DATARIAU.COM - Sungguh sangat mudah manusia di zaman ini menzalimi orang lain, baik secara sengaja maupun tidak sengaja karena sudah terbiasa. Kezaliman yang paling banyak dilakukan adalah mengambil harta orang lain tanpa haq seperti meminjam uang tapi tidak dikembalikan alias utang tidak dibayar, meminta uang jatah kepada kalangan lemah dengan mengandalkan kekuasaannya, dan bentuk kezaliman lainnya yang sangat mengkhawatirkan.
Padahal, Allah Ta’ala mengharamkan kezaliman. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,
يا عِبَادِي، إني حَرمتُ الظلمَ علَى نَفسِي، وَجَعَلتُهُ بينَكُم مُحَرَمًا، فلا تَظَالَمُوا
”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Akupun jadikan kezaliman itu di antara kalian sebagai sesuatu yang haram. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577).
Bagi kamu yang masih melakukan kezaliman, ingatlah selalu salah satu firman Allah Ta’ala,
وَلَا تَحسَبَن اللهَ غَافِلًا عَما يَعمَلُ الظلِمُونَ ەۗ اِنمَا يُؤَخرُهُم لِيَومٍ تَشخَصُ فِيهِ الاَبصَارُۙ
“Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42).
Pada hari itu, Allah Ta’ala tegakkan keadilan dan Allah Ta’ala berikan setiap hak kepada pemilik sebenarnya. Sungguh Allah Mahaadil, benar-benar tidak akan menzalimi siapapun; bahkan seekor hewan ternak sekalipun akan diadili karena seekor hewan lainnya yang tanduknya patah karena dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
لَتُؤَدن الحُقُوقَ إلى أهلِها يَومَ القِيامَةِ، حتى يُقادَ لِلشاةِ الجَلحاءِ، مِنَ الشاةِ القَرناءِ
“Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya mengingatkan kita semua dari bahaya perbuatan zalim ini. Di antaranya beliau bersabda,
اتقُوا الظلمَ ؛ فإن الظلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ
”Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim no. 2578).
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
إن اللهَ عز وجل يُملِي لِلظالِمِ، فإذا أخَذَهُ لَم يُفلِتهُ، ثُم قَرَأَ وكَذلكَ أخذُ رَبكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إن أخذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ
“Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” Selanjutnya beliau membaca ayat, “Dan begitulah azab Rabb-mu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (HR. Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583).
Lihatlah bagaimana hukuman dan keadilan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang berbuat zalim di akhirat kelak. Allah Ta’ala ambil kebaikan dan pahala orang yang berbuat zalim untuk diberikan kepada orang-orang yang telah dizaliminya. Jika kebaikannya telah habis atau ia tidak memiliki kebaikan, maka ia akan menanggung dosa-dosa orang yang telah ia zalimi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَن كَانَت له مَظلِمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرضِهِ أَو شيءٍ، فَليَتَحَل?'َلهُ منه اليَومَ، قَبلَ أَن لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرهَمٌ، إن كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدرِ مَظلِمَتِهِ، وإن لَم تَكُن له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه
“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, (nanti pada hari kiamat) apabila dia memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449).
Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنِ اقتَطَعَ حَق امرِئٍ مُسلِمٍ بيَمِينِهِ، فقَد أَوجَبَ اللهُ له النارَ، وَحَرمَ عليه الجَنةَ فَقالَ له رَجُلٌ: وإن كانَ شيئًا يَسِيرًا يا رَسُولَ اللهِ قالَ: وإن قَضِيبًا مِن أَرَاكٍ
“Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan neraka untuknya, dan mengharamkan surga atasnya.” Maka seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang sepele?” Beliau menjawab, “Meskipun itu hanya kayu siwak.” (HR. Muslim no. 137).
Marilah wahai saudaraku, segeralah meminta maaf, menunaikan hak-hak yang tertunda untuk orang-orang yang pernah kita zalimi, mintalah keikhlasan sebelum hari kiamat itu datang. Hari di mana tidak berguna lagi penyesalan, harta, dan apapun yang kita miliki.
