga termasuk waktu dikabulkannya doa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR Al Bazzar, Al-Haitsami menilai perawinya tsiqah).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.”. (H.R. At Tirmidzi, beliau menilai hadits ini hasan). Berdasarkan redaksi hadits di atas, setiap waktu di bulan Ramadhan adalah waktu dikabulkannya doa.