Wajib Tahu! Ini Kumpulan Amalan Nisfu Syaban

datariau.com
174 view
Wajib Tahu! Ini Kumpulan Amalan Nisfu Syaban
Ilustrasi. (Foto: Int.)

DATARIAU.COM - Kini kita tengah bernaung di bawah rembulan Sya’ban, sebuah bulan agung yang acapkali terlupa di antara dua bulan mulia. Padahal, inilah musim di mana lembaran-lembaran amal kita terangkat kepada Allah Ar-Rahman.

Di ufuk waktu, terbentang di hadapan kita sebuah malam yang sarat keutamaanyakni Malam Nisfu Sya’ban, sang pertengahan bulan yang dirindukan.

Inilah laksana pengetuk kalbu yang terakhir, sebuah panggilan lembut untuk bersegera berbenah diri, sebelum kita melangkah memasuki gerbang kemuliaan bulan

Malam Ampunan Telah Datang


Turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia bukanlah sesuatu yang khusus terjadi pada malam Nisfu Sya’ban saja, tetapi juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim serta lainnya bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir. Maka malam Nisfu Sya’ban termasuk dalam keumuman hadis tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Namun, pandangan (perhatian) Allah pada malam Nisfu Sya’ban ini bersifat khusus, karena mengandung kabar gembira yang agung sebagaimana disebutkan dalam hadis ini yaitu ampunan dan rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, malam ini merupakan salah satu kesempatan terbesar untuk membersihkan noda-noda hati, melepaskan diri dari dosa, dan meninggalkan keburukan.

Tanyakan pada Diri: Apakah Kita Termasuk yang Terhalang dari Ampunan Allah?


Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan dalam hadis di atas ada dua orang yang tidak mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala, yaitu: musyrik (orang yang menyekutukan Allah) dan musyahin (orang yang menyimpan permusuhan terhadap saudaranya).

Penghalang Pertama: Musyrik


Dosa menyekutukan Allah (syirik) adalah dosa yang tidak akan Allah ampuni jika pelakunya tidak bertaubat sebelum kematiannya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S. An-Nisa : 48)

Yakni orang yang mati dalam kesyirikan dan belum bertobat maka tidak ada kemungkinan ampunan atas dosa syiriknya. Adapun orang yang selain pelaku syirik seperti pelaku kemaksiatan dari kalangan orang-orang Islam maka mereka dibawah kehendak Allah; Allah menghendaki akan mengampuninya dan mengazab orang yang Dia kehendaki, akan tetapi Allah juga mengabarkan bahwa Dia mengampuni dosa-dosa kecil selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar).

Penghalang Kedua: Musyahin


Para ulama berbeda pendapat terkait makna musyahin, namun pedapat kebanyakan ulama bahwa musyahin adalah orang yang berseteru, membenci, atau memusuhi seorang muslim tanpa alasan syar’i (karena dorongan agama). Adapun memusuhi seseorang karena alasan yang dibenarkan agama maka ini diperbolehkan.

Apa yang Harus Kita Lakukan Malam Nisfu Sya’ban ini?


Mentauhidkan Allah dan Menjauhi Perbuatan Syirik


Amalan ini adalah syarat paling mendasar untuk mendapatkan ampunan Allah. Seseorang harus memastikan tauhidnya murni dan bersih dari segala bentuk kesyirikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu Allah mengampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan (syahna’). Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah (ampunan untuk) kedua orang ini sampai mereka berdamai’.” (H.R. Muslim)

Membersihkan Hati dari Permusuhan dan Kedengkian


Amalan ini adalah tentang memperbaiki hubungan dengan sesama muslim, memaafkan, dan menghilangkan rasa benci atau dendam dari dalam hati. Hadis dari Abu Musa di atas juga mengecualikan “musyahin” (orang yang bermusuhan). Demikian pula hadis Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Allah melihat kepada makhluk-Nya, lalu mengampuni orang-orang beriman, menangguhkan (azab) orang-orang kafir, dan membiarkan orang-orang yang pendengki dengan kedengkian mereka sampai mereka meninggalkannya.” (H.R. At-Thabarani, dihasankan oleh Al-Albani)

Menyambung Tali Silaturahim


Amalan ini berkaitan erat dengan poin sebelumnya, yaitu memperbaiki hubungan, khususnya dengan kerabat. Berdasarkan perkataan tabi’in, ‘Atha bin Yasar rahimahullah:

“Tidak ada malam setelah Lailatulqadr yang lebih utama daripada malam Nisfu Sya’ban. Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia, lalu mengampuni semua hamba-Nya, kecuali orang musyrik, orang yang bermusuhan (bertengkar), atau orang yang memutuskan tali silaturahmi” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, 3/499).

Memperbanyak Doa Secara Umum


Malam Nisfu Sya’ban dipandang sebagai salah satu waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) oleh sebagian ulama. Meskipun demikian tidak ada doa khusus yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga keutamaan ini masuk dalam keumuman memperbanyak doa di waktu malam hari. Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (H.R. Muslim)

Menghidupkan Malam dengan Ibadah (Secara Individu)


Ini adalah amalan yang dilakukan oleh sebagian ulama salaf (tabi’in), yaitu memperbanyak ibadah secara umum seperti salat malam, membaca Al-Qur’an secara pribadi di rumah masing-masing, tanpa mengkhususkan surat tertentu seperti Yasin dan salat tertentu.

Imam Ibnu As-Shalah rahimahullah berkata dalam sebuah fatwa beliau: “Adapun malam Nisfu Sya’ban, ia memiliki keutamaan. Menghidupkannya dengan ibadah adalah mustahab (dianjurkan), akan tetapi secara sendiri-sendiri, bukan dengan berjamaah…” (Al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits, Abu Syamah Al Maqdisi).

Ibnu Rajab berkata dalam Latha’if Al-Ma’arif: Malam Nisfu Sya’ban, dahulu para tabi’in dari penduduk Syam seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin ‘Amir, dan lainnya, mereka mengagungkannya dan bersungguh-sungguh di dalamnya dalam beribadah. Dan dari merekalah orang-orang mengambil keutamaan dan pengagungannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan: “Dan adapun malam Nisfu Sya’ban, sungguh telah diriwayatkan hadis-hadis dan atsar mengenai keutamaannya. Dan dinukil dari sekelompok Salaf bahwa mereka dahulu salat di malam itu. Maka, salatnya seseorang di malam itu secara sendirian, telah ada salaf yang mendahuluinya dan ia memiliki hujah (argumen) untuk itu, maka perbuatan seperti ini tidaklah diingkari” (Majmu’ al-Fatawa, 23/131).

Dan ibadah salat malam ini adalah salat malam secara umum bukan salat khusus. Imam Al-Nawawi rahimahullah berkata, “Salat yang dikenal dengan salat al-Raghaib yaitu 12 rakaat yang ditunaikan antara Magrib dan Isya pada awal malam Jumat di bulan Rajab dan salat malam nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, kedua salat ini bidah yang mungkar dan jelek. Jangan terpedaya dengan disebutkannya kedua jenis salat itu di kitab Qut al-Qulub dan Ihya’ Ulum al-Dien serta jangan juga terpedaya dengan adanya hadis yang menyebutkan tentang kedua salat tersebut karena semuanya itu batil” (Al-Majmu’, 4/56).

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)