Kezaliman adalah nama yang mencakup seluruh perkara keji, buruk, dan tindakan semena-mena. Kezaliman wahai hamba Allah adalah kegelapan yang dapat mengubah kondisi dan menghancurkan sebuah bangsa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وكَذلكَ أخذُ رَبكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إن أخذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ
“Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.” (QS. Hud no. 102).
Sungguh kezaliman merupakan salah satu dosa dan kemaksiatan yang pelakunya telah mendapatkan ancaman di dunia ini tanpa mengurangi hukumannya di akhirat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ما مِن ذَنبٍ أجدَرُ أن يُعجلَ اللهُ تعالى لصاحبِهِ العُقوبةَ في الدنيا، مع مايدخِرُ له في الآخِرةِ، مِثلُ البَغيِ، وقَطيعةِ الرحِمِ.
“Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah Ta’ala percepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, selain apa yang Allah siapkan baginya di akhirat, daripada perbuatan zalim dan memutus kekerabatan.” (HR. Abu Daud no. 4092, Tirmidzi no. 2511, Ibnu Majah no. 4211, dan Ahmad no. 20374).
Tidakkah takut orang-orang yang berbuat kezaliman dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wasiatnya kepada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
واتقِ دَعوَةَ المَظلُومِ؛ فإنه ليسَ بينَهُ وبينَ اللهِ حِجَابٌ
”Takutlah engkau dengan doa orang yang dizalimi. Karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19).
Sungguh doa orang yang terzalimi merupakan salah satu doa yang paling mustajab. Jika ia mendoakan keburukan bagi orang yang menzaliminya, maka sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk mengabulkannya.
Bahkan apabila yang terzalimi tersebut adalah orang yang tidak beragama Islam atau orang yang fasik dan gemar bermaksiat sekalipun, maka Allah sangat mudah untuk mengabulkannya dan tidak ada penghalang antara doanya tersebut dengan Allah Ta’ala. Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan,
دعوةُ المظلومِ مُستجابةٌ ، وإن كان فاجرًا ففُجورُه على نفسِه
“Doa orang yang dizalimi itu mustajab dan sangat mudah dikabulkan, sekalipun doa tersebut dari orang yang jahat. Karena kejahatannya itu memudharatkan dirinya (tanpa memengaruhi keterkabulan doa tadi).” (HR. Ahmad no. 8781 dan At-Thayaalisi no. 2450).
Mungkin banyak dari kaum muslimin yang tangannya selamat dari merampas harta orang lain, hingga kemudian ia mengira bahwa dirinya telah bebas dan selamat dari perbuatan zalim dan selamat juga dari doa orang orang terzalimi. Dia lupa bahwa kezaliman memiliki beragam bentuk; ada kezaliman terhadap sanak famili dan saudara, ada juga kezaliman terhadap anak sendiri dan istri.
Oleh karena itu, bertakwalah wahai saudaraku, berlakulah adil dan bijaksana dalam setiap tanggung jawab yang kita pikul, lemah lembutlah kepada anak-anak kita, kepada istri kita, dan kepada tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar kita.
Jangan sampai, amal kebaikan dan pahala yang telah susah payah kita kumpulkan dan kita kerjakan di dunia ini hilang dengan mudahnya dan berpindah tangan kepada orang-orang yang telah kita zalimi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
تَعَوذوا باللهِ مِنَ الفَقرِ والقِلةِ، والذلةِ، وأن تَظلِمَ أو تُظلَمَ.
“Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari kefakiran, merasa kurang dan kehinaan, berbuat zalim atau dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1544, An-Nasa’i no. 5461, Ibnu Majah no. 3842 dan Ahmad no. 10973).
Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat zalim dan semena-mena, berikanlah kami kebijaksanaan dalam bertindak dan karuniakanlah kami keadilan dalam setiap tindakan yang kami lakukan.
Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.***
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: Muslim.or.id