DATARIAU.COM - Engkau mungkin tersenyum hari ini. Merasa tenang. Merasa aman. Merasa berhasil karena pundi-pundi rupiah terus bertambah. Orang-orang masih diam, sebagian bahkan masih percaya. Mungkin engkau berpikir, “Tidak ada masalah. Semua baik-baik saja.”
Namun ketahuilah, tidak semua orang yang terzalimi memilih membalas. Tidak semua orang yang dibohongi ingin ribut, bertengkar, atau berdebat panjang denganmu. Sebagian memilih diam. Sebagian memilih menangis. Sebagian memilih pergi.
Dan sebagian lagi memilih jalan yang paling mengerikan bagi seorang pelaku kezaliman:mengadukan semuanya kepada Allah Azza wa Jalla.
Ketika manusia tidak lagi ingin memperpanjang perdebatan denganmu, bisa jadi itu bukan karena mereka kalah. Bisa jadi mereka menyerahkan seluruh urusannya kepada Dzat yang tidak pernah lalai, tidak pernah tidur, dan tidak pernah salah menghitung kezaliman manusia.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak.”QS. Ibrahim: 42
Ayat ini menjadi pengingat yang sangat dalam:Allah mungkin menunda hukuman, tetapi bukan berarti Allah membiarkan.
Ada orang yang tampak tenang setelah menipu manusia. Bisnisnya berkembang. Hartanya bertambah. Kehidupannya tampak nyaman. Tetapi ketahuilah,ketenangan setelah kezaliman belum tentu tanda keselamatan. Bisa jadi itu adalah penangguhan.
Baca juga:Mengerikan, Azab Untuk Pelaku yang Berbuat Zalim
Kezaliman yang Paling Menyakitkan: Ketika Kepercayaan Dikhianati
Tidak semua kehilangan harta terasa sama. Ada orang yang sedih bukan hanya karena uangnya hilang, tetapi karenakepercayaannya dihancurkan. Ia percaya kepadamu. Ia meyakini ucapanmu. Ia menyerahkan amanah kepadamu. Namun ternyata semua itu dijadikan alat untuk meraup keuntungan pribadi.
Islam memandang pengkhianatan amanah dan penipuan sebagai dosa besar. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”QS. Al-Anfal: 27
Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras tentang penipuan: “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan golongan kami.”HR. Muslim No. 102
Hadis ini sangat tegas. Dalam penjelasan para ulama, maksudnya bukan keluar dari Islam, namun menunjukkan bahwa menipu adalah perbuatan yang sangat tercela dan jauh dari kesempurnaan akhlak seorang Muslim.
Kejujuran adalah fondasi muamalah seorang Muslim. Harta yang diperoleh melalui dusta, manipulasi, dan pengkhianatan bukanlah keberkahan, melainkan sebab datangnya murka Allah.Kezaliman kepada sesama manusia termasuk dosa yang sangat berat, sebab berkaitan dengan hak manusia (huququl ‘ibad), bukan sekadar hak Allah semata.
Baca juga:Cara Meraih Ketenangan Hidup, Balaslah Keburukan Orang Dengan Kebaikan
Ketika Orang yang Dizalimi Tidak Membalas, Tetapi Berdoa kepada Allah
Mungkin hari ini engkau merasa menang. Karena orang-orang tidak melawanmu. Mereka tidak memviralkan namamu. Tidak mempermalukanmu. Tidak datang memarahimu. Tetapi pernahkah engkau berpikir, bagaimana jika di tengah malam ada seseorang yang menengadahkan tangan sambil menangis karena kezhalimanmu?
Bagaimana jika ada seorang ayah yang kehilangan uang karena tertipu lalu berdoa: “Ya Allah, Engkau melihat apa yang dilakukan orang itu kepada kami. Kami serahkan urusan ini kepada-Mu.”
Atau seorang ibu yang dizalimi lalu menangis di sepertiga malam? Tahukah engkau betapa mengerikannya doa orang yang dizalimi?
Rasulullah ﷺ bersabda: “Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” HR. Bukhari No. 2448 dan Muslim No. 19
Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi.”HR. Abu Dawud, hasan
Hadis ini seharusnya membuat siapa pun gemetar. Karena mungkin engkau bisa menang dari manusia. Mungkin engkau bisa memutarbalikkan fakta. Mungkin engkau bisa membela diri dengan kata-kata. Tetapiengkau tidak akan pernah bisa menang melawan doa orang yang terzalimi jika Allah mengabulkannya.
Baca juga:7 Dampak Mengerikan Untuk Pelaku Zalim
Jangan Tertipu oleh Penangguhan Allah
Ada orang bertanya: “Kalau dia salah, kenapa hidupnya malah semakin kaya?” “Kenapa yang zalim tampak bahagia?”
Islam telah menjawab ini sejak lama. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada orang zalim. Namun apabila Allah telah menyiksanya, maka Allah tidak akan melepaskannya.” HR. Bukhari No. 4686 dan Muslim No. 2583
Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah: “Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh azab-Nya sangat pedih lagi keras.” QS. Hud: 102
Jangan salah mengira bahwa lancarnya rezeki selalu tanda ridha Allah. Bisa jadi itu istidraj: ketika Allah membiarkan seseorang terus menikmati dunia padahal dosanya semakin menumpuk.
Allah berfirman: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”QS. Al-A’raf: 182
Hari ini mungkin engkau merasa aman. Tetapi siapa yang bisa menjamin esok masih demikian? Bukankah hidup bisa berubah hanya dalam sekejap?
Baca juga:Jangan Berharap Balasan jika Memberi, Jadilah Orang yang Tahu Berterima Kasih Jika Diberi
Bahaya Besar: Kezaliman kepada Manusia Tidak Selesai Hanya dengan Taubat
Banyak dosa antara hamba dan Allah cukup dengan taubat yang tulus. Namun kezaliman kepada manusia berbeda. Ulama menjelaskan bahwa hak manusia harus dikembalikan. Jika engkau mengambil hak orang, engkau harus mengembalikannya. Jika engkau menipu, engkau harus memperbaiki. Jika engkau menyakiti, engkau harus meminta maaf dan menyelesaikan haknya.
Karena bila tidak selesai di dunia, maka perkara itu akan dibawa ke akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa pernah menzalimi saudaranya dalam hal kehormatan atau sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta halal darinya hari ini sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka amal itu akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki amal saleh, maka dosa orang yang dizalimi akan dipikulkan kepadanya.”HR. Bukhari No. 2449
Perhatikan baik-baik. Di akhirat tidak ada transfer bank. Tidak ada negosiasi. Tidak ada pengacara. Tidak ada pencitraan. Tidak ada lagi kata: “Maaf ya, saya khilaf.” Yang ada hanyalah pahala dan dosa.
Orang-orang yang pernah kau rugikan akan berdiri menuntut haknya. Satu demi satu. Mungkin orang miskin yang kau tipu. Mungkin sahabat yang kau khianati. Mungkin orang yang terlalu percaya kepadamu. Dan bayaran atas semua itu bukan uang, melainkan pahala yang selama ini susah payah engkau kumpulkan.